Sunday, 26 January 2014

Problematika hidup



Hari-hari yang begitu berkecamuk ketika kita  tidak memahaminya, memahami suatu permasalahan hidup dalam kehidupan sehari-hari adalah sesuatu yang rumit dan begitu bergejolak ditengah persepsi-persepsi yang mengarahkan kita kepada sesuatu dan lain hal yg kita alami dalam kehidupan. 

Hari-hari yang ku jalani memang begitu berat ketika aku berada dimakassar, meniti karir demi karir yang tak kunjung memuaskan.

Berawal dari masuk kampus hingga sekarang, perasaan dan bayangan masa depan tak kunjung usai kurasakan hingga saat ini, dengan pemahamanku selama ini yang bertentangan dengan tindakan serta problematika-problematika yang kurasakan dalam kehidupan sehari-hari tak pernah berakhir.

Awal Meniti karir dimakassar yang tiada lain dan tiada bukan yaitu kuliah, itulah tujuanku dan terlebih lagi tujuan yang paling diketahui orang tuaku yang paling saya sayangi dikampung. 


Kuliah adalah suatu rutinitas yang dimana kita berproses dalam hal mendewasakan pemahaman dan pemikiran yang dulunya tidak atau kurang diketahui untuk menuju kepemahaman baru dalam hal intelektual, emosional, spiritual bahkan kehidupan yang mengarahkan kita untuk mengerti tentang  probematika hidup.

Problematika itulah yang kemudian dicari jalan keluar, untuk kehidupan yang lebih baik agar bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.

Problematika-problematika yang saya hadapi dalam kehidupan sejauh ini adalah problematika hidupku dalam ruang lingkup pribadi, lingkungan, kampus dan social bahkan dalam bangsa ini.

Dalam keseharianku saya sering alami ketika keinginanku bertolak belakang dengan apa yang saya harapkan itulah definisi masalah menurut apa yang saya pahami selama ini.

Dalam pergaulan sehari-hari di masyarakat lebih spesifiknya dikampus dalam berinteraksi misalkan, argument kita tak jarang bertentangan dengan argument teman sehingga tak jarang pula menimbulkan kesalahpahaman. Dalam hal ini tidak akan selamanya berada dalam keteraturan.

 Kampus yang memang dipenuhi dengan orang-orang yang berbagai karakter mahasiswa dan dosen kadang membuat saya bingung. Terkait dalam hal ini memang kita tidak nafikan bahwa sudah fitrah manusia yang masing-masing individu memiliki karakter berbeda-beda.

pergaulan dalam menghadapi berbagai karakter tadi terkait dalam kehidupan saya dikampus membuat saya untuk belajar agar bisa bergaul dengan baik. Pengalaman saya selama ini kenapa ketika saya melihat senior, teman-teman, bahkan dosen yang tidak bisa menyeimbangkan atau menyesuaikan diri? dengan pendekatan emosional artinya disini adalah belum memahami pergaulan dengan baik itu yang menjadi problematika saya. 
pada saat bergaul dengan teman-teman ada beberapa yang kemudian kontradiksi dengan karakter saya sehingga tidak terpenuhinya komunikasi yang efektif dan saya rasa itulah ilustrasi dari hal-hal dari sekian banyak hal yang menurut teman-teman mungkin tabu untuk di persoalkan tapi menurut kaca mata saya merupakan persoalan yang kemudian harus dicari jalan keluar atau solusinya. Seperti juga problematika yang ada dikeluarga, yang merupakan persoalan yang tidak saya pahami lebih detailnya. Kenapa tidak? contoh, ketika misalkan saya begitu kurang nyaman ketika saya berdua dengan kakak saya di kostan dengan tidak melakukan apa-apa dalam hal ini komunikasi, canda gurau untuk kemudian bisa akrab. 

Itu yang saya rasa ganjil dibenak saya yang kemudian bagaimana cara mencari solusi untuk merubah persepsi tersbut. Dan yang terakhir mungkin problematika lingkungan yang begitu kurang kondusif dengan persepsi saya yang tidak selaras dengan tindakan saya, contoh, ketika misalkan saya mendapati tetangga kost dengan tidak berkomunikasi. Dalam hati kecil saya mengatakan saya ingin bercengkrama dengan dia dalam hal ini bisa bergaul agar akrab dalalm lingkup kekeluargaan tp persepsi-persepsi yang negative muncul dengan begitu sering dibenak pikiran saya. Itulah yang kemudian menjadi daftar dalam agenda saya untuk mencari jalan keluar untuk merubah persepsi tersebut.

Hari-hari yang aku jalani terasa berat dan panjang, diawali dengan pergi ke kampus dengan tidak mendapatkan apa-apa dalam hal ini ilmu. Pulang kuliah kerjaan cuman duduk di teras pondokan sambil ngerokok dan minum kopi seperti kisah mba surip kali ya..? heheh. Malam yang dilakukan nonton tv, kerjaan main gitar dan kutak-kutik hp yang tidak bermanfaat.. cuman menghabiskan pulsa yang ujung-ujungnya minta kiriman ke orang tua dikampung yang lagi susah memikirkan kehidupan dan anaknya yang lagi studi dimakassar yang ternyata cuman membuat sensasi yang tidak pantas untuk diteladani.

“Sholat-sholat nak ya… ingat pada Tuhan karena hanya Dia-lah yang pantas untuk meminta dikala susah bahkan bahagia… dia tempat bergantung dan pasti kembali kepadaNya”. Kurang lebih betulah nasihat-nasihat dari orang tuaku dikampung ketika berkomunikasi dengan saya lewat via telepon. Nasihat-nasihat yang dilontarkan kepadaku begitu menusuk ke kalbuku dengan penuh harapan orang tuaku untuk saya segera merealisasikannya. Tapi kenapa tindakan bodoh tubuh yang malas ini hendak tidak melakukannya… hati dan kalbuku yang paling dalam sebenarnya menangis tapi persepsi-persepsi negative yang begitu banyak seakan-akan selalu menghantui atau membelenggu hatiku sehingga tidak untuk melaksanakan nasihat-nasihat ortuku itu. Tapi yang perlu diketahui disini adalah bukan persoalan ajakan dari orang tua yang diingkari tapi perintah dari Sang Pemilik Alam ini tak kunjung saya laksanakan.
Naudzubillahiminzalik.

No comments:

Post a Comment