Melihatnya
merupakan keanehan pd diri ini yg belum terumuskan. Melihatnya bagaikan
kecenderungan hasrat yang begitu berkecamuk di dalam diri yang belum di tau
sumbernya, apakah ini dari suara hati untuk mengarahkan badan atau pikiran yang
masih berorientasi pd kecantikannya sehingga mata enggan berpaling. Sejenak pemahamanku
akan diri ini mulai eksis untuk menganalisis apa yang sebenarnya saya alami.
Di pondokan
teman yang begitu memperlihatkan ke optimisan untuk meraih ide-ide cemerlang
untuk mengawali langkah ini dari kegagalan sebelumnya untuk kembali menerjang
ketidakpastian visi. Dipondokan yang di lalui angin sepoi-sepoi dari beberapa
baju yg di jemur dan dengan lembaian baju mengarahkan diri ini teringat akan
sosok kehadirannya yang belum beberapa lama menjemur pakaiannya yang beda dari pakaian
yang sering saya lihat.