Pemilihan
umum presiden sudah di depan mata. Bursa kandidat yang berpeluang menjadi
nakhoda bangsa ini untuk lima tahun ke depan masih di isi oleh wajah-wajah
lama. Ada beberapa wajah baru yang muda dan cukup menjanjikan baik dari segi
elektabilitas maupun kualitas kepemimpinan. Hadirnya figur-figur alternatif
ini, harus diakui, menjadikan pemilu 2014 cukup menarik dan istimewa. Di tengah
fenomena golput yang persentasenya cukup signifikan dalam pemilu sebelumnya,
antusiasme pemilih untuk berpartisipasi dalam pilpres kali ini menurut data
yang dilansir oleh beberapa lembaga survey menunjukan peningkatan animo di
kalangan pemilih utamanya para pemilih muda.
Ada
beberapa alasan yang dapat menjelaskan perkembangan ini. Pertama, kaum muda sebagai
bagian dari segmen masyarakat yang kritis sangat merindukan kemimpinan yang
mampu membawa perubahan nyata. Kedua, elit-elit politik yang ada dinilai tidak
mampu menjawab ekspektasi publik yang sudah lelah dengan sandiwara dan dagelan politik
yang dimainkan para elit tersebut. Figur-figur yang mendududuki posisi puncak
dan posisi strategis lainnya dianggap tidak memiliki kualitas kepemimpinan
untuk mengatasi krisis yang membayangi bangsa saat ini. Kekecewaan ini dianggap
cukup berdasar karena para elit politik dinilai lebih mementingkan deal-deal yang sifatnya transaksional
ketimbang memikirkan kepentingan rakyat secara luas.