Thursday, 26 June 2014

MEMIMPIKAN PURNAMA



Siapa yang sangka kalau ternyata diri saya lebih dipahami oleh orang lain. Saya kemudian malu. Saya kemudian stop untuk melanjutkan apa inisiatif dari tindakan saya yang telah saya lakukan sebelumnya. Tindakan saya yang semula nyaman dalam perspektif kebiasaan saya yang sudah terbilang dalam titik keseimbangan, menguras waktu kemudian beralih ke aktivitas lain . dan saya yakin aktivitas lain ini menjadi awal dari perubahan yang berarti buat saya. Terima kasih adik rezki telah mengingatkan saya akan tindakan saya yang tidak cerdas itu.

 Mudah-mudahan ini bisa menjadi refleksi saya agar lebih paham akan kondisi saya. Saya mau mencoba menjadi bulan purnama. Bulan yang sempurna. Bulan yang Dari beberapa tahap untuk bisa terang benderang dan banyak orang yang memimpikan akan hadirnya bulan purnama. Bulan purnama sebagai inspirasi para sastrawan untuk bisa menghadirkan cerita inspirasi yang bisa menghegemoni diri setiap orang yang sudah membaca karya mereka. Bulan purnama yang selalu menerangi para muda-mudi yang mencoba keberuntungan menelusuri jalan untuk mengabdikan diri pada jalan agar mendapat secercah harapan agar keinginannya bisa terwujud demi uang agar kegiatannya sukses kelak. 

Bulan purnama adalah simbol kesempurnaan. Sebagai ilustrasi akan indahnya dunia manakala malam yang gelap gulita dipancari bulan yang terang benderang. Bulan purnama yang selalu ada diingatanku. Apalagi bulan purnama yang merindukan para bujang yang berdoa ditengah hiruk pikuk kehidupan yang tidak ada yang tahu akan kegelisahan bujang itu. Bujang kemudian berdoa ditengah bulan memantulkan cahaya matahari yang indah. Sudah terfilter oleh bentuk bulan yang bulat manakala dilihat dari permukaan tanah bumi.

Saya dalam kondisi ini sudah berada pada dunia yang berbeda. Dunia yang dipenuhi emosional. Dunia dimana saya berada pada penyesalan akan tindakan saya kemarin. Dunia dimana saya memahami kondisi saya, kondisi orang yang tidak tahu diri akan dirinya sendiri. Buku yang dibacanya tidak sampai pada pemahaman holistik Cuma sekedar ambisi untuk menuntaskan buku itu. Bukan menuntaskan apa yang dipahami penulisnya. Itulah realitas yang sangat tidak masuk akal bagi sosok cerdas ketika melihat sisi dalam orang yang membaca itu.

Saya menyadari saya masih sangat dangkal. saya tidak menyesal kemarin saya telah memberikan kontribusi buat orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Saya sekarang hanya ingin lebih mengikhlaskan dan menumbuhkan ketulusan dari apa yang saya lakukan kemarin buat mereka. Saya bersyukur akan tindakan itu. Ternyata saya telah melakukannya. Saya berhasil dalam kondisi dimana mereka berhasil memenuhi keinginan mereka. Saya berterima kasih pada diri saya sendiri pada saat itu. Terima kasih. Saya bersyukur potensi fitrah saya keluar pada saat itu meskipun ada orientasi lain dibalik tindakan itu. Itulah makanya saya saya tinggal menumbuhkan ketulusan dibalik tindakan saya kemarin. 

Merindukan purnama sama halnya saya berusaha menjadikan diri saya seperti purnama. Saya akan menjadikan diri saya menjadi pribadi yang sempurna agar bisa memberi inspirasi kepada siapapun tanpa pamrih. Saya mau menjadi penerang siapa saja yang dalam kondisi gelap agar kehadiran saya bisa menerangi dan memberi pengharapan akan keinginan dan mewujudkannya. 

Terima kasih alam. Telah memberi tahu saya akan indahnya hidup. Hidup untuk dinikmati. Apapun itu tanpa terkecuali. Saya berjanji dalam kondisi ini , saya juga menyadari akan sikap saya yang selalu tidak konsisten. Inilah saya. Manusia biasa yang tak luput kesalahan. Saya menyadari akan hal itu.




No comments:

Post a Comment