Melihat kondisi saya yang tak
luput dari problematika ketika dihadapkan pada kondisi dimana bertentangnya
antara hasrat dan realitas. Saya cenderung memilih bungkam. Rasa marah juga tak jarang saya rasakan,
sedih juga melanda saya, bahkan kelainan pada diri saya yang saya tidak
rumuskan apakah yang dimaksud kelainan itu. Saya bisa artikan mungkin kelainan
ketika saya mengalami salah tingkah atau sejenisnya.
Pemahaman akan karakter saya yang
sangat minim membuat saya sendiri tidak tau apa yang melanda saya ini ketika
dihadapkan pada ketidak inginan akan sesuatu hal. saya sadar dengan
sesadar-sadarnya bahwa saya kurang memahami karakter saya. Saya sadar bahwa
saya terdistrorsi nilai ketika tingkah laku saya dilihat oleh orang yang
kemudian menilai saya jelek. tapi saya menyadari saya inginkan sesuatu yang
baik yang saya akan lakukan setiap harinya. Harapan akan penilaian berupa
kebaikan pun sangat saya damba-dambakan sama siapa saja tanpa terkecuali.
Tetapi saya sadari bahwa saya kadang tidak melihat tindakanku, apakah
tindakanku ini baik di mata orang lain atau tidak baik di mata orang lain.

