Hari-hari
yang begitu berkecamuk ketika kita tidak memahaminya, memahami suatu permasalahan
hidup dalam kehidupan sehari-hari adalah sesuatu yang rumit dan begitu
bergejolak ditengah persepsi-persepsi yang mengarahkan kita kepada sesuatu dan
lain hal yg kita alami dalam kehidupan.
Hari-hari
yang ku jalani memang begitu berat ketika aku berada dimakassar, meniti karir
demi karir yang tak kunjung memuaskan.
Berawal
dari masuk kampus hingga sekarang, perasaan dan bayangan masa depan tak kunjung
usai kurasakan hingga saat ini, dengan pemahamanku selama ini yang bertentangan
dengan tindakan serta problematika-problematika yang kurasakan dalam kehidupan
sehari-hari tak pernah berakhir.
Awal
Meniti karir dimakassar yang tiada lain dan tiada bukan yaitu kuliah, itulah
tujuanku dan terlebih lagi tujuan yang paling diketahui orang tuaku yang paling
saya sayangi dikampung.
Kuliah
adalah suatu rutinitas yang dimana kita berproses dalam hal mendewasakan
pemahaman dan pemikiran yang dulunya tidak atau kurang diketahui untuk menuju kepemahaman
baru dalam hal intelektual, emosional, spiritual bahkan kehidupan yang
mengarahkan kita untuk mengerti tentang probematika hidup.
Problematika
itulah yang kemudian dicari jalan keluar, untuk kehidupan yang lebih baik agar bermanfaat
bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.
Problematika-problematika
yang saya hadapi dalam kehidupan sejauh ini adalah problematika hidupku dalam
ruang lingkup pribadi, lingkungan, kampus dan social bahkan dalam bangsa ini.
Dalam
keseharianku saya sering alami ketika keinginanku bertolak belakang dengan apa
yang saya harapkan itulah definisi masalah menurut apa yang saya pahami selama
ini.
Dalam
pergaulan sehari-hari di masyarakat lebih spesifiknya dikampus dalam
berinteraksi misalkan, argument kita tak jarang bertentangan dengan argument
teman sehingga tak jarang pula menimbulkan kesalahpahaman. Dalam hal ini tidak
akan selamanya berada dalam keteraturan.
Kampus yang memang dipenuhi dengan orang-orang
yang berbagai karakter mahasiswa dan dosen kadang membuat saya bingung. Terkait
dalam hal ini memang kita tidak nafikan bahwa sudah fitrah manusia yang
masing-masing individu memiliki karakter berbeda-beda.
pergaulan
dalam menghadapi berbagai karakter tadi terkait dalam kehidupan saya dikampus
membuat saya untuk belajar agar bisa bergaul dengan baik. Pengalaman saya
selama ini kenapa ketika saya melihat senior, teman-teman, bahkan dosen yang
tidak bisa menyeimbangkan atau menyesuaikan diri? dengan pendekatan emosional
artinya disini adalah belum memahami pergaulan dengan baik itu yang menjadi
problematika saya.
pada saat bergaul dengan teman-teman ada beberapa yang
kemudian kontradiksi dengan karakter saya sehingga tidak terpenuhinya
komunikasi yang efektif dan saya rasa itulah ilustrasi dari hal-hal dari sekian
banyak hal yang menurut teman-teman mungkin tabu untuk di persoalkan tapi
menurut kaca mata saya merupakan persoalan yang kemudian harus dicari jalan
keluar atau solusinya. Seperti juga problematika yang ada dikeluarga, yang
merupakan persoalan yang tidak saya pahami lebih detailnya. Kenapa tidak?
contoh, ketika misalkan saya begitu kurang nyaman ketika saya berdua dengan
kakak saya di kostan dengan tidak melakukan apa-apa dalam hal ini komunikasi,
canda gurau untuk kemudian bisa akrab.
Itu yang saya rasa ganjil dibenak saya
yang kemudian bagaimana cara mencari solusi untuk merubah persepsi tersbut. Dan
yang terakhir mungkin problematika lingkungan yang begitu kurang kondusif
dengan persepsi saya yang tidak selaras dengan tindakan saya, contoh, ketika
misalkan saya mendapati tetangga kost dengan tidak berkomunikasi. Dalam hati
kecil saya mengatakan saya ingin bercengkrama dengan dia dalam hal ini bisa bergaul
agar akrab dalalm lingkup kekeluargaan tp persepsi-persepsi yang negative
muncul dengan begitu sering dibenak pikiran saya. Itulah yang kemudian menjadi
daftar dalam agenda saya untuk mencari jalan keluar untuk merubah persepsi
tersebut.
Hari-hari
yang aku jalani terasa berat dan panjang, diawali dengan pergi ke kampus dengan
tidak mendapatkan apa-apa dalam hal ini ilmu. Pulang kuliah kerjaan cuman duduk
di teras pondokan sambil ngerokok dan minum kopi seperti kisah mba surip kali
ya..? heheh. Malam yang dilakukan nonton tv, kerjaan main gitar dan kutak-kutik
hp yang tidak bermanfaat.. cuman menghabiskan pulsa yang ujung-ujungnya minta
kiriman ke orang tua dikampung yang lagi susah memikirkan kehidupan dan anaknya
yang lagi studi dimakassar yang ternyata cuman membuat sensasi yang tidak
pantas untuk diteladani.
“Sholat-sholat nak ya…
ingat pada Tuhan karena hanya Dia-lah yang pantas untuk meminta dikala susah bahkan
bahagia… dia tempat bergantung dan pasti kembali kepadaNya”.
Kurang lebih betulah nasihat-nasihat dari orang tuaku dikampung ketika
berkomunikasi dengan saya lewat via telepon. Nasihat-nasihat yang dilontarkan
kepadaku begitu menusuk ke kalbuku dengan penuh harapan orang tuaku untuk saya
segera merealisasikannya. Tapi kenapa tindakan bodoh tubuh yang malas ini
hendak tidak melakukannya… hati dan kalbuku yang paling dalam sebenarnya
menangis tapi persepsi-persepsi negative yang begitu banyak seakan-akan selalu
menghantui atau membelenggu hatiku sehingga tidak untuk melaksanakan nasihat-nasihat
ortuku itu. Tapi yang perlu diketahui disini adalah bukan persoalan ajakan dari
orang tua yang diingkari tapi perintah dari Sang Pemilik Alam ini tak kunjung
saya laksanakan.
Naudzubillahiminzalik.
No comments:
Post a Comment