Saya selalu berpikir tentang
kepesimisan. Saya juga selalu merenung tentang penyesalan. Bahkan saya selalu
berpikir tentang masa depan yang seperti apa yang suatu saat saya jumpai. Terkadang
saya pesimistis dengan masa depan saya. Rasa pesimistis yang melanda saya
diakibatkan dari banyak faktor. Diantaranya diri saya yang tidak memperlihatkan
kemajuan sedikitpun. Hal itu terlihat jelas dari diri saya. Teman-teman yang
sudah melambung jauh dari saya sudah mulai merasakan sedikit lagi menuju final
dari bangku kuliah menuju dunia baru yang sama sekali baru. Dunia dimana mereka
akan menantang masa depan. Dunia yang dimana mereka tidak akan menjumpai lagi
pekerjaan rumah yang diberikan dosen sewaktu kuliah. Dunia yang dimana mereka akan
menyusun rencana yang lebih terarah untuk kehidupan yang lebih kompleks.
Penyesalan memang eksisnya dibelakang bagi setiap orang. Tidak ada
penyesalan yang muncul didepan setiap orang. Saya kemudian mengkaji diri saya,
apakah saya menemui penyesalan pada diri saya? Apakah saya dalam konteks ini
mengakui bahwa diri saya menyesal karena teman-teman saya sudah mengurus
skripsi sebagai simbol langkah terakhir mereka untuk mengakhiri perkuliahan
mereka dan mendapatkan gelar sarjana? Apakah saya begitu tidak memikirkan
jauh-jauh hari tentang simbol tersebut untuk kemudian saya bisa merasakan apa
yang mereka rasakan saat ini?