Sunday, 26 January 2014

Kembali ke diri sendiri



Kembali ke diri sendiri merupakan bahasa motivasi untuk mengarahkan kita untuk kemudian tidak menciplak atau mengombinasikan karakter diri dengan orang-orang yang mungkin menjadi inspirasi buat kita. Sebuah ilustrasi misalkan ketika melihat sosok yang begitu luar biasa dengan penampilan dipanggung ketika berretorika ditengah kerumuhan orang banyak dan sanggup memainkan perannya sebagai seorang orator sejati. Saya pernah mengalami suatu pengalaman melihat sosok yang menurut saya luar biasa pada saat beda buku di LT UIN Alaudin Makassar, yang diselenggarakan UKM LDK Al-Jami, dan pada saat itu diundang seorang mahasiswa dan juga sebagai Inspiring Motivator, Entrepreneur dan Penulis muda, yang bernama Asrul Fauzi, beliau kebetulan sedang membedah buku yang baru dikarangnya yang berjudul “terlanjur jadi mahasiswa mesti ‘gila’”. Disini saya tidak mengupas apa yang kemudian dibahasakan pada saat bedah buku tersebut tapi mengajak teman-teman untuk kemudian mengarahkan agar kembali ke diri masing-masing. Pada saat beliau sedang memberikan pemahaman tentang buku yang dibeda beliau sungguh luar biasa ketika beretorika dihadapan sekian banyak mahasiswa dengan lantang dan tidak terjebak pada hal-hal yang membuatnya gugup, takut, dan lain sebagainya. Saya sempat takjub dibuatnya dan sempat terlintas dipikiranku untuk bisa menjadi seperti dia. Menjadi seperti dia merupakan sesuatu kebanggaan buat saya yang nota bene saya sangat bertolak belakang dengan dia dalam konteks keberanian ketika berada di depan umum. Banyak cara aku coba dengan berlatih berbica seperti beliau, gaya dan bahasa tubuh yang persis sama seperti dia, bahkan orientasi hidup yang sempat disinggung beliau juga bahkan mengarahkan niatku untuk sama seperti sosok yang luar biasa itu.


Hari demi hari aku jalani dengan santai tanpa beban. Mulai dari kekampus dengan perasaan yang nyaman dan tentram, perasaan yang berkecamuk dengan semangat yang menggebu-gebu untuk tujuan yang mulia yaitu tiada lain untuk perubahan. Tibalah pada saat ketika saya berada di kampus tepatnya di ruangan tempat dosen mengajar. Pada saat itu kelompok kami yang sedang membawakan presentasi makalah, dan tak tahu kenapa saya sempat memberanikan diri untuk menjadi moderator pada saat presentasi makalah tersebut. yach.. karena terbayang sosok yang luar biasa kali ya sehingga mengantarkan saya pada keberanian? Hehehe..

Tapi seiring berjalannya diskusi saya sempat terhenyak oleh suasana yang tidak nyaman dan begitu berkecamuk di pikiran saya. dengan menggunakan metode yang persis seperti sosok yang menurut saya luar biasa itu, saya merasa kurang nyaman, pembawaan saya pendiam dengan berakting menjadi sosok yang ceria begitu ganjil dibenak saya. bahasa tubuh saya yang selalu kaku ketika berbicara dan pada saat itu saya sempat meniru gaya bahasa tubuh sosok inspiratifku tersebut shg membawa saya kepada kerancuan. Entah apa sebenarnya yang terjadi pada saat itu, kenapa seperti ini. Keberanian sudah aku tempatkan pada kondisi yang sebenarnya. Tapi entah kenapa pikiran selalu mengarah pada sesuatu yang ganjil bahkan kontradiksi antara hati dan tindakan?... pengalaman tersebut menurut saya untuk menjadi daftar agenda pemecahan masalahku. 

Suatu ketika juga pernah aku rasakan dengan tidak berlandaskan pemahaman tentang pentingnya memahami karakter seseorang. “saya pernah berpacaran dengan serang wanita yang menurut saya super dalam segala hal dan yang paling super adalah kecantikannya.. heheh.. wanita tersebut lebih tua dari saya. dan saya sifat saya yang dari sononya memang pendiam dan pemalu ketika dihadapkan pada situasi ketika banyak orang dan orang-orang tersebut belum saya kenal. Dan ketika itu saya diajak pacar saya untuk kerumahnya. Keluarga pacar saya adalah keluarga yang begitu percaya diri. Sepertinya, mereka segalanya bagi saya ketika mengetahui kami berpacaran. Tetapi kenyataannya tidak. saya berusaha sekuat tenaga menyukai mereka, tapi tidak bisa. Setiap usaha yang kemudian mereka lakukan untuk menarik saya keluar dari diri saya, hanya membuat saya semakin mengunci diri rapat-rapat. Saya menjadi gugup dan mudah tersinggung. Saya menghindari bertemu dengan teman, kondisi saya semakin memburuk bahkan saya merasa ketakutan saat mendengar bunyi sms pacar saya ! saya gagal. Saya tahu itu, dan saya takut kalau pacar saya mengetahui kondisi saya saat ini.

Jadi, setiap kali kami berada di depan umum, saya berpura-pura menjadi seorang teman, dan bahkan yang tidak kalah rancunya ketika saya melebih-lebihkan peran saya. saya tahu saya terlalu overacting; dan saya merasa sesudahnya merasa sengsara selama beberapa hari dengan kelakuanku yang berlebihan itu. Kemud  ian mengantarkan saya kepada kebingungan, pada akhirnya, saya tidak bahagia sehingga saya merasa tak ada gunanya memperpanjang hidup saya. saya mulai berpikir untuk bunuh diri.” Entah apa yang terjadi. Wallahu’alam.

Dari deretan kisah hidup saya diatas yang merupakan pengalaman yang sampai saat ini tidak akan saya lupakan dan merupakan momentum untuk membuat saya makin kuat dan sebagai batu loncatan buat saya untuk merubah kehidupan saya dari sebelumnya.

Menjadi sosok yang berbeda dengan pembawaan kita sejak kecil merupakan salah satu kekeliruan tentu tidak terlepas dari pengalaman saya ketika mengeluarkan statement seperti itu. Kenapa tidak? menjadi diri sendiri merupakan hal yang sulit jika tidak memahaminya lebih detail tentang diri kita sebenarnya. “Hal yang perlu saya lakukan awalnya adalah menjadi diri sendiri dengan melakukan studi tentang kepribadian saya. mencari tahu seperti apa karakter saya dan hal-hal yang membuat saya lemah dan kuat. Saya mempelajari semuanya tentang warna dan gaya saya. 

Mulai dari berbicara, gaya dan busana saya dengan cara saya sendiri, agar bisa menemukan jati diri saya. ibu saya pernah mengatakan kepada saya; “anton jangan ikut-ikut penampilan orang lain ya? Orang lain mungkin sudah kaya materi dan kamu jangan ikut-ikut bergaya seperti mereka. Karena mereka memang sudah memang orang tuanya kaya. Jika kamu ikut penampilannya serta karakternya itu sama saja membuat sensara orang tuamu yang serba pas-pasan ini”. Perkataan orang tuaku bukan saja mengandung makna materi tetapi dalam hal karakter  atau gaya untuk tidak disamakan dengan orang lain. 

Berawal dari keluar rumah, bertemu dengan teman sepergaulan membuat saya menjadi diri sendiri dengan berbicara apa adanya yang tak luput dari kesederhanaan. Dan tibalah saya pada suatu perkumpulan studi dalam rangka mengerjakan tugas kampus yang secara kelompok. Setiap kali saya berbicara, saya mendapat sedikit keberanian. Setalah saya sadari butuh waktu lama untuk tapi suatu perubahan yang luar biasa menurut saya yang dimana saya merasa bahagia dari sebelumnya. 

Dan seiring berjalannya waktu saya memahami karakter saya yang sebenarnya bahwa saya pendiam tapi dibalik pendiamku tersembunyi kekuatan yang harus diasah dengan pengetahuan untuk mengeluarkan kekuatan tersebut dengan pemahaman emosional, spiritual, intelektual yaitu dengan cara memahami karakter diri sendiri , hal-hal yang merupakan kelebihan dan bagaimana cara mengasah, serta hal-hal yang jelek dan bagaimana cara menghilangkan dengan step by step serta memahami karakter teman-teman disekeliling, dan orang-orang terdekat kita. Kesuksesan terbesar adalah ketika kita pandai membaca lingkungan dan tidak asal ikut tanpa memahaminya.  (guru motivatorku, ka eyang).

Dale Carnegie menulis sebuah buku dengan judul “How to Stop Worring and Start Living” mengatakan “kehidupan sedikit banyak tergantung dari bagaimana kita membentuknya. Dan buku selanjuta dari karangan Dale Carnegie (how get my self to sukses); mengatakan “jika kita belajar untuk menerima diri kita?, dengan cara melihat sisi kebaikan sama jelasnya dengan sisi yang kurang baik, maka otomatis kita akan sibuk melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk meraih cita-cita kita. Kemungkinan kita tidak akan punya banyak waktu memikirkan hilangnya waktu dan perasaan khawatir”. 

Tentu persoalan keengganan menjadi diri sendiri merupakan sumber tersembunyi dibalik banyak masalah neurosis dan psikosis kpoleks. Angelo Patri, seorang penulis pendidikan anak yang telah menghasilkan tiga belas buku dan ribuan artikel mengatakan: “tak ada seorang pun selain ia yang rindu menjadi seseorang atau sesuatu lebih dari apa yang ada dalam tubuh dan pikirannya.”. seperti apa yang dibahasakan Sam Wood, “bahwa yang paling aman adalah secepat mungkin menghilangkan kepura-puraan menjadi orang yang bukan diri sendiri.

Seorang putri dari seorang konduktor terpaksa harus belajar dengan cara yang sulit. Ia ingin sekali menjadi seorang penyanyi. Tapi wajahnya menjadi sumber kemalangannya. Mulutnya besar dan giginya menonjol. Ketika pertama kali bernyanyi di depan umum – disebuah klub malam di New Jersey, ia berusaha menarik mulut bagian atasnya kebawah untuk menutupi giginya. Dia berusaha bersikap “glamor”. Dan hasilnya? Dia menjadikan dirinya terlihat menggelikan. Dia sedang menuju kegagalan.

Namun, ada seoarng laki-laki di klub malam itu yang mendengar gadis bernyanyi. Ia merasa gadis itu punya bakat tertentu. “Coba lihat,”katanya terus terang, “saya sudah mengamati penampilan anda dan saya tahu apa yang anda coba sembunyikan. Anda merasa malu dengan gigi anda.” Gadis itu kelihatan malu, tetapi orang itu terus berkata, “ada apa dengan gigi itu? Apakah ada yang salah jika memiliki gigi yang menonjol? Jangan coba menyembunyikan! Buka mulit anda, dan penonton akan menyukai anda saat mereka melihat anda tidak malu. Selain itu, gigi yang anda coba sembunyikan bisa jadi membawa keberuntungan buat anda!”

Putri itu akhirnya menerima nasihatnya dan melupakan soal giginya. Sejak saat itu, ia hanya memikirkan audiens. Dia membuka mulutnya lebar-lebar dan bernyanyi dengan bersemangat dan bergembira sehingga ia menjadi seorang bintang top di berbagai film dan radio. Pelawak lain kini berusaha menjdi dirinya!.

William James, “separuh saja dari kita yang hanya memanfaatkan sebagian kecil dari sumber fisik dan mental kita. Jika dinyatakan secara luas, manusia hidup jauh di dalam batas-batas kemampuannya. Dia memiliki berbagai macam kekuatan yang biasanya, mereka gagal menggunakannya.”

Anda adalah sesuatu hal baru di dunia ini, berbahagialah dan manfaatkan apa yang diberikan Tuhan pada anda. Dalam sebuah analisis, semua seni bersifat otobiografis. Anda bisa menyanyikan apa adanya tentang diri anda. Anda bisa melukiskan apa adanya diri anda. Anda harus menjadi seseorang sebagaimana yang telah diberikan oleh pengalaman, lingkungan, dan keturunan anda. Baik buruknya, anda harus memupuk kebun kecil anda sendiri. Baik buruknya, anda harus memainkan instrument kecil anda sendiri dalam orchestra kehidupan. “ada waktunya dalam pendidikan setiap manusia, saat ia sampai pada keyakinan bahwa iri hati merupakan kebodohan, bahwa imitasi merupakan upaya bunuh diri; bahwa manusia harus membawa diri baik buruknya sesuai dengan bagiannya; bahwa meski alam semesta yang luas ini penuh kebaikan, tidak ada inti jagung bergizi yang bisa dating kepadanya, selain melalui kerja keras pada sebidang tanah yang diberikan kepadanya.(Emerson)

No comments:

Post a Comment