Kembali
ke diri sendiri merupakan bahasa motivasi untuk mengarahkan kita untuk kemudian
tidak menciplak atau mengombinasikan karakter diri dengan orang-orang yang
mungkin menjadi inspirasi buat kita. Sebuah ilustrasi misalkan ketika melihat
sosok yang begitu luar biasa dengan penampilan dipanggung ketika berretorika
ditengah kerumuhan orang banyak dan sanggup memainkan perannya sebagai seorang
orator sejati. Saya pernah mengalami suatu pengalaman melihat sosok yang
menurut saya luar biasa pada saat beda buku di LT UIN Alaudin Makassar, yang
diselenggarakan UKM LDK Al-Jami, dan pada saat itu diundang seorang mahasiswa
dan juga sebagai Inspiring Motivator, Entrepreneur dan Penulis muda, yang
bernama Asrul Fauzi, beliau kebetulan sedang membedah buku yang baru dikarangnya
yang berjudul “terlanjur jadi mahasiswa
mesti ‘gila’”. Disini saya tidak mengupas apa yang kemudian dibahasakan
pada saat bedah buku tersebut tapi mengajak teman-teman untuk kemudian
mengarahkan agar kembali ke diri masing-masing. Pada saat beliau sedang
memberikan pemahaman tentang buku yang dibeda beliau sungguh luar biasa ketika
beretorika dihadapan sekian banyak mahasiswa dengan lantang dan tidak terjebak
pada hal-hal yang membuatnya gugup, takut, dan lain sebagainya. Saya sempat
takjub dibuatnya dan sempat terlintas dipikiranku untuk bisa menjadi seperti
dia. Menjadi seperti dia merupakan sesuatu kebanggaan buat saya yang nota bene
saya sangat bertolak belakang dengan dia dalam konteks keberanian ketika berada
di depan umum. Banyak cara aku coba dengan berlatih berbica seperti beliau,
gaya dan bahasa tubuh yang persis sama seperti dia, bahkan orientasi hidup yang
sempat disinggung beliau juga bahkan mengarahkan niatku untuk sama seperti
sosok yang luar biasa itu.
Hari
demi hari aku jalani dengan santai tanpa beban. Mulai dari kekampus dengan
perasaan yang nyaman dan tentram, perasaan yang berkecamuk dengan semangat yang
menggebu-gebu untuk tujuan yang mulia yaitu tiada lain untuk perubahan. Tibalah
pada saat ketika saya berada di kampus tepatnya di ruangan tempat dosen
mengajar. Pada saat itu kelompok kami yang sedang membawakan presentasi
makalah, dan tak tahu kenapa saya sempat memberanikan diri untuk menjadi
moderator pada saat presentasi makalah tersebut. yach.. karena terbayang sosok
yang luar biasa kali ya sehingga mengantarkan saya pada keberanian? Hehehe..
Tapi
seiring berjalannya diskusi saya sempat terhenyak oleh suasana yang tidak
nyaman dan begitu berkecamuk di pikiran saya. dengan menggunakan metode yang
persis seperti sosok yang menurut saya luar biasa itu, saya merasa kurang
nyaman, pembawaan saya pendiam dengan berakting menjadi sosok yang ceria begitu
ganjil dibenak saya. bahasa tubuh saya yang selalu kaku ketika berbicara dan
pada saat itu saya sempat meniru gaya bahasa tubuh sosok inspiratifku tersebut
shg membawa saya kepada kerancuan. Entah apa sebenarnya yang terjadi pada saat
itu, kenapa seperti ini. Keberanian sudah aku tempatkan pada kondisi yang
sebenarnya. Tapi entah kenapa pikiran selalu mengarah pada sesuatu yang ganjil
bahkan kontradiksi antara hati dan tindakan?... pengalaman tersebut menurut
saya untuk menjadi daftar agenda pemecahan masalahku.
Suatu
ketika juga pernah aku rasakan dengan tidak berlandaskan pemahaman tentang
pentingnya memahami karakter seseorang. “saya pernah berpacaran dengan serang
wanita yang menurut saya super dalam segala hal dan yang paling super adalah
kecantikannya.. heheh.. wanita tersebut lebih tua dari saya. dan saya sifat
saya yang dari sononya memang pendiam dan pemalu ketika dihadapkan pada situasi
ketika banyak orang dan orang-orang tersebut belum saya kenal. Dan ketika itu
saya diajak pacar saya untuk kerumahnya. Keluarga pacar saya adalah keluarga
yang begitu percaya diri. Sepertinya, mereka segalanya bagi saya ketika mengetahui
kami berpacaran. Tetapi kenyataannya tidak. saya berusaha sekuat tenaga
menyukai mereka, tapi tidak bisa. Setiap usaha yang kemudian mereka lakukan
untuk menarik saya keluar dari diri saya, hanya membuat saya semakin mengunci
diri rapat-rapat. Saya menjadi gugup dan mudah tersinggung. Saya menghindari
bertemu dengan teman, kondisi saya semakin memburuk bahkan saya merasa
ketakutan saat mendengar bunyi sms pacar saya ! saya gagal. Saya tahu itu, dan
saya takut kalau pacar saya mengetahui kondisi saya saat ini.
Jadi,
setiap kali kami berada di depan umum, saya berpura-pura menjadi seorang teman,
dan bahkan yang tidak kalah rancunya ketika saya melebih-lebihkan peran saya.
saya tahu saya terlalu overacting; dan
saya merasa sesudahnya merasa sengsara selama beberapa hari dengan kelakuanku
yang berlebihan itu. Kemud ian
mengantarkan saya kepada kebingungan, pada akhirnya, saya tidak bahagia
sehingga saya merasa tak ada gunanya memperpanjang hidup saya. saya mulai
berpikir untuk bunuh diri.” Entah apa yang terjadi. Wallahu’alam.
Dari
deretan kisah hidup saya diatas yang merupakan pengalaman yang sampai saat ini
tidak akan saya lupakan dan merupakan momentum untuk membuat saya makin kuat
dan sebagai batu loncatan buat saya untuk merubah kehidupan saya dari sebelumnya.
Menjadi
sosok yang berbeda dengan pembawaan kita sejak kecil merupakan salah satu
kekeliruan tentu tidak terlepas dari pengalaman saya ketika mengeluarkan
statement seperti itu. Kenapa tidak? menjadi diri sendiri merupakan hal yang
sulit jika tidak memahaminya lebih detail tentang diri kita sebenarnya. “Hal
yang perlu saya lakukan awalnya adalah menjadi diri sendiri dengan melakukan
studi tentang kepribadian saya. mencari tahu seperti apa karakter saya dan
hal-hal yang membuat saya lemah dan kuat. Saya mempelajari semuanya tentang
warna dan gaya saya.
Mulai
dari berbicara, gaya dan busana saya dengan cara saya sendiri, agar bisa
menemukan jati diri saya. ibu saya pernah mengatakan kepada saya; “anton jangan ikut-ikut penampilan orang lain
ya? Orang lain mungkin sudah kaya materi dan kamu jangan ikut-ikut bergaya
seperti mereka. Karena mereka memang sudah memang orang tuanya kaya. Jika kamu
ikut penampilannya serta karakternya itu sama saja membuat sensara orang tuamu
yang serba pas-pasan ini”. Perkataan orang tuaku bukan saja mengandung
makna materi tetapi dalam hal karakter atau gaya untuk tidak disamakan dengan orang
lain.
Berawal
dari keluar rumah, bertemu dengan teman sepergaulan membuat saya menjadi diri
sendiri dengan berbicara apa adanya yang tak luput dari kesederhanaan. Dan
tibalah saya pada suatu perkumpulan studi dalam rangka mengerjakan tugas kampus
yang secara kelompok. Setiap kali saya berbicara, saya mendapat sedikit
keberanian. Setalah saya sadari butuh waktu lama untuk tapi suatu perubahan
yang luar biasa menurut saya yang dimana saya merasa bahagia dari sebelumnya.
Dan
seiring berjalannya waktu saya memahami karakter saya yang sebenarnya bahwa
saya pendiam tapi dibalik pendiamku tersembunyi kekuatan yang harus diasah
dengan pengetahuan untuk mengeluarkan kekuatan tersebut dengan pemahaman
emosional, spiritual, intelektual yaitu dengan cara memahami karakter diri
sendiri , hal-hal yang merupakan kelebihan dan bagaimana cara mengasah, serta
hal-hal yang jelek dan bagaimana cara menghilangkan dengan step by step serta
memahami karakter teman-teman disekeliling, dan orang-orang terdekat kita. Kesuksesan terbesar adalah ketika kita
pandai membaca lingkungan dan tidak asal ikut tanpa memahaminya. (guru motivatorku, ka eyang).
Dale
Carnegie menulis sebuah buku dengan judul “How
to Stop Worring and Start Living” mengatakan “kehidupan sedikit banyak tergantung dari bagaimana kita membentuknya.
Dan buku selanjuta dari karangan Dale Carnegie (how get my self to sukses); mengatakan “jika kita belajar untuk menerima diri kita?, dengan cara melihat sisi
kebaikan sama jelasnya dengan sisi yang kurang baik, maka otomatis kita akan
sibuk melakukan segala sesuatu yang diperlukan untuk meraih cita-cita kita.
Kemungkinan kita tidak akan punya banyak waktu memikirkan hilangnya waktu dan
perasaan khawatir”.
Tentu
persoalan keengganan menjadi diri sendiri merupakan sumber tersembunyi dibalik
banyak masalah neurosis dan psikosis kpoleks. Angelo Patri, seorang penulis
pendidikan anak yang telah menghasilkan tiga belas buku dan ribuan artikel
mengatakan: “tak ada seorang pun selain
ia yang rindu menjadi seseorang atau sesuatu lebih dari apa yang ada dalam
tubuh dan pikirannya.”. seperti apa yang dibahasakan Sam Wood, “bahwa yang paling aman adalah secepat
mungkin menghilangkan kepura-puraan menjadi orang yang bukan diri sendiri.
Seorang
putri dari seorang konduktor terpaksa harus belajar dengan cara yang sulit. Ia
ingin sekali menjadi seorang penyanyi. Tapi wajahnya menjadi sumber
kemalangannya. Mulutnya besar dan giginya menonjol. Ketika pertama kali
bernyanyi di depan umum – disebuah klub malam di New Jersey, ia berusaha
menarik mulut bagian atasnya kebawah untuk menutupi giginya. Dia berusaha
bersikap “glamor”. Dan hasilnya? Dia menjadikan dirinya terlihat menggelikan.
Dia sedang menuju kegagalan.
Namun,
ada seoarng laki-laki di klub malam itu yang mendengar gadis bernyanyi. Ia
merasa gadis itu punya bakat tertentu. “Coba lihat,”katanya terus terang, “saya
sudah mengamati penampilan anda dan saya tahu apa yang anda coba sembunyikan.
Anda merasa malu dengan gigi anda.” Gadis itu kelihatan malu, tetapi orang itu
terus berkata, “ada apa dengan gigi itu? Apakah ada yang salah jika memiliki
gigi yang menonjol? Jangan coba menyembunyikan! Buka mulit anda, dan penonton
akan menyukai anda saat mereka melihat anda tidak malu. Selain itu, gigi yang
anda coba sembunyikan bisa jadi membawa keberuntungan buat anda!”
Putri
itu akhirnya menerima nasihatnya dan melupakan soal giginya. Sejak saat itu, ia hanya memikirkan
audiens. Dia membuka mulutnya lebar-lebar dan bernyanyi dengan bersemangat dan
bergembira sehingga ia menjadi seorang bintang top di berbagai film dan radio.
Pelawak lain kini berusaha menjdi dirinya!.
William
James, “separuh saja dari kita yang hanya
memanfaatkan sebagian kecil dari sumber fisik dan mental kita. Jika dinyatakan
secara luas, manusia hidup jauh di dalam batas-batas kemampuannya. Dia memiliki
berbagai macam kekuatan yang biasanya, mereka gagal menggunakannya.”
Anda
adalah sesuatu hal baru di dunia ini, berbahagialah dan manfaatkan apa yang
diberikan Tuhan pada anda. Dalam sebuah analisis, semua seni bersifat
otobiografis. Anda bisa menyanyikan apa adanya tentang diri anda. Anda bisa
melukiskan apa adanya diri anda. Anda harus menjadi seseorang sebagaimana yang
telah diberikan oleh pengalaman, lingkungan, dan keturunan anda. Baik buruknya,
anda harus memupuk kebun kecil anda sendiri. Baik buruknya, anda harus
memainkan instrument kecil anda sendiri dalam orchestra kehidupan. “ada waktunya dalam pendidikan setiap
manusia, saat ia sampai pada keyakinan bahwa iri hati merupakan kebodohan,
bahwa imitasi merupakan upaya bunuh diri; bahwa manusia harus membawa diri baik
buruknya sesuai dengan bagiannya; bahwa meski alam semesta yang luas ini penuh
kebaikan, tidak ada inti jagung bergizi yang bisa dating kepadanya, selain
melalui kerja keras pada sebidang tanah yang diberikan kepadanya.(Emerson)
No comments:
Post a Comment