Disela
keheningan ini, aku terbujur kaku ketika diri ini menyadari akan nikmat Allah
Swt yang begitu banyak. diantaranya nikmat berupa kesehatan dan waktu.
Nikmat
Kesehatan yang kemudian seharusnya disyukuri karena masih banyak orang yang kurang
mendapatkan kesehatan yang semestinya bahkan masih ada mereka yang berdiam
dirumah sakit mengharap penyakitnya sembuh.
serta
waktu yang kemudian dibuang percuma, tidak manfaatkan untuk hal-hal yang
berguna bagi diri sendiri, dan orang banyak.
Disela kesibukan saya main facebook di
kost teman saya yang bernama rian, tepatnya di jalan politeknik negeri Makassar,
kota Makassar, datanglah rian yang sebelumnya meminta izin untuk membeli beras
dan beberapa bungkus indomie, beliau memberitahukan tentang salah seorang teman
yang bernama hendri untuk segera saya mengirimkan nomor handphone ira. Saya
kemudian mengiyakan. Ira adik kelas saya sewaktu SMA. Hendri dan Rian teman
sekelas saya sejak kami SMA tapi sekarang kami kuliah di Makassar universitas
berbeda. Rian dan hendri di universitas yang sama yaitu UMI (Universitas Muslim
Indonesia) sedangkan saya kuliah di Universitas Hasanuddin.
Sejak SMA kami tidak begitu akrab tapi ketika
di makassar entah apa yang membuat kami begitu akrab, mungkin karena kami
disatukan dalam wadah organisasi daerah yang sering mempertemukan kami pada
akhirnya kami akrab satu sama lain.
Setelah saya mengirimkan nomor adik ira
ke hendri, badan ini serasa lelah, tak lama kemudian tanpa berpikir panjang
saya langsung membantingkan badan ke kasur yang tidak jauh jaraknya dengan
tempat duduk saya.
“Bro..
bro..! bangun sudah sore…” sahut
Rian ketika membangunkan saya dari tidur lelapku yang pada akhirnya tak
berselang lama dia pergi ke kamar sebelah kost untuk mengobrol dengan temannya
yang sering diajak main PS.
Sedikit membuka mata, terlihat sebagian
atas langit-langit kamar dengan samar-samar dan rasa nyeri pada perutpun terasa
dan ingin segera melampiaskan ke kamar mandi. Tapi rasa malas kemudian selalu
bersemayam dalam diri ini. Saya akhirnya melanjutkan tidur dengan sedikit
terjaga sambil menahan nyeri yang pada
akhirnya tertidur kembali.
“Wah..
Antonnnnn… Bangun ! kamu seperti orang tidak kenal waktu.”kembali
Rian dengan nada suara seperti melihat dia dalam keadaan marah besar. Tak
berselang lama kemudian saya memaksakan badan yang kaku ini untuk segera
beranjak dari pembaringan untuk segera mempersiapkan peralatan mandi. Rasa
nyeri dan bau badan yang lumayan menyengat memaksa kaki ini segera ke kamar
mandi.
Tit..tit..tit…dering
handphone terdengar di atas meja. ’Ahh..
siapa ini.. masih asyik main facebook…” guman saya ketika asyik bermain
facebook sambil mengisap rokok class mild dengan kondisi yang nyaman sehabis
mandi. Tak berselang lama saya menghampiri handphone saya dan melihat, ternyata
yang memanggil hendri. Tak berpikir panjang saya langsung mengambil handphone
dan menjawab telepon “Assalamualaikum bro…
dimana makan sahurnya sebentar.. kalau bisa kamu sahur di sekret saja…..” ajak
hendri sembari dengan suara yang sedikit memaksa.. “Siapa-siapa di sekret bro..? jawab saya dengan sedikit penasaran. “Ahh.. sedikit orang di sekret.. kami bertiga, saya, ical dan
ikbal” Balas hendri. Oke.. nanti di
kondisikan saja bro ! sampai jumpa kawan” Sambung saya sambil tersenyum
tipis dan kemudian langsung menutup teleponnya.
Sekret merupakan tempat kami berkumpul ketika
kami membahas agenda-agenda organisasi daerah dan kegiatan-kegiatan di kampung.
Besok tepatnya tanggal 10 Juli 2013
bertepatan awal ramadhan dari keputusan pemerintah yang menjatuhkan tanggal
tersebut sebagai 1 ramadhan 1434 H yang berbeda dengan keputusan Muhammadiyah
yang menanggalkan awal ramadhan pada tanggal 9 juli 2013. Hal itu sempat
membingungkan kami, tetapi pada akhirnya kami mengikuti keputusan pemerintah.
Pada jam 7 malam tepatnya saya dalam
keadaan merokok ditemani secangkir kopi torabika moka sambil chatting di
facebook dengan salah seorang teman di kampus, kemudian memaksa saya
berlama-lama. Seiring berjalannya waktu dan tanpa saya sadari jam sudah
menunjukan pukul 11 malam yang kemudian membuat saya kaget melihat waktu yang
berlalu begitu cepat. Saya kemudian sembari menghela napas panjang dengan
melihat disekeliling kostan dengan wajah yang bingung.
Saya kemudian mematikan laptop dan
keluar kamar sembari mencari udara segar
karena dikamar dipenuhi asap rokok yang sisa dua batang lagi bisa dikatakan habis
sebungkus rokok.
“Anton…
kita ke sekret yuk…” Sahut rian, sehabis nongkrong dengan
teman kost yang jago main PS itu. Yang kemudian memaksa dia berlama-lama di kostnya
dengan bertanding main PS. “Sekarang??” balas
saya. “Iya ,, tapi saya ke kamar mandi
dulu, buang air besar..” tambah rian. “Okela,
jangan keasyikan di kamar mandi bro..!” gurau saya dengan suara yang
sedikit mengejek… “ahhh… ada-ada saja
kamu bro” sambung Rian.
Saya kembali ke kamar kost, saya melihat
kamar yang seperti kapal pecah, buku bertaburan dimana-mana, gelas kopi sudah
tidak berada ditempatnya, asbak rokok yang sudah terlihat seperti air yang mau
tumpah karena sudah dipenuhi puntung rokok yang membuat saya merasa sadah
terlalu banyak mengisap rokok.
Saya akhirnya menata kamar pada kondisi
semula. Tak berselang lama deringan handphon berbunyi di sela kasur.
Tit..tit..tit… saya menghampiri hp, melihat siapa yang menelpon dan kemudian
mengangkatnya. Dan ternyata yang menelpon mama saya di kampung. Saya kaget,
tumben mama menelpon jam 11 biasanya jam-jam 8 sampai jam 9. Assalamu’alaikum… sapa mama. Walaikumsalam.. jawab saya dengan
kerinduan yang sangat mendalam. Anakku
besok puasa ya… lanjut mama. Iya ma..
saya puasa besok.. mama gimana khabarnya disitu? Dimana bapak?, tanya saya
dengan menahan kerinduan. Alhamdulillah
kami disini baik-baik saja, bapak lagi disamping mama. Jawab mama. Owwh.. sahut saya. Apa makan Sahurmu sebentar
anakku? Balas mama dengan lembut. “saya
sahur dengan nasi dengan mie saja mama” jawab saya dengan menahan tetesan
air mata yang ingin sekeali jatuh. “Jangan
terlalu makan indomie anakku.. besok harus makan dengan ikan dan sayur, jangan
indomie terus kamu makan anakku” mendengar perkataan mama dan tak kuasa kuasa menahan air mata ini yang
kemudian jatuh di kasur tempat saya duduk bersila. Hati ini rasanya diterpa
badai dahsyat. Suara mama memaksa badan ini terlihat kaku seperti disiram air
samudera atlantis yang sangat dingin. “mama
maafkan saya, saya sudah banyak salah sama mama, saya rindu sekali sama mama
dan bapak”. Jawab saya dengan suara yang tidak memperdengarkan suara
kesedihan yang saya alami. “iya anakku
mama maafkan.. tapi lain kali jangan makan indomie terus anakku..” lanjut
mama. “Iya mama..”sahut saya. “Kalau begitu kamu tidur anakku, jaga
kesehatanmu dan jangan bergadang terlalu larut karena tidak lama lagi sahur dan
kamu harus tidur secepatnya”. Lanjut mama dengan nada suara sangat
menyentuh hatiku. “Iya ma… kalau begitu
saya tidur dulu. Assalamualaikum”. sahut saya dengan bertambahnya kerinduan
yang serasa sudah meluap-luap. “Walaikum
salam anakku”. balas mama sembari langsung mematikan teleponnya.
Kembali saya merenung dengan penuh
kesalahan dan kebodohan, disela waktu yang sudah saya gunakan di makassar
selalu didominasi oleh kegiatan yang tidak produktif. Hal itu terlihat ketika
saya menghabiskan waktu secara percuma.
Saya merindukan orang tua dikampung yang
kemudian mengarahkan saya pada hal-hal yang membuat saya terkesan melalaikan
perintah Tuhan, bahkan saya menyianyiakan waktu dan orientasi saya ke makassar
dan bahkan saya merasa tersiksa tidak sahur bareng keluarga saya dikampung.
Hati-hati ini terasa tercabik-cabik.
“Anton?
Mari.. kita pergi ke sekret..” Sapa rian dengan
memecah keheningan yang bercampur rasa didalamnya, ada rasa bersalah, sedih,
rindu, gelisah yang terakumulasi menjadi satu. Baiklah.. sembari bangit dari duduk saya yang kaku dan mengambil
jaket yang bertuliskan rei yang digantung di tempat penggantungan baju di dekat
pintu itu. Dan tak lama kemudian jam menunjukan pukul 11.25 wita kami langsung
ke sekret yang berjarak lebih kurang 500 meter dari tempat kami tinggal.
Sepanjang perjalanan saya selalu memikirkan orang tua saya di kampung, saya
baru menyadari ini puasa yang tidak ditemani orang tua saya di kampung, saya
mengingat tahun kemarin yang begitu menyenangkan ketika sahur bareng sama
keluarga tercinta, suara orang tuaku tadi membuat saya memasuki dimensi
problematika, semua kesalahan dan hal-hal negatif selalu saja muncul dalam
pikiran dan benak saya.
Tak terasa kami pun tiba di sekret
dengan selamat, jam hampir menunjukan pukul 12 malam. Saya tiba di sekret
dengan wajah yang tidak biasa, ketika teman-teman di sekret menyapa saya, saya
hanya membalas dengan senyum terpaksa dengan tidak mengeluarkan sepata kata
pun. Teman-teman ketika itu melihat saya dengan wajah yang bingung, entah apa
yang mereka pikirkan, saya tidak mempedulikan, saya berharap semoga mereka
tidak berfikiran macam-macam kepada saya. Tidak berselang lama kemudian saya
langsung ke kamar sekret dan langsung istrahat sesuai permintaan mama tadi. Sebelum
tidur tiba-tiba saya langsung kepikiran untuk menjalankan sholat tahajud. Saya
kemudian berniat dalam hati bangun sebelum sahur untuk menjalankan sholat
tahajud.
Alhamdullah. Saya bangun tepatnya jam
2.30 dini hari. tak berpikir panjang saya langsung mengambil air wudhu dan
selanjutnya langsung menunaikan sholat tahajud.
Ya
Allah… hari ini adalah hari yang berkah dimana hari ini adalah awal ramadhan,
pintu-pintu syurgaMu Engkau buka selebar-lebarnya dan pintu-pintu nerakaMu
engkau tutup serapat-rapatnya. Oleh karena itu izinkan diri ini bertobak
kepadamu. Ya Allah ampunilah dosa-dosaku. Ya Allah terima kasih Engkau telah
membuka hatiku dengan cara yang yang luar biasa.. Aku mohon ampunilah
dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku Ya Allah.. terima kasih Engkau telah
memberikan kedua orang tua yang selalu menyayangi aku . Yang Selalu menasehati aku di kala aku sudah
termakan bujukan setan.. Terima kasih ya Allah.. dan jagalah imanku agar aku
tidak melanggar perintahMu… dan jadikan hamba yang kotor ini menjadi orang yang
berbakti kepada kedua orang tua hamba ya Allah. Amin ya Rabbal alamin.
Doa yang penuh dengan penyesalan pun
terus terucap dengan lancarnya tanpa beban. Semoga hati ini selalu dibarengi
dengan cahaya-cahaya iman.
Jam sudah menjukan pukul 3.00, waktu
sahur pun tiba. Saya kemudian membangunkan teman-teman saya dengan wajah yang
ceria, wajah yang penuh energy,
“Bro..
bro.. bangun… sudah waktunya sahur. Ini sahur perdana kita, jadi jangan
buang-buang waktu lagi”. Sahut saya dengan penuh semangat.
Tak berselang lama kemudian mereka bangun dengan wajah yang diliputi dengan
rasa ngantuk. Saya kemudian menyiapkan makanan yang ada di dapur dan
mempersiapkan sarapan yang sebagian lauknya kami beli di warung.
Kami pun menyantap makanan dengan
lahapnya, wajah-wajah yang sebelumnya terlihat ngantuk kini hilang setelah
dibasuh dengan air dingin di subuh yang damai. Tak jarang teman-teman mengejek
saya dikala mereka melihat saya sebelumnya ketika memasuki sekret dengan tidak
penuh semangat tetapi sekarang berubah 180 derajat.
Ramadhan kali ini merupakan ramadhan
yang merubah mindset dan perilaku saya, banyak cerita yang kemudian tidak
semuanya saya luapkan disini. Saya pun membuat agenda keseharian dengan tidak
terlepas dengan memanfaatkan momen ramadhan dengan kegiatan yang menambah
khazanah keislaman saya, membuang kebisaan yang tidak produktif.
Kebisaan main facebook saya kurangi,
saya selalu menyempatkan waktu dengan membaca Al-Qur’an dan terjemahannya.
Kebiasaan merokok saya hilangkan dengan sungguh-sungguh, kebisaan tidur pun
saya kurangi dengan menggantinya membaca buku Islam, atau buku yang menambah
pengetahuan saya.
Bulan ramadhan merupakan bulan yang
penuh dengan berkah dan karuniaNya. Bulan ramdhan membuat saya menyadari betapa
bodoh saya dari segala tindakan saya sebelumnya. Insya Allah saya akan
manfaatkan bulan ramadhan dengan sebenar-benarnya. Alhamdulillahirabbilalamin.
No comments:
Post a Comment