Siapa yang sangka kalau ternyata
diri saya lebih dipahami oleh orang lain. Saya kemudian malu. Saya kemudian
stop untuk melanjutkan apa inisiatif dari tindakan saya yang telah saya lakukan
sebelumnya. Tindakan saya yang semula nyaman dalam perspektif kebiasaan saya
yang sudah terbilang dalam titik keseimbangan, menguras waktu kemudian beralih
ke aktivitas lain . dan saya yakin aktivitas lain ini menjadi awal dari
perubahan yang berarti buat saya. Terima kasih adik rezki telah mengingatkan
saya akan tindakan saya yang tidak cerdas itu.
Mudah-mudahan ini bisa menjadi refleksi saya
agar lebih paham akan kondisi saya. Saya mau mencoba menjadi bulan purnama.
Bulan yang sempurna. Bulan yang Dari beberapa tahap untuk bisa terang benderang
dan banyak orang yang memimpikan akan hadirnya bulan purnama. Bulan purnama
sebagai inspirasi para sastrawan untuk bisa menghadirkan cerita inspirasi yang
bisa menghegemoni diri setiap orang yang sudah membaca karya mereka. Bulan
purnama yang selalu menerangi para muda-mudi yang mencoba keberuntungan
menelusuri jalan untuk mengabdikan diri pada jalan agar mendapat secercah
harapan agar keinginannya bisa terwujud demi uang agar kegiatannya sukses kelak.
Bulan purnama adalah simbol
kesempurnaan. Sebagai ilustrasi akan indahnya dunia manakala malam yang gelap
gulita dipancari bulan yang terang benderang. Bulan purnama yang selalu ada
diingatanku. Apalagi bulan purnama yang merindukan para bujang yang berdoa
ditengah hiruk pikuk kehidupan yang tidak ada yang tahu akan kegelisahan bujang
itu. Bujang kemudian berdoa ditengah bulan memantulkan cahaya matahari yang
indah. Sudah terfilter oleh bentuk bulan yang bulat manakala dilihat dari
permukaan tanah bumi.
Saya dalam kondisi ini sudah
berada pada dunia yang berbeda. Dunia yang dipenuhi emosional. Dunia dimana
saya berada pada penyesalan akan tindakan saya kemarin. Dunia dimana saya
memahami kondisi saya, kondisi orang yang tidak tahu diri akan dirinya sendiri.
Buku yang dibacanya tidak sampai pada pemahaman holistik Cuma sekedar ambisi
untuk menuntaskan buku itu. Bukan menuntaskan apa yang dipahami penulisnya.
Itulah realitas yang sangat tidak masuk akal bagi sosok cerdas ketika melihat
sisi dalam orang yang membaca itu.
Saya menyadari saya masih sangat
dangkal. saya tidak menyesal kemarin saya telah memberikan kontribusi buat
orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Saya sekarang hanya ingin lebih
mengikhlaskan dan menumbuhkan ketulusan dari apa yang saya lakukan kemarin buat
mereka. Saya bersyukur akan tindakan itu. Ternyata saya telah melakukannya.
Saya berhasil dalam kondisi dimana mereka berhasil memenuhi keinginan mereka.
Saya berterima kasih pada diri saya sendiri pada saat itu. Terima kasih. Saya
bersyukur potensi fitrah saya keluar pada saat itu meskipun ada orientasi lain
dibalik tindakan itu. Itulah makanya saya saya tinggal menumbuhkan ketulusan
dibalik tindakan saya kemarin.
Merindukan purnama sama halnya
saya berusaha menjadikan diri saya seperti purnama. Saya akan menjadikan diri
saya menjadi pribadi yang sempurna agar bisa memberi inspirasi kepada siapapun
tanpa pamrih. Saya mau menjadi penerang siapa saja yang dalam kondisi gelap
agar kehadiran saya bisa menerangi dan memberi pengharapan akan keinginan dan
mewujudkannya.
Terima kasih alam. Telah memberi
tahu saya akan indahnya hidup. Hidup untuk dinikmati. Apapun itu tanpa
terkecuali. Saya berjanji dalam kondisi ini , saya juga menyadari akan sikap
saya yang selalu tidak konsisten. Inilah saya. Manusia biasa yang tak luput
kesalahan. Saya menyadari akan hal itu.