Sunday, 26 January 2014

Hidup adalah pilihan



Memahami kehidupan tentu tak luput dari berbagai persoalan yang dihadapkan pada situasi yang kadang mengharuskan kita untuk memilih sesuatu dan lain hal yang mengarahkan kita kepada akibat dari pilihan kita tersebut. tentu akibat dari pilihan begitu berpengaruh dalam kehidupan kita selanjutnya. Pilihan yang akan kita pilih senantiasa akan memberikan dampak yang teramat luas bagi kita selanjutnya dan malah dibalik pilihan yang kita putuskan merupakan scenario dari sang pencipta yang tidak kita ketahui substansinya. 

Saat lulus SMP dulu saya dihadapkan pada 2 pilihan yaitu lanjut di SMA kampungku yang tidak lain pilihan orang tuaku atau SMK pilihanku yang berada diluar kampungku yang berada di Kota. 

Melihat kondisi orang tuaku yang menginginkan saya untuk lanjut di SMA kampungku memang membuat saya bimbang akan pilihan yang nantinya saya putuskan. Dan memang orang tuaku tidak menginginkan saya untuk lanjut di SMK karena berbagai pertimbangan terutama bagimana nantinya keadaanku jika jauh dari orang tua. Saya sering memberitahukan kepada orang tuaku bahwa saya bisa jaga diri dan terlebih mempromosikan sekolah di SMK yang menjanjikan tamatan yang berkualitas dan siap kerja dengan skill yang diperoleh dan salah satu  faktor juga kenapa saya memilih SMK karena dikampung tidak mempunyai sekolah SMK. mendengar apa yang saya bahasakan ke orang tuaku, beliau tetap pada keinginannya semula dengan mengatakan tidak mengizinkan saya untuk lanjut disekolah pilihanku. sering berjalannya waktu dengan tak luput dari pengharapanku untuk lanjut di SMK, berbagai kesepakatan dan alasan yang saya beritahukan kepada orang tuaku tetapi diluar apa yang saya harapkan. Melihat orang tuaku yang rasanya tidak menginginkan apa apa yang menjadi niatku membuat saya makin frustasi. Akhirnya keluar pernyataanku dengan mengatakan “apabila saya tidak sekolah di SMK, maka saya tidak sekolah. Mendengar statmentku dan kebulatan tekadku membuat orang tuaku sempat bingung.  


akhirnya orang tuaku memutuskan untuk mengizinkan saya untuk lanjut di SMK pilihanku dengan harapan agar menjaga diri dan tidak terjerumus pada hal-hal yang merugikan diri sendiri.

Seiring berjalannya waktu yang ku tempuh dalam masa-masa aku sekolah di SMK berbagai rintangan dan cobaan yang aku rasakan. Mulai dari telatnya kiriman orang tua, kelaparan, kerinduanku yang berkecamuk pada keluargaku terutama mama dan bapak serta adik-adikku tercinta, dan masih banyak lagi rintangan dan cobaan yang melandaku yang saya asumsikan sebelumnya. coba seandainya dulu aku mengikuti apa yang dikatakan orang tuaku, pasti aku tidak akan sensara seperti ini. Paling yang aku pikirkan hanya persoalan sekolah, kalau persoalan makan, kebutuhan sekolah tidak mungkin aku pikirkan karena sudah tanggung jawab orang tuaku, tapi setelah saya pikir-pikir hal-hal yang seperti itu merupakan konsekuensi dari apa saya pilih dan harus saya jalani dengan tegar dan ikhlas dalam keadaan apapun karena mendengar perkataan senior-seniorku dikampus bahwasanya “jangan pernah menyesali setiap pilihan yang pernah kita buat. Walaupun pada akhirnya kita tahu, pilihan itu salah. Walaupun pilihan itu membuat kita terluka. Berfikir positif adalah salah satu cara Tuhan mengajari kita tentang arti hidup. Agar kita lebih mengerti, lebih paham, dan belajar untuk tak mengulangi pilihan yang salah itu dikemudian hari.

Dari sekilas kisah diatas menggambarkan bahwa akibat dari keputusanku tentu dapat berakibat keganjilan bagi kita semua jika tidak dilandasi dengan berbagai pertimbangan atau analisis ketika mengambil keputusan dalam memilih perkara yang mau dijalani atau sejenisnya. 

Tentu beratnya pilihan jika kita tidak pandai dalam menganalisis atau mempertimbangkan matang-matang tentu rasa menyesal atau kekecewaan yang kita dapatkan. 

Teman sejurusan saya yang bernama juminah pernah mengatakan hidup adalah pilihan dan olehnya itu pilihlah dengan hati dan niat yang ikhlas. Saya sempat sempat berfikir. Pilihan yang seperti apa itu? Bukankah pilihan hanya sebatas impian, angan dan keinginan belaka. Saya tidak menginginkan hidupku miskin seperti ini, dan kenapa hidupku jauh dari apa yang saya harapkan.

Merenung dikegelapan malam membuat saya sedikt paham. Tentu suatu pilihan yang gampang jika seseorang diberi pilihan, ketika misalkan : "mau kaya atau miskin ?" Tentu saja semua akan memilih kaya. Kenapa? Pandangan orang dalam kekayaan tentu berhubungan dengan materi, punya uang banyak, punya banyak mobil, rumah mewah, punya banyak perusahaan dan lain sebagainya.

Kenapa miskin tidak pernah menjadi pilihan saya? Siapa yang pernah memilih menjadi miskin? Tidak ada, bukan? Jadi, menjadi miskin berarti bukan pilihan setiap manusia, juga bukan karena bawaan sejak lahir. Mereka hanya kurang beruntung. Atau mungkin ada yang menyebutnya malas berusaha, atau nasibnya sial, atau entah apa. Jadi, adalah salah jika karena kaya atau miskin lantas menyebabkan perbedaan derajat setiap manusia. Dan pada dasarnya setiap manusia itu sederajat. Yang terpenting bagi kita adalah bisa hidup harmonis dengan sesama tanpa memandang kaya atau miskin, karena setiap manusia tentu saja menginginkan menjadi kaya dan terhormat. Hanya saja keberuntungan dan kesempatan yang mungkin belum didapat.

Tapi yang perlu diketahui adalah miskin materi bukan berarti miskin hati dan dibalik miskin materi ada scenario dari Tuhan untuk hambanya yang dikehendaki. Tentu ilmu Allah tidak mungkin kita jangkau.

Saya juga sempat memikirkan kenapa saya tidak seperti juminah yang memiliki kecerdasan intelektual yang diatas rata-rata teman-teman saya?
Mengutip perkataan orang bijak  bahwa “pilihan itu adalah doa yang didasari dengan hati, kesungguhan , dan niat yag kuat untuk berubah dan berbuat semaksimal mungkin memberdayakan kemampuan yg dimiliki dan terus menambah dengan belajar dari alam, senior dan rekanan. Hanya satu modal sikap ” Rendah hati”.
 Juminah pintar hingga detik ini karena melihat kesungguhan dia untuk belajar dan berjuang serta tiada henti-hentinya meminta kepada Allah dengan sholatnya yang selama ini saya perhatikan dengan tiada hentinya dan yang paling penting beliau sangat rendah. 

Akhirnya saya sadar betapa ruginya saya kenapa dulu tidak memilih untuk belajar bukan bermain.. Kenapa saya tidak memilih untuk sholat dengan niat hanya untuk berharap keridhoanNya serta bersungguh-sungguh dan berjuang meraih apa yang menjadi cita-cita saya? kenapa saya hanya bergaul dan bergaul yang tidak bermanfaat dan malah membuat karakterku dan hatiku diliputi oleh-oleh persepsi-persepsi yang negative dari teman-teman yang kurang membangun. Dan kesalahan terbesar saya adalah tidak memilih dan bertindak sebelumnya untuk mengantarkan saya pada keadaan hidup saya sekarang yang lebih bermakna. Orang bijak mengatakan: “Kamu memilih berbuat dengan membaca buku sekarang tentu kamu akan mendapatkan hasilnya dikemudian hari”. Dan orang yang beruntung menurut saya adalah orang yang pandai memilih perkara dalam hadupnya yang tak luput dari analisa matang dan tekad yang sungguh-sungguh untuk meraih impiannya. 

Teman-teman, setiap orang berhak memilih kehidupannya, karena hidup adalah pilihan. Yang perlu kita sadari adalah ketika kita sudah menentukan pilihan kehidupan kita, maka berusahalah menjiwai peran kehidupan tersebut dan menjadikannya pilihan hidup yang dapat membahagiakan kita. 

Berusahalah menjadikan setiap pilihan kehidupan yang kita jalani menjadi bagian dari kebahagiaan kita. Intinya, apapun pilihan hidup yang sudah kita tentukan, jadikanlah sebagai bagian dari sumber kebahagiaan kita. Kalau kita merasakan tidak bahagia dalam apa yang kita kerjakan saat ini, bagaimana mungkin mengharapkan kebahagiaan dalam realitas kehidupan kita sekarang ? Your life is in your hands, to make of it what you choose. Hidupmu ada di kedua tanganmu, untuk menentukan pilihanmu. (John Kehoe).

Setiap hidup orang pasti punya pilihan dan pilihan itu bukan hanya sekedar memilih hitam atau putih, tapi juga dia harus berjuang dengan keras kalau perlu sampai mati demi tujuannya itu. (Muh. Ikhsan)

Karena itu juga orang hidup ada kalanya harus “bermain-main’ dengan rencana Tuhan, karena dia sendiri nggak tau apa yang bakal Tuhan berikan esok, sebab hidup nggak mungkin berhenti apalagi berjalan mundur. Setiap orang harus memperjuangkan masa depan karena dia sendiri nggak tahu mau apa jadi dia di masa depannya. 

Biarpun resiko dari perjuangan itu adalah kematian, tapi itulah yang namanya masa depan.
 “Di sebuah hutan ada 2 telur ayam di sebuah sarang. Dua telur ini milik induk ayam hutan yang bersarang di sebuah dahan pohon. Mereka siap menjadi anak ayam.
Telur pertama berkata, “Aku ingin lahir, lalu tumbuh kuat. Aku ingin bermanfaat bagi yang lain dengan suaraku. Aku akan berkokok dengan keras membangunkan mereka di pagi hari agar mereka kembali beraktivitas.” Dan kemudian telur ayam itu menetas menjadi ayam jantan yang gagah. 

Telur kedua bergumam, “Aku takut. Bila aku menetas, aku takut dimakan ular. Jika indukku tak ada, aku harus mencari makan sendiri. Lalu aku kedinginan dan kehujanan, tidak hangat seperti di dalam telur ini. Tidak. Aku lebih baik dan aman berselimut di dalam telur ini.”

Dan telur ayampun menunggu dalam kesendirian. Tapi suatu hari ada angin yang cukup kencang berhembus. Kuatnya angin mendorong telur kedua jatuh dari pohon. Dan telur itupun pecah dan mati.

 Ada 2 buah bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama berkata, “aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan kaki dalam-dalam ditanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku diatas  kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku.”
Dan bibit itu tumbuh, makin menjulang.
Bibit yang kedua berguman. “Aku takut. Jika aku tanamkan akarku ke dalam tanah ini, aku tak tahu, apa yang akan ku temui dibawah sana. Bukankah disana sangat gelap? Dan jika ku teroboskan tunasku ke atas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak.

Apa yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu sampai semuanya aman.”

Dan bibit itu pun menunggu, dalam kesendirian.
Beberapa pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi, dan mencaploknya segera.

Renungan :
Berdiam diri atau tak memilih, juga bukan pilihan yang tepat. Karena sejalan dengan waktu, semua akan berubah. Tak mau berubah berakibat mengalami ketragisan yang sama dengan dalih yang kita ciptakan dan memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup . selalu saja ada lakon-lakon yang harus kita jalani , namun seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian, keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri.

Kita kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tidak mau melangkah, tak mau menatap hidup. Karena hidup adalah pilihan maka pahami dan analisis pilihan yang akan diputuskan dan singkirkan penghalang yang bisa mempengaruhi persepsi anda dan dituntut lebih tegas dan berani dalam mengeksekusi pilihan serta. “Selalu saja ada pilihan dalam hidup. Selalu saja ada skenario-skenario yang harus kita lakoni. Beratnya pilihan dan belum jelasnya masa depan, kerapkali kita berada dalam kepesimisan dan kebimbangan. (Mochamad Yusuf). Maka yang perlu ditekankan adalah hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak. “Jangan segan untuk mengulurkan tangan anda. Tetapi, jangan anda enggan untuk menjabat tangan orang lain yang datang  pada anda.”
(Pope John XXIII)

Rajawali merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia, dpt mencapai 70 tahun. Tapi untuk mencapai umur itu seekor rajawali harus membuat keputusan besar pada umurnya yang ke 40.  saat umur 40 thn, cakarnya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada.
Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga menyulitkan saat terbang.
Saat itu, ia hanya mempunyai 2 pilihan:
Menunggu kematian atau menjalani proses transformasi yang menyakitkan selama 150 hari. saat melakukan transformasi itu, ia harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses berlangsung.

Prosesnya : mula2 ia harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, dan kemudian menunggu tumbuhnya paruh baru. Setelah tumbuh paruhnya, dengan paruh yang baru, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya. ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu.  suatu proses yang panjang dan menyakitkan.

5 bulan kemudian,  bulu-bulu yang baru sudah tumbuh. Ia mulai dapat terbang kembali. dengan bulu, paruh dan cakar baru.  Ia mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi! pesan moral : dalam kehidupan,  kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang besar untuk memulai suatu proses pembaruan. Berani membuang kebiasaan2 lama yang mengikat, meskipun itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan . 

Hanya bila kita bersedia melepaskan kelekatan, membuka diri untuk belajar hal-hal baru, kita mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yg terpendam, mengasah keahlian kita sepenuhnya dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan! 

Tantangan terbesar untuk berubah ada di dalam diri sendiri dan kitalah sang penguasa atas diri kita sendiri!  Kita yang menentukan tenggelam atau bangkit menjadi baru ??

Alkisah, ada seorang pemuda yang mengeluh kepada ayahnya bahwa hidupnya menderita dan ia tidak tahu jalan keluarnya. Ia lelah berjuang dan bergumul sepanjang waktu. 

Kebetulan ayahnya adalah seorang juru masak. Sang ayah membawa putranya itu ke dapur. "Ayah, aku bukan mau belajar memasak. Kenapa ayah membawaku ke dapur?" keluh putranya. 

"Anakku, perhatikan saja yang ayah kerjakan", katanya sambil menuangkan air ke dalam tiga panci berbeda, dan mendidihkannya. Setelah mendidih, dimasukkannya wortel ke dalam panci pertama, telur ke panci kedua, dan biji kopi ke panci ketiga. Kira-kira 20 menit kemudian, dengan hati-hati, sang ayah menuangkan wortel di panci pertama ke sebuah mangkok yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Lalu, telur ditaruh di mangkok lain dan air biji kopi dituangkannya ke dalam sebuah gelas. 

"Nah. Kamu lihat tadi. Tiga benda, wortel-telur-biji kopi, sama-sama dimasukkan ke dalam air yang mendidih. Apa yang terjadi? Respons setiap benda ternyata tidak sama. Pertama, wortel; sebelumnya keras kan? Tetapi setelah dimasukkan ke dalam air mendidih, lama-kelamaan berubah menjadi lunak. Kedua, telur; karena ada dalam kondisi air mendidih, cairan dalam telur yang terlindungi cangkang tipis, akan mengeras. Ketiga, biji kopi; ia perlahan mengubah kualitas air dan menciptakan sesuatu yang baru dengan cara melebur menjadi satu dengan sifat air itu. Selain itu, ia menaburkan wangi semerbak ke sekitarnya. 

"Wortel, telur dan biji kopi diibaratkan sebagai tiga macam reaksi manusia terhadap rintangan dan halangan yang harus dihadapinya. Seperti wortel, saat menemui rintangan, perlahan tapi pasti ia akan melemah dan akhirnya tak berdaya. Sedangkan telur, saat menghadapi halangan, akan berubah menjadi pribadi yang keras, kuat, dan tangguh. Lebih hebatnya lagi, seperti biji kopi, dia mampu melebur dan bahkan menyebarkan bau wangi berupa kebaikan dan kedermawanan kepada orang-orang di sekitar pada situasi sesulit apa pun. 

"Karena itu, Nak, dalam menjalani hidup ini, tidak peduli menghadapi rintangan atau halangan apa pun, jangan pernah mengeluh dan bersedih. Coba pikirkan kembali tiga benda ini. Kamu bisa menjadi wortel, telur, atau biji kopi. Pilihan ada di tanganmu."
Netter yang Luar Biasa

Kita tahu, sebuah masalah tidak akan selesai dengan bersedih hati dan berkeluh kesah terus-menerus. Karena sejatinya, hidup adalah akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang kita buat setiap waktu. Apapun pilihan keputusan kita, akan menentukan sukses atau gagal di kemudian hari. Karenanya, mari kita pastikan, terus belajar dan berjuang agar bijak dalam menentukan pilihan yang kita putuskan serta mampu membawa kebaikan bagi diri sendiri dan sesama.  Kalau kita bisa memilih bahwa hidup ini adalah perjuangan, kita akan optimis menyiapkan segala sesuatunya dalam menghadapi apa pun, untuk menciptakan sukses di kemudian hari.

Salam sukses luar biasa!

Baik atau buruk yang kita pilih adalah sesuatu keaslian dalam watak diri dari yang namanya manusia. Apabila yang baik kita pilih maka baik pula akibat dari perbuatannya, namun sebaliknya bila buruk yang kia ambil maka akan menghasilkan yang buruk pula dalam perbuatannya. Akan tetapi belum tentu baik di mata manusia baik pula di mata Allah, mungkin sebaliknya buruk di mata manusia namun adakalanya baik di mata Allah SWT semua itu tergantung niatan kita dalam menjalaninya. Sebagai contoh seorang yang berbuat baik seperti beramal soleh ( sedekah) tetapi didalamnya ada maksud riya dan riba maka menurut pandangan Allah itu tidak baik akan tetapi di mata manusia perbuatan itu sangat baik. terkait juga dalam persoalan memilih pasangan hidup,  kita beranggapan bahwa wanita yang saat ini menjadi kekasih anda adalah sosok yang pas buat pendamping hidup anda kelak. Dan itu belum tentu karena realitas sekarang banyak pasangangan yang berakhir dimeja dipengadilan (cerai). Karena tak ter elakan lagi manusia mempunyai batas ilmu yang di milikinya sehingga ia tidak tahu apa yang ada dalam hati orang yang berbuat baik tersebut.

Hidup adalah akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang kita buat setiap waktu. Apapun pilihan keputusan kita, akan menentukan sukses atau gagal di kemudian hari. Karenanya, mari kita pastikan, terus belajar dan berjuang agar bijak dalam menentukan pilihan yang kita putuskan serta mampu membawa kebaikan bagi diri sendiri dan sesama.

Kalau kita bisa memilih bahwa hidup ini adalah perjuangan, kita akan optimis menyiapkan segala sesuatunya dalam menghadapi apa pun, untuk menciptakan sukses di kemudian hari. 

Dalam menjalani hidup ini, tidak peduli menghadapi rintangan atau halangan apa pun, jangan pernah mengeluh dan bersedih. Sesungguhnya Allah SWT tidak suka dengan hambanya yang bersedih jika diterpa rintangan dan halangan bahkan cobaan.
 

No comments:

Post a Comment