Apa yang saya alami saat ini mengantarkan saya pada kondisi
dimana saya inginn sekali menulis. Saya memahami tulisan ini demi perubahan
yang berarti. Perubahan yang tidak setengah-setengah. Perubahan yang terkadang
sudah saya lakukan sebelumnya tapi lagi-lagi Cuma panas-panas tai ayam atau
dalam istilahnya semangat pertama dan selanjutnya semangat itu buyar. Entah apa
yang membuat semangat itu cepat buyar atau hilang. Saya mungkin tidak pernah
mengidentifikasi apa penyebab yang membuat semangat itu cepat hilang atau
buyar. itulah kekurangan saya manakala saya dihadapkan pada situasi seperti
itu.
Saya kembali mengingat akan masa-masa dimana saya memasuki
awal kehidupan yang baru. Saya berhadapan dengan situasi yang baru. Yaitu masa-masa
saya menginjakan kaki di kost saudara kandung saya. disitulah awal baru untuk
memulai rutinitas baru. Saya kemudian melihat semuanya berjalan sangat biasa
tetapi sangat berefek ketika hari ini saya mengingatnya. Efeknya adalah
kontradiksi yang membuat saya, memaksa saya untuk terus merasa dunia ini sangat
tidak adil. Dunia yang kemudian saya desain dengan ketidakadilan buat saya.
ketidakadilan yang saya konstruksi sedemikian rupa yang kemudian saya
menyalahkan dunia.
Saya harus akui kelakuan saya lah yang membentuk persepsi
bahwa dunia ini tidak adil. Mungkin bagi orang
lain, dunia ini sangat indah. Terlebih pemahaman saudara kandungku itu.
dunia dimana orang-orang mendesain sendiri kehidupannya, dan kemudian mengklaim
desain yang dibuatnya dengan gambaran yang diinginkan sesuai dengan persepsi
akan apa yang dialami. Bagi orang lain mungkin akan mengatakan kamu yang
mendesain sendiri duniamu, dan tidak bisa kamu mengatakan dunia tidak adil
buatmu. Kamu yang salah bukan dunia karena dunia itu adalah materi yang kamu
gerakan dengan upaya-upayamu sendiri.
Orang lain sering mengatakan bahwa dunia terus berputar,
waktu tidak akan mengerti dengan keadaan kita. Waktu terus berjalan tanpa
mengenal siapa orang yang ingin curhat demi sebuah pengharapan akan kesedihan
dan nasibnya sejenak mendengar keluh
kesahnya. Waktu terus berjalan dan tak akan berhenti. Waktu bagaikan anak panah
yang terus melesat tanpa menunda dan kemuidan melesat lagi. Dan anak panah itu kemudian pasti akan berhenti manakala
sudah mencapai target atau meleset dari target dan kemudian menancapkan
tajamnya pada sesuatu yang mengenainya. Dan disitulah anak panah yang kemudian
berhenti . sama halnya waktu, waktu akan berhenti, dan kiamat pun terjadi.
Waktu terus meleset jauh, sudah melewati zaman-zaman yang
tidak kita alami. Banyak zaman yang kemudian sudah menjadi sejarah yang oleh
ahli sejarah terus mengkaji kebenaran sejarah itu dan mengaitkan akan akibat
yang terjadi saat ini. Zaman-zaman terus berganti, dari zaman pra primitif,
memasuki masa perbudakan (feodalisme), zaman industialisasi mulai naik ke
permukaan yang terjadi di inggris pada abad peralihan dari abad pertengahan
memasuki zaman pencerahan. Selanjutnya memasuki zaman pergulatan pemikiran demi
sebuah visi untuk menemukan kebenaran. Waktu terus berjalan tak kenal lelah,
dan kemudian memasuki zaman keemasan islam sampai sekarang.
Kita akhirnya hanya mengakui kehebatan para pemikir dulu
yang kemudian kita tanpa susah payah duduk di rumah dengan nyaman menggunakan
perabot-perabot dari hasil penemuan-penemuan nenek moyang tanpa melihat dan
mengidentifikasi penyebab mereka termotivasi untuk menemukan barang-barang yang
bagi kita sangat mendukung aktivitas kita sekarang.
Waktu adalah keniscayaan yang terus berjalan dan akan
berhenti manakala Tuhan sudah berkehendak. Saat ini saya terus mengingat akan
hari-hari yang selama ini saya telah lewati satu persatu. Momen-momen yang
terkadang memaksa saya untuk tersenyum, bahkan moment-moment yang memaksa saya,
mengarahkan saya pada ruang dan waktu yang berbeda, dunia khayal yang berefek
pada bentuk wajah yang tidak memperlihatkan kebahagiaan. Emosional saya
bergejolak, emosi saya mengalami kurva tak menentu. Kadang netral, saat ini
menggambarkan status siaga dalam persepsi ahli BMKG ketika mengidentifikasi
diri saya dengan pendekatan ilmu geologi. Haaah...
Hidup itu indah. Itulah persepsi bagi manusia yang sudah
mencapai target dalam kehidupannya. Hidup itu indah, itulah perkataan salah
seorang teman yang telah mendapat gelar sarjana di univ. Swasta dimana kampus itu saya tidak suka karena
pihak kampusnya membuat kebijakan anggaran spp dengan tidak memikirkan
finansial mahasiswanya. Dan saya kembali memikirkan kesan-kesan, efek-efek apa
ketika saya kuliah di kampus swasta itu. saya belum pernah merasakan seperti
apa kampus swasta itu. karena saya selama ini hanya merasakan kehidupan kampus
negeri. Entah itu di uin alaudin makassar dan terkakhir di unhas. Manakala
kampus tersebut 2 dari 3 kampus negeri yang ada di kota makassar dan yang
satunya UNM. Terbesit dibenak lagi mau rasakan seperti apa kuliah di UNM.
Pikiran sangat rancu ya.. mengklaim bahwa kampus swasta itu
tidak bagus. Padahal bukan kampusnya yang tidak bagus, tetapi orang-orangnya
yang tidak bagus. Meskipun kuliah di kampus negeri tidak akan mendapatkan hasil
yang maksimal kalau orangnya tidak sungguh-sungguh mengimplementasikan arahan
orang tuanya untuk cepat selesai. Itukan sama saja nihil. Ada tujuan lain yang ingin di capai orang
tersebut mungkin. entah hanya ingin diakui kehebatannya karena berhasil lulus
di kampus negeri, padahal kelulusannya bukan dengan kerja kerasnya. Itu mungkin
salah satu ilustrasi dari pemahaman penulis terkait fenomena yang didapatkan
dalam mengaruhi kehidupan yang kompleks. Dan bukan menggeneralkan. Tetapi
mengingatkan akan orang-orang yang seperti itu supaya merekonstruksi lagi
niatnya dan pemahamannya.
Saya selalu akui bahwa waktu sangat berharga bagi setiap
orang ketika memaknai akan eksistensi waktu sebagai suatu fenomena yang sangat
penting dalam meraih target-target dalam kehidupannya tanpa unsur paksaan.
Mereka yang memahami bahwa eksistensi kebahagiaan yang akan dirasakannya itu
tidak terlepas dari target-target,manakala target dicapai eksislah kebahagiaan
tadi. Mungkin demi kenyamanan/kebahagiaan, targetlah yang berperan penting.
Apakah seperti itu. itulah pemahamanku melihat orang-orang yang sudah berhasil
mencapai targetnya atau sementara menjalani step
by step untuk mencapai target/impiannya.
Terkait dengan apa yang saya alami adalah fenomena yang
tidak asing lagi. Fenomena yang terbilang sangat biasa tetapi ternyata ketika
dalam kondisi saat ini (mengingat, merenung), begitu menguras emosional, dan
pikiranku. Kenapa saya seperti ini. Kenapa saya dari dulu tidak mengklaim diri
ini sudah berada pada tindakan yang sama sekali mengarahkan pada
pengalaman-pengalaman orang yang sudah nyaman? Apakah saya mampu melaluinya dan
kemudian bisa seperti mereka?
mungkin caranya yang efektif demi mengikis ketidaknyamanan ini dengan membuat terobosan baru. Dengan terobosan baru mungkin bisa meminimalisir keadaanku saat ini yang mulai tidak seimbang. Apakah dengan membuat terobosan baru itu bisa mengarahkan saya seperti apa yang mereka rasakan? Entahlah. Tetapi apa terobosan baru itu? konkritnya seperti apa? dari mana saya harus memulai? Apakah dari nol seperti yang dikatakan oleh orang-orang besar ketika memulai karirnya yang dengan kebulatan tekad berimplikasi pada naiknya nol menjadi 100? Haah..
intinya harus buat terobosan baru demi sebuah kenyamanan. Dan tidak mengeluh kepada diri sendiri lagi . semua akan indah jika dipahami konsekuensi indah dan penyebab indah itu. Insya Allah kita akan terus berjalan pada keadaan yang terus mengingatkan akan pentingnya hal-hal yang biasa ketika biasa dari sudut pandang anggapan orang. Dan ternyata dalam sudut pandang masa lalu sangat fundamental, sangat menguras emosional bahkan pikiran. Itulah konsekuensi dari semua hal yang kita lakukan. Konsekuensi yang terus ada konsekuensi. Suatu keindahan apabila kita terus memaknai semua yang kita saksikan dengan bantuan indra dan ada peran rasio dan hati sebagai faktor yang akan menjawab semua eksistensi kehidupan.
Salam Mahasiswa INDONESIA...
mungkin caranya yang efektif demi mengikis ketidaknyamanan ini dengan membuat terobosan baru. Dengan terobosan baru mungkin bisa meminimalisir keadaanku saat ini yang mulai tidak seimbang. Apakah dengan membuat terobosan baru itu bisa mengarahkan saya seperti apa yang mereka rasakan? Entahlah. Tetapi apa terobosan baru itu? konkritnya seperti apa? dari mana saya harus memulai? Apakah dari nol seperti yang dikatakan oleh orang-orang besar ketika memulai karirnya yang dengan kebulatan tekad berimplikasi pada naiknya nol menjadi 100? Haah..
intinya harus buat terobosan baru demi sebuah kenyamanan. Dan tidak mengeluh kepada diri sendiri lagi . semua akan indah jika dipahami konsekuensi indah dan penyebab indah itu. Insya Allah kita akan terus berjalan pada keadaan yang terus mengingatkan akan pentingnya hal-hal yang biasa ketika biasa dari sudut pandang anggapan orang. Dan ternyata dalam sudut pandang masa lalu sangat fundamental, sangat menguras emosional bahkan pikiran. Itulah konsekuensi dari semua hal yang kita lakukan. Konsekuensi yang terus ada konsekuensi. Suatu keindahan apabila kita terus memaknai semua yang kita saksikan dengan bantuan indra dan ada peran rasio dan hati sebagai faktor yang akan menjawab semua eksistensi kehidupan.
Salam Mahasiswa INDONESIA...
No comments:
Post a Comment