Saya dari mawasangka pukul kurang lebih jam 6 lewat. Saya
berniat ke makassar untuk melanjutkan semester 3 di universitas hasanudin,
makassar.
Ketika bangun pagi yang
dibangunkan mama saya sebelum mempersiapkan barang-barang bawaan dan pada
akhirnya ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi saya sangat
mengantuk sekali karena salah satu faktor malamnya saya sangat lama tidur
berkisar jam 4 dini hari.
Tibalah mobil yang kami
naiki di depan rumah kami. Saya kemudian pergi ke kamar mama untuk memastikan
wajahku tidak memperlihatkan wajah yang kusam dan baru bangun tidur. Setelahnya
saya langsung berpamitan kepada kedua orang tuaku dengan sepatah kata untuk
memastikan bahwa mereka tak henti-hentinya mendoakan saya sepanjang karirku di
makassar dan tak lupa juga kepada adikku mamat dengan bersalaman.
masuklah saya dan kedua
kakakku, safrin dan hasan ke mobil yang akan mengantarkan kami ke wamengkoli.
Awal memasuki mobil saya melihat kakak kelas rani yang ada di mobil. Saya
kemudian tersenyem setelah mata kami disatukan dalam kondisi diam, beliau juga
membalas senyum dari saya dan selanjutnya saya melangkahkan kaki dan membuka
tombol kursi tengah supaya tidak menghalangi saya untuk melangkah ke tempat
duduk belakang mobil.
Kondisi hening pun tak
terelakan ketika saya dan kakakku hasan memasuki mobil tetapi tak berselang
lama kehadiran kakakku safrin yang tiba-tiba muncul disamping mobil memecah
keheningan dengan menyapa kak rani yang lebih dulu sudah berada di mobil.
Baliau berkata pada kak rani apa yang hendak di lakukan di makassar mengingat
dia sudah selesai kuliah beberapa bulan yang lalu. Kak rani menjawab, tujuannya
ke makassar untuk menyerahkan skripsi yang belum dia kumpul sebelumnya dan ada
beberapa urusan yang harus dia selesaikan sebelum akhirnya dia langsung
bergeser ke balikpapan untuk mencari pekerjaan disana.
Setelah kakak safrin sudah
masuk dimobil yang tempat duduknya berada di depan saya tepatnya disamping kak
rani dan barang-barang kami sudah dirapikan oleh sadam supir mobil, mobil
tumpangan kami akhirnya jalan menuju penumpang yang tidak lain senior saya juga
di makassar yaitu kak erma dan kak rati. Kak erma dan kak rati bersaudara dan
yang kakak adalah kak rati. Kak rati sudah bekerja di BRI Cabang Baubau, unit
kecamatan mawasangka yang sebelumnya beliau alumni universitas hasanuddin
tempat kuliahku sekarang. Sedangkan kak erma belum berapa lama menyelesaikan
study di universitas yang sama yaitu bulan mei 2013 dan tanggal wisudanya saya
lupa mengingatnya.
Mobil kemudian berhenti
tepat di depan rumah kak erma, ternyata kak erma dan kak rati sudah menunggu
kedatangan mobil dan selanjutnya dengan gerak gerik yang sudah dipastikan siap
semua akhirnya memasuki mobil dengan senyum yang mengisyaratkan kesenangan
kepada rani yang lebih dulu berada di mobil, senyum itu terpancar dari kak erma
tapi lain halnya kak rati yang saya mungkin mengisyaratkan kebahagiaannya
memasuki mobil. Atau tapalah perkataanku diatas belum tentu kebenarannya karena
jangan sampai tidak seperti apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Saya Cuma
berspekuasi pada kondisi subjektif yang indra saya alami.
Akhirnya mobil kami pun
jalan setelah kak erma dan kak rati sudah berada di mobil dan segala
atributnya. Kondisi dalam mobil pun ceria karena kak safrin canda candaan sama
kak erma. Tak jarang pula kak safrin mengejek kak erma dengan mengatakan tempat
duduk kak erma sebenarnya porsi dua orang penumpang karena alasan badan kak
erma mungkin diatas rata-rata badan kami semua (berisi), tapi kak erma pun tak
ambil pusing dengan perkataan kak safrin. Hampir sepanjang perjalanan menuju
penumpang selanjutnya keceriaan menyertai perjalanan kami. Tapi lain halnya
saya dan kakak hasan, kami dari awal masuk mobil tidak sama sekali memperlihatkan
keceriaan, kami selalu berdiam diri. Yang ada dipikiranku saat itu saya tidak
ingin bicara. dan saya merasa tidak ada yang perlu saya bicarakan, meskipun kak
erma pernah menegur saya dengan mengatakan ke saya bahwa saya sombong. Setelah
mendengar perkataanya spontan saya mengatakan “ahh.. tidak”. Di lain pihak saya
tidak mengetahui apa yang dipikiran hasan sehingga dimobil seperti orang yang
galau, dia tidak berbicara sedikitpun. Saya Cuma beranggapan bahwa seperti
itulah karakter hasan. Hasan memang ketika dihadapkan pada kondisi dimana dia
tidak terlalu akrab sama seseorang yang dia kenal dia malas untuk berbica.
Mobil selanjutnya mengarah
ke rumah junior saya yang kuliah di jogja yang bernama aditya purwanto sadif,
dan sampai akhirnya kami tiba juga di rumah purwanto. Spontan kak erma
melontarkan pernyataan penegasan kepada purwanto bahwa kenapa dia tidak membawa
tas yang tidak seperti pada umumnya orang berpergian tapi spontan juga purwanto
membalas bahwa santai saja, tidak perlu menggunakan tas.
Dan selanjutnya purwanto pun
naik naik ke mobil yang tepatnya duduk dibelakang samping saya. Mobil pun
akhirnya langsung mengarah lagi ke penumpang selanjutnya yaitu rumah intan
sylvina. sebelumnya saya tidak mengetahui setelah mobil bergeser dari rumah
aditya tapi kak erma memberitahu sadam bahwa ada penumpang lagi yaitu intan
silvyna. Saya kemudian menahan nafas sejenak ketika mendengar perkataan kak
erma. Saya menyadari bahwa intan sylvina itu adalah mantan saya semenjak saya
kuliah di uin alaudin. Pada saat itu saya baru menginjakan semester 2. Kami
pacaran Cuma 2 bulan saja. Entah kenapa kami kemudian putus, saya tidak akan
bahasakan disini. Tapi yang saya tidak habis pikir setelah mendengar perkataan
kak erma tentang penumpang yang bernama intan sylvina saya seolah di ejek sama
kak erma dan dari gaya bahasa dan gerak tubuh kak erma dia mengingatkan atau
mungkin mempublikasikan secara halus bahwa saya pernah pacaran dengan intan
sylvina dengan orang yang berada di mobil pada saat itu dan bahkan ada juga
pacar pertama intan yaitu purwanto. Entah apa yang kemudian mengantarkan kami
sehingga berada tepat berada dimobil dengan sosok-sosok yang mengagetkan yaitu
kehadiran intan yang tidak lain mantan pacar saya, kehadiran purwanto yang
tidak lain mantan kekasih intan. Saya merasa ini kebetulan yang memalukan.
Intan kemudian menampakan
dirinya tepat disamping kiri saya dan terlihat ibunda intan yang mengiringinya
yang mengisyaratkan kasih sayang seorang ibu untuk mengantarkan anaknya serta
mengikhlaskan anaknya untuk pergi mencari bekal ilmu di tanah daeng. Intan pun
duduk dibangku depan tepatnya disamping sopir mobil. Tak lama kemudian setelah
ibunda intan selesai mengamankan tas bawaan intan kemudian ibunda berpamitan
sama intan dan kak erma serta kak rati. Pada saat itu saya mengingat bahwa
intan dan kak erma, kak rati ada ikatan keluarga. Jadi tak heran perilaku yang
memperlihatkan saling kenal dan panggilan akrab sangat terlihat pada tindakan
kak erma dan kak rati setelah ibunda intan berpamintan dan memberi sepatah kata
perpisahan. Tak berselang lama kemudian intan terharu dengan langkah demi
langkah yang menyertai ibundanya yang meninggalkan mobilnya. Air mata pun tak
bisa dihentikan. Yang saya lihat pada saat itu intan sangat sedih meninggalkan
ibunda seorang diri di rumah. Saya memahami bahwa itu merupakan hal yang memang
sangat menyedihkan untuk seorang intan yang berkarakter lembut dan manja.
Karena lain halnya saya dan kedua kakakku. Ketika kami berpamintan berangkat
kami tidak memperlihatkan hal yang dialami intan. Kami Cuma meminta restu da
do’a kedua orang tua kami. Saya harus menekankan dalam dalam bahwa pria dan
wanita memang memiliki sisi yang sangat berbeda, dimana wanita perasaannya
sangat peka terhadap hal-hal yang penting bagi dia. Seperti ibundanya tercinta.
Dan akhirnya mobilpun
menancapkan gas untuk mengarah ke penumpang terakhir yaitu tati dan mila. Mereka sosok adik kakak yang
menurut saya sangat unik dan ceria serta percaya diri. Unik, ceria, percaya
diri sangat kelihatan pada sosok tati. Saya memastikan apa yang saya katakan
ini bukan subjektivitas saya tetapi kondisi objektif. Dan begitu halnya saya
memastikan apa yang saya katakan sama halnya dengan persepsi orang-orang yang
mengenal dekat ke dia. Saya tidak mengatakan dia jelek tapi saya berani
taruhan, jika di survei apakah dia masuk dalam kategori cantik, sedang, jelek.
hasil survei lebih pada jelek. saya
tidak bermaksud menghina beliau atau merendahkan beliau tapi saya lebih kepada
penilaian individu meskipun penilaian itu murni subjektif entahlah. Yang
terpenting bahwa saya jujur dengan apa yang saya katakan. Sosok unik itu pun
saya mendatkan ke dia ketika dia mampu percaya diri dan ceria kendati paras
yang mungkin kebanyakan orang memilih fakum. Tapi dia tidak, dia memperlihatkan
kelemahan menjadi kelebihan buat dia. Bahkan dia saya juluki sebagai orang yang
pandai menyesuaikan diri dimanapun tempat dan kondisi apapun. Buktinya di
organisasi internal pun hamper semua orang dia akrab dan kenal. Baik itu senior
lama, maupun adik-adik mahasiswa baru. Saya sangat salut sama karakternya yang
demikian.
Unik, ceria, percaya diri,
karakter itu juga cocok buat adik tati yaitu mila. Tapi lain halnya mila, tati
jauh lebih percaya diri. Dan ceria. Mila memang memperlihatkan karakter itu
sejauh pengamatan dan pengalaman indra saya ketika dihadapkan pada dia, tapi
jika dibandingkan tati lebih naik satu level. Ada hal yang perlu disayangkan
juga bahwa dibanding tati, mila yang kemudian memiliki keberuntungan yang
diakui teman-temannya bahkan senior-seniornya karena mila salah satu dari tiga
orang yang berhasil lulus di univ. negeri di Makassar yaitu dia berhasil lulus
di universitas hasanudin dari tiga puluan pendafter dari teman-teman tempat
bimbingan belajarnya. Sedangkan tati pada tahun 2011 kemarin tidak berhasil
lulus di univ. negeri. Saya Cuma bisa simpulkan bahwa itu semua sudah takdir
Tuhan Yang Maha Kuasa.
Akhirnya mobil kami pun
berangkat setelah penumpang penuh. Penumpang yang ada dimobil berjumlah 10. 2
orang di depan, 4 orang di tengah dan 4 orang dibelakang. Saya, hasan,
purwanto, safrin duduk dibelakang. Kak erma, kak rani, kak rati dan mila duduk
di bagian tengah, sedangkan tati dan intan duduk di depan bersama sadam sopir
mobil.
Sepanjang perjalanan pun
music tak henti hentinya menghibur kami, meskipun ada lagu-lagu yang saya rasa
tidak menghibur saya karena sayj kurang suka lagu yang di putar. Tak jarang
pula kak rati merequest lagu yang dia suka, bahkan mengulang lagu kesukaannya
tsb.
Perjalanan berkisar 2 jam
lebih dari mawasangka sampai ke baubau. Sepanjang perjalanan pun kami merasa
ketidak nyamanan, ketidak nyamanan itu eksis ketika kami harus bersabar di
ombak ambik jalanan yang jelek dan apabila
di personifikasikan seperti orang
yang berada di tempat kosong kemudian di kocok kocok laksana arisan yang di
kocok kocok. Begitulah perasaan kami dikala itu.
Ada juga yang kemudian tidur
pulas seperti kak rani bahkan mina yang tertidur penuh dengan kenyamanan
meskipun kadang juga dia dipaksa terbangun ketika dihadapkan pada kocokan
raksasa alipas jalan yang sangat jelek.
2 jam lebih perjalanan
akhirnya kami tiba di terminal wamengkoli untuk mengakhiri perjalanan darat
kami dan selanjutnya mengendarai transportasi laut.
Bersambung ...
No comments:
Post a Comment