Sunday, 26 January 2014

HIKMAH DIBALIK PERJALANAN KE TANAH DIDIK MAKASSAR

Saya dari mawasangka pukul kurang lebih jam 6 lewat. Saya berniat ke makassar untuk melanjutkan semester 3 di universitas hasanudin, makassar. 

Ketika bangun pagi yang dibangunkan mama saya sebelum mempersiapkan barang-barang bawaan dan pada akhirnya ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi saya sangat mengantuk sekali karena salah satu faktor malamnya saya sangat lama tidur berkisar jam 4 dini hari.

Tibalah mobil yang kami naiki di depan rumah kami. Saya kemudian pergi ke kamar mama untuk memastikan wajahku tidak memperlihatkan wajah yang kusam dan baru bangun tidur. Setelahnya saya langsung berpamitan kepada kedua orang tuaku dengan sepatah kata untuk memastikan bahwa mereka tak henti-hentinya mendoakan saya sepanjang karirku di makassar dan tak lupa juga kepada adikku mamat dengan bersalaman.

masuklah saya dan kedua kakakku, safrin dan hasan ke mobil yang akan mengantarkan kami ke wamengkoli. Awal memasuki mobil saya melihat kakak kelas rani yang ada di mobil. Saya kemudian tersenyem setelah mata kami disatukan dalam kondisi diam, beliau juga membalas senyum dari saya dan selanjutnya saya melangkahkan kaki dan membuka tombol kursi tengah supaya tidak menghalangi saya untuk melangkah ke tempat duduk belakang mobil. 


Kondisi hening pun tak terelakan ketika saya dan kakakku hasan memasuki mobil tetapi tak berselang lama kehadiran kakakku safrin yang tiba-tiba muncul disamping mobil memecah keheningan dengan menyapa kak rani yang lebih dulu sudah berada di mobil. Baliau berkata pada kak rani apa yang hendak di lakukan di makassar mengingat dia sudah selesai kuliah beberapa bulan yang lalu. Kak rani menjawab, tujuannya ke makassar untuk menyerahkan skripsi yang belum dia kumpul sebelumnya dan ada beberapa urusan yang harus dia selesaikan sebelum akhirnya dia langsung bergeser ke balikpapan untuk mencari pekerjaan disana.

Setelah kakak safrin sudah masuk dimobil yang tempat duduknya berada di depan saya tepatnya disamping kak rani dan barang-barang kami sudah dirapikan oleh sadam supir mobil, mobil tumpangan kami akhirnya jalan menuju penumpang yang tidak lain senior saya juga di makassar yaitu kak erma dan kak rati. Kak erma dan kak rati bersaudara dan yang kakak adalah kak rati. Kak rati sudah bekerja di BRI Cabang Baubau, unit kecamatan mawasangka yang sebelumnya beliau alumni universitas hasanuddin tempat kuliahku sekarang. Sedangkan kak erma belum berapa lama menyelesaikan study di universitas yang sama yaitu bulan mei 2013 dan tanggal wisudanya saya lupa mengingatnya.

Mobil kemudian berhenti tepat di depan rumah kak erma, ternyata kak erma dan kak rati sudah menunggu kedatangan mobil dan selanjutnya dengan gerak gerik yang sudah dipastikan siap semua akhirnya memasuki mobil dengan senyum yang mengisyaratkan kesenangan kepada rani yang lebih dulu berada di mobil, senyum itu terpancar dari kak erma tapi lain halnya kak rati yang saya mungkin mengisyaratkan kebahagiaannya memasuki mobil. Atau tapalah perkataanku diatas belum tentu kebenarannya karena jangan sampai tidak seperti apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Saya Cuma berspekuasi pada kondisi subjektif yang indra saya alami.

Akhirnya mobil kami pun jalan setelah kak erma dan kak rati sudah berada di mobil dan segala atributnya. Kondisi dalam mobil pun ceria karena kak safrin canda candaan sama kak erma. Tak jarang pula kak safrin mengejek kak erma dengan mengatakan tempat duduk kak erma sebenarnya porsi dua orang penumpang karena alasan badan kak erma mungkin diatas rata-rata badan kami semua (berisi), tapi kak erma pun tak ambil pusing dengan perkataan kak safrin. Hampir sepanjang perjalanan menuju penumpang selanjutnya keceriaan menyertai perjalanan kami. Tapi lain halnya saya dan kakak hasan, kami dari awal masuk mobil tidak sama sekali memperlihatkan keceriaan, kami selalu berdiam diri. Yang ada dipikiranku saat itu saya tidak ingin bicara. dan saya merasa tidak ada yang perlu saya bicarakan, meskipun kak erma pernah menegur saya dengan mengatakan ke saya bahwa saya sombong. Setelah mendengar perkataanya spontan saya mengatakan “ahh.. tidak”. Di lain pihak saya tidak mengetahui apa yang dipikiran hasan sehingga dimobil seperti orang yang galau, dia tidak berbicara sedikitpun. Saya Cuma beranggapan bahwa seperti itulah karakter hasan. Hasan memang ketika dihadapkan pada kondisi dimana dia tidak terlalu akrab sama seseorang yang dia kenal dia malas untuk berbica.

Mobil selanjutnya mengarah ke rumah junior saya yang kuliah di jogja yang bernama aditya purwanto sadif, dan sampai akhirnya kami tiba juga di rumah purwanto. Spontan kak erma melontarkan pernyataan penegasan kepada purwanto bahwa kenapa dia tidak membawa tas yang tidak seperti pada umumnya orang berpergian tapi spontan juga purwanto membalas bahwa santai saja, tidak perlu menggunakan tas. 

Dan selanjutnya purwanto pun naik naik ke mobil yang tepatnya duduk dibelakang samping saya. Mobil pun akhirnya langsung mengarah lagi ke penumpang selanjutnya yaitu rumah intan sylvina. sebelumnya saya tidak mengetahui setelah mobil bergeser dari rumah aditya tapi kak erma memberitahu sadam bahwa ada penumpang lagi yaitu intan silvyna. Saya kemudian menahan nafas sejenak ketika mendengar perkataan kak erma. Saya menyadari bahwa intan sylvina itu adalah mantan saya semenjak saya kuliah di uin alaudin. Pada saat itu saya baru menginjakan semester 2. Kami pacaran Cuma 2 bulan saja. Entah kenapa kami kemudian putus, saya tidak akan bahasakan disini. Tapi yang saya tidak habis pikir setelah mendengar perkataan kak erma tentang penumpang yang bernama intan sylvina saya seolah di ejek sama kak erma dan dari gaya bahasa dan gerak tubuh kak erma dia mengingatkan atau mungkin mempublikasikan secara halus bahwa saya pernah pacaran dengan intan sylvina dengan orang yang berada di mobil pada saat itu dan bahkan ada juga pacar pertama intan yaitu purwanto. Entah apa yang kemudian mengantarkan kami sehingga berada tepat berada dimobil dengan sosok-sosok yang mengagetkan yaitu kehadiran intan yang tidak lain mantan pacar saya, kehadiran purwanto yang tidak lain mantan kekasih intan. Saya merasa ini kebetulan yang memalukan. 

Intan kemudian menampakan dirinya tepat disamping kiri saya dan terlihat ibunda intan yang mengiringinya yang mengisyaratkan kasih sayang seorang ibu untuk mengantarkan anaknya serta mengikhlaskan anaknya untuk pergi mencari bekal ilmu di tanah daeng. Intan pun duduk dibangku depan tepatnya disamping sopir mobil. Tak lama kemudian setelah ibunda intan selesai mengamankan tas bawaan intan kemudian ibunda berpamitan sama intan dan kak erma serta kak rati. Pada saat itu saya mengingat bahwa intan dan kak erma, kak rati ada ikatan keluarga. Jadi tak heran perilaku yang memperlihatkan saling kenal dan panggilan akrab sangat terlihat pada tindakan kak erma dan kak rati setelah ibunda intan berpamintan dan memberi sepatah kata perpisahan. Tak berselang lama kemudian intan terharu dengan langkah demi langkah yang menyertai ibundanya yang meninggalkan mobilnya. Air mata pun tak bisa dihentikan. Yang saya lihat pada saat itu intan sangat sedih meninggalkan ibunda seorang diri di rumah. Saya memahami bahwa itu merupakan hal yang memang sangat menyedihkan untuk seorang intan yang berkarakter lembut dan manja. Karena lain halnya saya dan kedua kakakku. Ketika kami berpamintan berangkat kami tidak memperlihatkan hal yang dialami intan. Kami Cuma meminta restu da do’a kedua orang tua kami. Saya harus menekankan dalam dalam bahwa pria dan wanita memang memiliki sisi yang sangat berbeda, dimana wanita perasaannya sangat peka terhadap hal-hal yang penting bagi dia. Seperti ibundanya tercinta. 

Dan akhirnya mobilpun menancapkan gas untuk mengarah ke penumpang terakhir yaitu  tati dan mila. Mereka sosok adik kakak yang menurut saya sangat unik dan ceria serta percaya diri. Unik, ceria, percaya diri sangat kelihatan pada sosok tati. Saya memastikan apa yang saya katakan ini bukan subjektivitas saya tetapi kondisi objektif. Dan begitu halnya saya memastikan apa yang saya katakan sama halnya dengan persepsi orang-orang yang mengenal dekat ke dia. Saya tidak mengatakan dia jelek tapi saya berani taruhan, jika di survei apakah dia masuk dalam kategori cantik, sedang, jelek. hasil  survei lebih pada jelek. saya tidak bermaksud menghina beliau atau merendahkan beliau tapi saya lebih kepada penilaian individu meskipun penilaian itu murni subjektif entahlah. Yang terpenting bahwa saya jujur dengan apa yang saya katakan. Sosok unik itu pun saya mendatkan ke dia ketika dia mampu percaya diri dan ceria kendati paras yang mungkin kebanyakan orang memilih fakum. Tapi dia tidak, dia memperlihatkan kelemahan menjadi kelebihan buat dia. Bahkan dia saya juluki sebagai orang yang pandai menyesuaikan diri dimanapun tempat dan kondisi apapun. Buktinya di organisasi internal pun hamper semua orang dia akrab dan kenal. Baik itu senior lama, maupun adik-adik mahasiswa baru. Saya sangat salut sama karakternya yang demikian.

Unik, ceria, percaya diri, karakter itu juga cocok buat adik tati yaitu mila. Tapi lain halnya mila, tati jauh lebih percaya diri. Dan ceria. Mila memang memperlihatkan karakter itu sejauh pengamatan dan pengalaman indra saya ketika dihadapkan pada dia, tapi jika dibandingkan tati lebih naik satu level. Ada hal yang perlu disayangkan juga bahwa dibanding tati, mila yang kemudian memiliki keberuntungan yang diakui teman-temannya bahkan senior-seniornya karena mila salah satu dari tiga orang yang berhasil lulus di univ. negeri di Makassar yaitu dia berhasil lulus di universitas hasanudin dari tiga puluan pendafter dari teman-teman tempat bimbingan belajarnya. Sedangkan tati pada tahun 2011 kemarin tidak berhasil lulus di univ. negeri. Saya Cuma bisa simpulkan bahwa itu semua sudah takdir Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Akhirnya mobil kami pun berangkat setelah penumpang penuh. Penumpang yang ada dimobil berjumlah 10. 2 orang di depan, 4 orang di tengah dan 4 orang dibelakang. Saya, hasan, purwanto, safrin duduk dibelakang. Kak erma, kak rani, kak rati dan mila duduk di bagian tengah, sedangkan tati dan intan duduk di depan bersama sadam sopir mobil.
Sepanjang perjalanan pun music tak henti hentinya menghibur kami, meskipun ada lagu-lagu yang saya rasa tidak menghibur saya karena sayj kurang suka lagu yang di putar. Tak jarang pula kak rati merequest lagu yang dia suka, bahkan mengulang lagu kesukaannya tsb.

Perjalanan berkisar 2 jam lebih dari mawasangka sampai ke baubau. Sepanjang perjalanan pun kami merasa ketidak nyamanan, ketidak nyamanan itu eksis ketika kami harus bersabar di ombak ambik jalanan yang jelek dan apabila  di personifikasikan seperti  orang yang berada di tempat kosong kemudian di kocok kocok laksana arisan yang di kocok kocok. Begitulah perasaan kami dikala itu.

Ada juga yang kemudian tidur pulas seperti kak rani bahkan mina yang tertidur penuh dengan kenyamanan meskipun kadang juga dia dipaksa terbangun ketika dihadapkan pada kocokan raksasa alipas jalan yang sangat jelek. 

2 jam lebih perjalanan akhirnya kami tiba di terminal wamengkoli untuk mengakhiri perjalanan darat kami dan selanjutnya mengendarai transportasi laut.

Bersambung ...

No comments:

Post a Comment