“Selamat
pagi kawan” Sapa rio dengan raut wajah yang segar, disaat jiwa dan raga ini
sudah mulai terjaga 2 menit setelah terbangun dari tidur yang penuh dengan
ketakutan.
Ketakutan yang
mengantarkan saya ke alam bawa sadar yang hanyut dalam ruang dan waktu yang
mencekam perasaan dan pikiran. sosok mengerikan yang berwajah hancur seperti
tergores-gores silet, seluruh tubuh hitam dibalut kain putih bercampur darah
dan anehnya berkepala botak ditengahnya tetapi rambut tumbuh tepat di samping
kiri dan kanannya yang berantakan, hadir dan menampakan dirinya di alam bawa
sadar saya.
Saat
itu yang terlintas di pikiranku bahwa ternyata di dunia hantu ada salon
terbukti rambut hantu tersebut di model sedemikian rupa dengan model rambut
seperti di film kerajaan yang pernah saya tonton, saya juga bingung faktor apa
sehingga hantu tersebut berambut seperti itu karena baru di jojga yang bermimpi
hantu seaneh itu tetapi sangat menyeramkan.
Di alam bawa sadarku
hantu tersebut menampakan dirinya tepatnya di depan kamar mandi kontrakan kami
yang jaraknya tak jauh dari kamar kontrakan.
“Selamat pagi juga
kawan” jawab saya dengan perasaan takut, tapi pada saat itu saya enggan
menceritakan mimpi saya ke rio karena alasan tertentu.
Pasca
menjawab sapaan kawan saya rio saya mulai berpikir yang tidak-tidak. Tetapi yang kemudian harus saya perhatikan
adalah semalam merupakan perumpamaan yang membutuhkan perlindungan dari yang
maha kuasa agar kedepannya tidak terulang lagi. Saya baru menyadari semalam
saya tidak sempat berdoa untuk meminta perlindungan saat mau tidur.
Ini adalah awal yang
buruk berada di kota Jogjakarta, pikirku saat mengalami mimpi tersebut. Mengapa
tidak. saya dan rio baru tiga hari berada di kota Jogjakarta dan saya mengalami
mimpi yang aneh, tentu mimpi tersebut selalu membayangi saya.
Saya dan rio mahasiswa baru di universitas
Gadja Madah setelah lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru jalur SNMPTN 2011.
Saya mengambil jurusan sosiologi sedangkan rio mengambil jurusan ilmu filsafat.
kami berasal dari
daerah yang sama yaitu kendari. Tujuan kami kuliah di Universitas Gadja Madah
di Jogjakarta merupakan impian kami sejak duduk dibangku SMA tepatnya di kelas
2.
Bagaimanapun caranya
kita harus ke kota pendidikan dan kuliah disana yang tidak lain yaitu menimba
ilmu, itu komitmen kami pada saat itu dan Alhamdulillah kalimat tersebut sudah
teraplikasikan saat ini.
“anton? Kayaknya ini kontrakan
banyak hantunya” sapa rio dengan suara yang aneh. “kenapa bro? tanya saya dengan antusias
sambil memecah keanehan suaranya saat itu. “tidak,
cuman feeling saya mengatakan seperti itu.” Balas rio dengan raut wajah
yang tidak seperti biasanya. “ah… saya
rasa tidak, itu cuman perasaanmu saja bro”. jawab saya sambil menetralisir
keadaan pada saat itu. “iya, tapi saya
kadang merasa ada yang aneh ketika berada di kamar mandi bro, seperti ada yang
berjalan dan sejenisnya, tapi semoga itu Cuma perasaanku saja” balas rio
dengan antusias. “Hehehehe… Dasar
penakut!” pangkas saya dengan mendorong rio sambil tertawa canda. “hahahahaha,, kita lihat saja nanti kalau
terbukti bro” tutur rio sambil menuju halaman depan kontrakan kami. “Sip”. Teriak saya.
Tak berselang lama saya kembali memikirkan
perkataan rio. Perkataan tersebut merupakan doktrin yang membuat saya hanyut
dalam keadaan yang mengantarkan saya kepada ketakutan. Saya kembali teringat
mimpi saya yang belum berselang lama 4 hari yang lalu. Saya selalu
mengedepankan perasaan bahwa mimpi hanya bunga tidur tetapi pikiran saya selalu
mengarah ke sesuatu yang membuat saya merinding ketakutan, sembari mengingat
kronologis kejadian di mimpi saya itu. Akhirnya deringan panggilan masuk di
handphone saya pun memecah kebekuan yang saya alami.
“Assalamu’alaikum ! apakah ini
dengan Anton” Sapa Isthy teman kampus saya. “Waalaikum salam ! iya saya sendiri. Maaf
anda dengan siapa” jawab saya dengan penasaran. “saya isthy, saya baru saja ganti nomor handphone, bay the way mau tidak
sebentar malam kita ke bioskop? Ada film horror baru lho, Saya yakin seru
banget deh!” balas isthy dengan nada suara yang penuh dengan keceriaan. “gimana menurutmu? Tanya isthy.
Pada
saat itu saya cuman diam mendengar perkataan isthy yang penuh dengan semangat
dan keyakinan bahwa saya akan turuti ajakannya. saya Cuma memikirkan sesuatu
yang terjadi apabila saya tolak ajakannya. Saya yakin dia akan kecewa
“okelah.. terserah kamu.. uda dulu
ya? See you tonight” Jawabku dengan suara loyo. “ok” balas isthy.
Tibalah
saya pada kondisi yang memerlukan gagasan sebanyak mungkin untuk mencari
alternatif agar saya tidak nonton film horror tersebut. Saya juga tidak sampai
hati menolak ajakannya.
Dari
hasil akumulasi gagasan smpailah saya pada gagasan yang peluang terjadinya
sangat memungkinkan. Akhirnya tanpa berpikir lama saya menawarkan dia sesuatu
yang menurut dia sangat romantis dan berkesan dibandingkan dengan nonton film
di bioskop.
Saya
menawarkan diner di kontrakan saya. Kemudian saya kembali menghubunginya lewat
telepon genggam milikku. Mengotak atik handphone dan melihat daftar panggilan
masuk. Kemudian menemukan nomor baru isthy sebelum akhirnya saya meneleponnya
saya terlebih dahulu menyimpan nomor barunya ke daftar kontak saya.
“Assalamu’alaikum !”.
“Waalaikumsalam wrb.wb.! ada apa tampan?”
jawab Isthy dengan suara berapi-api. “Isthy?,
bagaimana dengan diner di kontrakanku?
Saya berinisiatif mengajakmu malam ini dan saya harap kau tidak tolak ajakanku.
Yang perlu kamu ketahui isthy, Sebenarnya sebelum kamu mengajakku nonton film
horror terbaru di bioskop sebentar malam saya sudah terlebih dahulu
mengagendakan malam ini agar kita diner di rumah kontrakanku. Kenapa tadi pada
saat isthy telepon saya tidak merespon, saya Cuma diam itu isyarat bahwa saya
bingung dan akhirnya saya beranikan diri melalui kesempatan ini bahwa saya
ingin memberitahukanmu. Mohon kau pertimbangkan itu”. Tuturku dengan penuh
kebohongan dengan harapan dia membatalkan ajakannya dan beralih ke ajakan saya.
Beberapa
alasan kenapa saya berbohong adalah karena saya sangat tidak tertarik dengan film
horror apalagi nontonnya di bioskop, terkesan mewah menurutku pada saat itu, atau
mungkin sebelumnya saya tidak terbiasa nonton di bioskop, ditambah saat itu
pikiranku di dominasi oleh ketakutan.
“hmm.. ok. Saya akan pikir-pikir dulu ya?” tutur
isthy dengan tidak memperdengarkan suara bisingnya.
Saya
yakin beliau bingung menentukan pilihannya karena film horror merupakan film
yang paling dia senangi dan ajakan saya merupakan masalah kemana arahnya
hubungan kami. Sebelumnya saya bingung apa alasan yang membuat isthy sangat
tertarik dengan film horror.
“Please
banget isthy cantik! Asal isthy tahu, dari kemarin saya sudah
mempersiapkannya…” tuturku dengan memecah keheningan.
Saya
memanfaatkan kondisi dimana pada saat itu dia terkesan memendam perasaannya ke
saya. Saya sangat yakin beliau mencintai saya semenjak kami berkenalan di
kampus tepatnya pada kuliah perdana kami. Keakrabanpun terjalin ketika kami
mengerjakan tugas kelompok di kontrakanku. Sampailah pada sekarang dengan rasa yang
bercampur aduk di dalamnya tetapi saya belum siap untuk menjalin hubungan yang
lebih jauh karena alasan tertentu.
“Okelah”
jawab isthy dengan memperdengarkan lagi suara bisingnya dan keceriaannya. “Ok. Terima kasih cantik, sampai ketemu entar
malam ya?” tuturku sambil tersenyum tipis. “iya tampan” jawabnya. Setelahnya saya segera mempersiapkan hidangan diner dengan
semenarik mungkin.
Tak
berselang lama rio menampakan dirinya di balik pintu dan menuju kearahku. “Anton? Apa yang sedang kamu kerjakan?” Tanya
rio sambil mengemil camila. “saya lagi
mempersiapkan diner sama Isthy bro.” jawabku sambil membersihkan meja
makan. “wah.. bagus donk.. akhirnya kamu mau
merespon dia, sebelumnya kamu rada jual mahal ketika di ajak sama dia. hehehe” Tutur
rio. “itu dulu bro… sekarang tidak.
Hehehe” sanggahku. “eh… bro.. ikutan
diner yuk? Lanjut saya dengan wajah yang mengarah ke arahnya. “ah.. sembarang. Jangan bercanda”. Jawab
rio. “saya tidak bercanda kawan”. Pangkasku
dengan wajah yang penuh dengan keseriusan.
“Sebenarnya apa yang kau pikirkan bro… itu sama saja membuat suasana tidak
stabil dengan kehadiranku” lanjut rio. Ketika itu saya Cuma diam tidak
melanjutkan percakapan. Yang terlintas di benak saya yaitu tidak mungkin dia
paham dengan apa yang saya rasakan. Saya juga tidak berani jelaskan detailnya
kenapa saya seperti itu. Saya Cuma khawatir dipikiran rio saya mempermainkan
perasaan isthy.
Jam
menunjukan pukul 20.00 WIB, kamipun melangsungkan diner tanpa rio. Sedangkan
rio sebelumnya minta izin ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas kuliah.
Jam
pun menunjukan pukul 20.30 WIB setelah
kami selesai diner dan Percakapan panjang pun tak terelakan.
Dalam
percakapan panjang beliau selalu membahas topik yang menurut saya tidak pantas
untuk dibicarakan. Bahkan beliau membahas tentang hubungan kami kedepannya.
Saya tidak menjawabnya, saya selalu mengalihkan topik pembicaraan kearah yang
lebih berbobot seperti masalah kuliah. Akhirnya saya berhasil mengontrol topik
pembicaraan ke persoalan kuliah.
Tidak
terasa jam menunjukan pukul 23.00 WIB, pada saat itu isthy belum ingin pulang.
Saya terus memaksanya untuk segera pulang karena persoalan keamanan. Tak
berlangsung lama terdengar suara anjing mengaung disamping kontrakanku. Saya
sempat tidak menghiraukan suara tersebut. Saya selalu berusaha menghilangkan
perasaan takut yang mendominasi saya pada saat mendengar suara tersebut apalagi
tak jarang saya mengingat perkataan rio dan mimpi saya sebelumnya. saya pun
merasa khawatir dengan kondisi saya.
Entah
apa yang terlintas dibenak saya pada saat itu ketika ketakutan mulai mendominasi
pikiran saya, saya kemudian mendekati isthy. Jarak kami pun tidak jauh berkisar
2 cm. pada akhirnya saya langsung memeluk isthy.
Tak berselang lama untuk menghilangkan rasa
takut yang berkecamuk di pikiran saya, saya kemudian menatap mata isthy dengan
tajam, saya berusaha memusatkan perhatiannya ke arah saya dan mendekatkan bibir saya ke bibirnya. Kami pun
berciuman.
“Isthy, saya mencintaimu ! maafkan saya jika
tingkahku selama ini tidak menunjukan rasaku tersebut. Itu semata-mata karena kekhawatiranku
jika berpaling dari orientasiku untuk cari ilmu di Jojga”. Tutur saya
sembari mencium kening isthy. “iya, saya
maafkan. Saya akan berusaha berada di sampingmu untuk selalu mendukungmu
disegala aktivitasmu”. Jawab sitti dengan nada suara yang tidak seperti
biasanya.
Perasaan
dan pikiran saya tenang ketika sudah meluapkan perasaan saya ke isthy, apalagi
kami terlibat dalam pertemuan bibir yang menurut saya sangat penting saat itu,
yaitu untuk mentransfer energy agar tidak takut dalam menghadapi kondisi yang
mencekam.
Tak
berselang lama kemudian kami mendengar suara benda jatuh di kamar mandi yang
jaraknya satu kamar dari tempat kami berada. Isthy pun menunjuk saya untuk
segera melihat benda jatuh tersebut. Dengan semangat berapi-api saya tidak
berpikir lama, saya langsung pergi melihat ke kamar mandi. Pada saat saya buka
pintu kamar mandi, yang kelihatan sosok persis di mimpi saya. ”hantuuuuuuuuuuuuuuu….!!” teriak saya
dengan perasaan takut yang luar biasa. Tak lama kemudian hantu tersebut
menghilang. “ahhhhhhhhh….” Teriak isthy melihat sosok tersebut muncul tepat
dibelakang dirinya setelah saya yang duluan melihatnya.
Kemudian
kami dengan tergesah-gesah keluar rumah dengan berlari menuju ke tempat yang
menurut kami aman. Kamipun tidak tau kemana arah kami berlari, karena ketakutan
sudah mendominasi pikiran dan perasaaan kami.
Anjing tak henti-hentinya memperdengarkan
gongongannya yang membuat kami seperti di dunia hantu.
Suasana
hening menyertai kami berdua di tengah suasana gelap mencekam kami saat itu. Akhirnya
saya berusaha bersikap tenang, meminimalisir ketakutan dengan memeluk isthy
sekuat-kuatnya. Disaat itulah pikiran dan perasaan saya mulai tenang.
Tak menunggu hantu tersebut datang, saya
kemudian mengantar isthy pulang ke rumahnya. Setelah mengantar isthy saya
langsung bergegas ke rumah teman untuk menginap.
Disaat
kondisi yang berkecamuk, saya berharap rio pulang ke rumah karena kekhawatiran
saya memuncak ketika pernah mendengar di daerah kontrakan kami banyak pencuri.
mengingat pintu kami tidak terkunci saat kabur menghindari hantu tersebut.
“Assalamu’alaikum !” salam
saya ketika teman kampus saya sedang asyik diskusi tentang mata kuliah dengan tetangga-tetangga
kostannya.
“Wa’alaikum salam warahmatullah” jawab
ardi teman kampus saya yang berasal dari kota Surabaya.
“Tumben bro tengah malam datang? Apa yang
mengantarkanmu sehingga datang tengah malam begini bro?” Tanya ardi
ditengah saya ingin ketenangan. Pertanyaan itu seperti membuat saya pusing.
“Sory bro.. saya mungkin telah mengganggu
diskusinya, saya malas di kost karena sendiri, itu alasan saya sehingga datang
disini, sekaligus saya ingin diskusi dengan kalian”. jawab saya.
“Baguslah,
saya ikut mengapresiasi kehadiranmu disini bro.. karena makin banyak orang
diskusi makin hidup suasana”. Sambung ardi.
“bro.
saya pinjam kamarmu, buat istrahat sejenak. Boleh? Tanya saya ke ardi.
“pakai
saja bro, tapi jangan lama ingat diskusi” jawab ardi. “ok. Bro”.
Tak
lama kemudian telepon genggam saya akhirnya berdering menandakan panggilan
masuk.
“anton dimana sekarang? Bagaimana dinernya?
Lanjar?” tanya rio yang saat itu sudah tiba di rumah kontrakan kami.
“lancar bro.. sekarang saya masih antar
isthy pulang ke rumahnya”. Tutur saya sambil berbohong.
“saya
khawatir jika kalian sudah pacaran bisa jadi banyak sesuatu tentang hal-hal
kecil yang dilupakan, terbukti pintu saja lupa di kunci, hehehe” pangkas
rio.
“hehehe.. sory bro..tapi saya yakin
itu pertama dan terakhir saya lupa kunci pintu. Oke?” lanjut
saya perasaan yang mulai tenang. “oke.
Bro, cepatan pulang.” sambung rio. “iya”
jawab saya.
Jam
menunjukan pukul 01.00 WIB. Saya teringat dengan penampakan hantu di kamar
mandi tadi.
Tubuh
dibalut kain putih, wajah tergores-gores bahkan kepala botak yang ditumbuhi
rambut di samping kiri dan kanan sangat persis di mimpi saya tapi penampakannya
dikamar mandi tadi sangat jelas dibandingkan dengan di alam bawa sadar saya
yang tidak terlalu jelas.
Kejelasannya
terlihat dengan lebih menyeramkan dengan bola mata putih semua, darah yang
melengket ditubuhnya, kuku-kuku yang panjannya berkisar 5 cm membuat hantu
tersebut semakin menyeramkan.
Saya
mulai ragu pulang ke rumah setelah kejadian itu. Saya kemudian mencari alasan
untuk memberi tahu rio bahwa saya malam ini tidak sempat pulang. Lalu saya
mengirim pesan melalui handphone saya bahwa saya tidak sempat pulang karena
waktu tidak memungkinkan.
Berkisar
10 menit setelah mengirim pesan, tiba-tiba dia menelpon. Dia merasa kurang
nyaman berada di kostan.
“bro… saya ke tempatmu sekarang, dimana
posisi? Tanya rio. “saya di rumahnya
ardi, saya tunggu” lanjut saya.
“oke” pangkas ardi sembari langsung
mematikan teleponnya.
Jam
menunjukan pukul 02.00 disaat itu rio tiba di kost ardi. Bersama ardi saya
menceritakan semua apa sebenarnya yang terjadi. Saya juga meminta maaf karena
sudah berbohong dan tidak terbuka seputar apa yang saya alami di kontrakan kami
tersebut.
Disaat
itulah rio memberitahuku bahwa sebenarnya dia sudah lama melihat hantu dengan kepala
ditengahnya botak dan tumbuh rambut disamping kiri dan kananya. Beliau melihat
ketika sedang membersihkan kamar mandi, disaat itu hantu tersebut sedang
memainkan rambutnya yang mungkin menurutnya kren. Bahkan beliau pernah melihat
hantu tersebut sedang menari ala tarian gamnam style. hehehe
Keesokan
harinya kami bergegas mencari kontrakan baru. Dan Alhamdulillah kami dapat
kontrakan yang lebih murah dan letaknya sangat strategis yaitu pas di depan
kampus Universitas Gadja Madah.
Kontrakan
kami sebelumnya meninggalkan banyak kenangan terutama hantu yang mempunyai
kepala botak dan disertai rambut tumbuh disamping kiri dan kananya. Terlebih
lagi kenangan yang sangat membekas yaitu ciuman pertama yang membuat saya
menemukan energik yang tidak di tahu dari mana sumbernya.
Terima
kasih.
No comments:
Post a Comment