Memahami
kehidupan tentu tak luput dari berbagai persoalan yang dihadapkan pada situasi
yang kadang mengharuskan kita untuk memilih sesuatu dan lain hal yang
mengarahkan kita kepada akibat dari pilihan kita tersebut. tentu akibat dari pilihan
begitu berpengaruh dalam kehidupan kita selanjutnya. Pilihan yang akan kita
pilih senantiasa akan memberikan dampak yang teramat luas bagi kita selanjutnya
dan malah dibalik pilihan yang kita putuskan merupakan scenario dari sang
pencipta yang tidak kita ketahui substansinya.
Saat
lulus SMP dulu saya dihadapkan pada 2 pilihan yaitu lanjut di SMA kampungku
yang tidak lain pilihan orang tuaku atau SMK pilihanku yang berada diluar
kampungku yang berada di Kota.
Melihat
kondisi orang tuaku yang menginginkan saya untuk lanjut di SMA kampungku memang
membuat saya bimbang akan pilihan yang nantinya saya putuskan. Dan memang orang
tuaku tidak menginginkan saya untuk lanjut di SMK karena berbagai pertimbangan
terutama bagimana nantinya keadaanku jika jauh dari orang tua. Saya sering
memberitahukan kepada orang tuaku bahwa saya bisa jaga diri dan terlebih
mempromosikan sekolah di SMK yang menjanjikan tamatan yang berkualitas dan siap
kerja dengan skill yang diperoleh dan salah satu faktor juga kenapa saya memilih SMK karena
dikampung tidak mempunyai sekolah SMK. mendengar apa yang saya bahasakan ke orang
tuaku, beliau tetap pada keinginannya semula dengan mengatakan tidak mengizinkan
saya untuk lanjut disekolah pilihanku. sering berjalannya waktu dengan tak
luput dari pengharapanku untuk lanjut di SMK, berbagai kesepakatan dan alasan
yang saya beritahukan kepada orang tuaku tetapi diluar apa yang saya harapkan.
Melihat orang tuaku yang rasanya tidak menginginkan apa apa yang menjadi niatku
membuat saya makin frustasi. Akhirnya keluar pernyataanku dengan mengatakan “apabila
saya tidak sekolah di SMK, maka saya tidak sekolah. Mendengar statmentku dan
kebulatan tekadku membuat orang tuaku sempat bingung.
akhirnya
orang tuaku memutuskan untuk mengizinkan saya untuk lanjut di SMK pilihanku
dengan harapan agar menjaga diri dan tidak terjerumus pada hal-hal yang
merugikan diri sendiri.
Seiring
berjalannya waktu yang ku tempuh dalam masa-masa aku sekolah di SMK berbagai
rintangan dan cobaan yang aku rasakan. Mulai dari telatnya kiriman orang tua,
kelaparan, kerinduanku yang berkecamuk pada keluargaku terutama mama dan bapak
serta adik-adikku tercinta, dan masih banyak lagi rintangan dan cobaan yang
melandaku yang saya asumsikan sebelumnya. coba seandainya dulu aku mengikuti
apa yang dikatakan orang tuaku, pasti aku tidak akan sensara seperti ini.
Paling yang aku pikirkan hanya persoalan sekolah, kalau persoalan makan,
kebutuhan sekolah tidak mungkin aku pikirkan karena sudah tanggung jawab orang
tuaku, tapi setelah saya pikir-pikir hal-hal yang seperti itu merupakan
konsekuensi dari apa saya pilih dan harus saya jalani dengan tegar dan ikhlas
dalam keadaan apapun karena mendengar perkataan senior-seniorku dikampus
bahwasanya “jangan pernah menyesali setiap pilihan yang pernah kita buat.
Walaupun pada akhirnya kita tahu, pilihan itu salah. Walaupun pilihan itu
membuat kita terluka. Berfikir positif adalah salah satu cara Tuhan mengajari
kita tentang arti hidup. Agar kita lebih mengerti, lebih paham, dan belajar
untuk tak mengulangi pilihan yang salah itu dikemudian hari.
Dari
sekilas kisah diatas menggambarkan bahwa akibat dari keputusanku tentu dapat
berakibat keganjilan bagi kita semua jika tidak dilandasi dengan berbagai
pertimbangan atau analisis ketika mengambil keputusan dalam memilih perkara
yang mau dijalani atau sejenisnya.
Tentu beratnya pilihan
jika kita tidak pandai dalam menganalisis atau mempertimbangkan matang-matang
tentu rasa menyesal atau kekecewaan yang kita dapatkan.
Teman sejurusan saya yang
bernama juminah pernah mengatakan hidup adalah pilihan dan olehnya itu pilihlah
dengan hati dan niat yang ikhlas. Saya sempat sempat berfikir. Pilihan yang
seperti apa itu? Bukankah pilihan hanya sebatas impian, angan dan keinginan
belaka. Saya tidak menginginkan hidupku miskin seperti ini, dan kenapa hidupku
jauh dari apa yang saya harapkan.
Merenung dikegelapan malam
membuat saya sedikt paham. Tentu suatu pilihan yang gampang jika
seseorang diberi pilihan, ketika misalkan : "mau kaya atau miskin ?" Tentu
saja semua akan memilih kaya. Kenapa? Pandangan orang dalam kekayaan tentu
berhubungan dengan materi, punya uang banyak, punya banyak mobil, rumah mewah,
punya banyak perusahaan dan lain sebagainya.
Kenapa miskin tidak
pernah menjadi pilihan saya? Siapa yang pernah memilih menjadi miskin? Tidak
ada, bukan? Jadi, menjadi miskin berarti bukan pilihan setiap manusia, juga
bukan karena bawaan sejak lahir. Mereka hanya kurang beruntung. Atau mungkin
ada yang menyebutnya malas berusaha, atau nasibnya sial, atau entah apa. Jadi,
adalah salah jika karena kaya atau miskin lantas menyebabkan perbedaan derajat
setiap manusia. Dan pada dasarnya setiap manusia itu sederajat. Yang terpenting
bagi kita adalah bisa hidup harmonis dengan sesama tanpa memandang kaya atau
miskin, karena setiap manusia tentu saja menginginkan menjadi kaya dan
terhormat. Hanya saja keberuntungan dan kesempatan yang mungkin belum didapat.
Tapi yang perlu
diketahui adalah miskin materi bukan berarti miskin hati dan dibalik miskin
materi ada scenario dari Tuhan untuk hambanya yang dikehendaki. Tentu ilmu
Allah tidak mungkin kita jangkau.
Saya juga sempat
memikirkan kenapa saya tidak seperti juminah yang memiliki kecerdasan
intelektual yang diatas rata-rata teman-teman saya?
Mengutip perkataan orang
bijak bahwa “pilihan itu adalah doa
yang didasari dengan hati, kesungguhan , dan niat yag kuat untuk berubah dan
berbuat semaksimal mungkin memberdayakan kemampuan yg dimiliki dan terus
menambah dengan belajar dari alam, senior dan rekanan. Hanya satu modal sikap ”
Rendah hati”.
Juminah pintar hingga detik ini karena melihat
kesungguhan dia untuk belajar dan berjuang serta tiada henti-hentinya meminta
kepada Allah dengan sholatnya yang selama ini saya perhatikan dengan tiada
hentinya dan yang paling penting beliau sangat rendah.
Akhirnya
saya sadar betapa ruginya saya kenapa dulu tidak memilih untuk belajar bukan
bermain.. Kenapa saya tidak memilih untuk sholat dengan niat hanya untuk
berharap keridhoanNya serta bersungguh-sungguh dan berjuang meraih apa yang
menjadi cita-cita saya? kenapa saya hanya bergaul dan bergaul yang tidak
bermanfaat dan malah membuat karakterku dan hatiku diliputi oleh-oleh
persepsi-persepsi yang negative dari teman-teman yang kurang membangun. Dan
kesalahan terbesar saya adalah tidak memilih dan bertindak sebelumnya untuk
mengantarkan saya pada keadaan hidup saya sekarang yang lebih bermakna. Orang
bijak mengatakan: “Kamu memilih berbuat
dengan membaca buku sekarang tentu kamu akan mendapatkan hasilnya dikemudian
hari”. Dan orang yang beruntung menurut saya adalah orang yang pandai
memilih perkara dalam hadupnya yang tak luput dari analisa matang dan tekad
yang sungguh-sungguh untuk meraih impiannya.
Teman-teman,
setiap orang berhak memilih kehidupannya, karena hidup adalah pilihan. Yang
perlu kita sadari adalah ketika kita sudah menentukan pilihan kehidupan kita,
maka berusahalah menjiwai peran kehidupan tersebut dan menjadikannya pilihan
hidup yang dapat membahagiakan kita.
Berusahalah
menjadikan setiap pilihan kehidupan yang kita jalani menjadi bagian dari
kebahagiaan kita. Intinya,
apapun pilihan hidup yang sudah kita tentukan, jadikanlah sebagai bagian dari
sumber kebahagiaan kita. Kalau kita merasakan tidak bahagia dalam apa yang kita
kerjakan saat ini, bagaimana mungkin mengharapkan kebahagiaan dalam realitas
kehidupan kita sekarang ? Your life is in
your hands, to make of it what you choose. Hidupmu ada di kedua tanganmu, untuk
menentukan pilihanmu. (John Kehoe).
Setiap hidup orang pasti punya pilihan dan pilihan itu bukan
hanya sekedar memilih hitam atau putih, tapi juga dia harus berjuang dengan
keras kalau perlu sampai mati demi tujuannya itu. (Muh. Ikhsan)
Karena itu juga orang
hidup ada kalanya harus “bermain-main’ dengan rencana Tuhan, karena dia sendiri
nggak tau apa yang bakal Tuhan berikan esok, sebab hidup nggak mungkin berhenti
apalagi berjalan mundur. Setiap orang harus memperjuangkan masa depan karena
dia sendiri nggak tahu mau apa jadi dia di masa depannya.
Biarpun resiko dari
perjuangan itu adalah kematian, tapi itulah yang namanya masa depan.
“Di sebuah hutan ada 2 telur ayam di sebuah
sarang. Dua telur ini milik induk ayam hutan yang bersarang di sebuah dahan
pohon. Mereka siap menjadi anak ayam.
Telur
pertama berkata, “Aku ingin lahir, lalu tumbuh kuat. Aku ingin bermanfaat bagi
yang lain dengan suaraku. Aku akan berkokok dengan keras membangunkan mereka di
pagi hari agar mereka kembali beraktivitas.” Dan kemudian telur ayam itu
menetas menjadi ayam jantan yang gagah.
Telur
kedua bergumam, “Aku takut. Bila aku menetas, aku takut dimakan ular. Jika
indukku tak ada, aku harus mencari makan sendiri. Lalu aku kedinginan dan
kehujanan, tidak hangat seperti di dalam telur ini. Tidak. Aku lebih baik dan
aman berselimut di dalam telur ini.”
Dan
telur ayampun menunggu dalam kesendirian. Tapi suatu hari ada angin yang cukup
kencang berhembus. Kuatnya angin mendorong telur kedua jatuh dari pohon. Dan
telur itupun pecah dan mati.
“Ada 2 buah
bibit tanaman yang terhampar di sebuah ladang yang subur. Bibit yang pertama
berkata, “aku ingin tumbuh besar. Aku ingin menjejakkan kaki dalam-dalam
ditanah ini, dan menjulangkan tunas-tunasku diatas kerasnya tanah ini. Aku ingin membentangkan
semua tunasku, untuk menyampaikan salam musim semi. Aku ingin merasakan
kehangatan matahari, dan kelembutan embun pagi di pucuk-pucuk daunku.”
Dan
bibit itu tumbuh, makin menjulang.
Bibit
yang kedua berguman. “Aku takut. Jika aku tanamkan akarku ke dalam tanah ini,
aku tak tahu, apa yang akan ku temui dibawah sana. Bukankah disana sangat gelap?
Dan jika ku teroboskan tunasku ke atas, bukankah nanti keindahan tunas-tunasku
akan hilang? Tunasku ini pasti akan terkoyak.
Apa
yang akan terjadi jika tunasku terbuka, dan siput-siput mencoba untuk
memakannya? Dan pasti, jika aku tumbuh dan merekah, semua anak kecil akan
berusaha untuk mencabutku dari tanah. Tidak, akan lebih baik jika aku menunggu
sampai semuanya aman.”
Dan
bibit itu pun menunggu, dalam kesendirian.
Beberapa
pekan kemudian, seekor ayam mengais tanah itu, menemukan bibit yang kedua tadi,
dan mencaploknya segera.
Renungan :
Berdiam diri atau tak memilih, juga bukan pilihan yang
tepat. Karena sejalan dengan waktu, semua akan berubah. Tak mau berubah
berakibat mengalami ketragisan yang sama dengan dalih yang kita ciptakan dan
memang, selalu saja ada pilihan dalam hidup . selalu saja ada lakon-lakon yang
harus kita jalani , namun seringkali kita berada dalam kepesimisan, kengerian,
keraguan, dan kebimbangan-kebimbangan yang kita ciptakan sendiri.
Kita
kerap terbuai dengan alasan-alasan untuk tidak mau melangkah, tak mau menatap
hidup. Karena hidup adalah pilihan maka pahami dan analisis pilihan yang akan
diputuskan dan singkirkan penghalang yang bisa mempengaruhi persepsi anda dan
dituntut lebih tegas dan berani dalam mengeksekusi pilihan serta.
“Selalu saja ada pilihan dalam
hidup. Selalu saja ada skenario-skenario yang harus kita lakoni. Beratnya
pilihan dan belum jelasnya masa depan, kerapkali kita berada dalam kepesimisan
dan kebimbangan. (Mochamad Yusuf).
Maka yang perlu ditekankan adalah hadapilah itu dengan gagah. Dan karena hidup
adalah pilihan, maka, pilihlah dengan bijak. “Jangan segan untuk mengulurkan tangan anda. Tetapi, jangan anda enggan
untuk menjabat tangan orang lain yang datang
pada anda.”
(Pope
John XXIII)
Rajawali merupakan
jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia, dpt mencapai 70
tahun. Tapi untuk mencapai umur itu seekor rajawali harus membuat keputusan
besar pada umurnya yang ke 40. saat umur 40 thn, cakarnya mulai menua,
paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada.
Sayapnya menjadi
sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga menyulitkan
saat terbang.
Saat itu, ia hanya
mempunyai 2 pilihan:
Menunggu kematian
atau menjalani proses transformasi yang menyakitkan selama 150 hari. saat
melakukan transformasi itu, ia harus berusaha keras terbang ke atas puncak
gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di
sana selama proses berlangsung.
Prosesnya : mula2 ia
harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari
mulutnya, dan kemudian menunggu tumbuhnya paruh baru. Setelah tumbuh paruhnya,
dengan paruh yang baru, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya. ketika
cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi
satu. suatu proses yang panjang dan
menyakitkan.
5 bulan
kemudian, bulu-bulu yang baru sudah
tumbuh. Ia mulai dapat terbang kembali. dengan bulu, paruh dan cakar baru. Ia mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya
dengan penuh energi! pesan moral : dalam kehidupan, kadang kita juga harus melakukan suatu
keputusan yang besar untuk memulai suatu proses pembaruan. Berani membuang kebiasaan2 lama yang mengikat, meskipun itu
adalah sesuatu yang tidak menyenangkan .
Hanya bila kita
bersedia melepaskan kelekatan, membuka diri untuk belajar hal-hal baru, kita
mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yg terpendam, mengasah
keahlian kita sepenuhnya dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan!
Tantangan terbesar
untuk berubah ada di dalam diri sendiri dan kitalah sang penguasa atas diri
kita sendiri! Kita yang menentukan
tenggelam atau bangkit menjadi baru ??
Alkisah, ada seorang pemuda yang mengeluh kepada ayahnya bahwa hidupnya
menderita dan ia tidak tahu jalan keluarnya. Ia lelah berjuang dan bergumul
sepanjang waktu.
Kebetulan ayahnya
adalah seorang juru masak. Sang ayah membawa putranya itu ke dapur. "Ayah,
aku bukan mau belajar memasak. Kenapa ayah membawaku ke dapur?" keluh
putranya.
"Anakku,
perhatikan saja yang ayah kerjakan", katanya sambil menuangkan air ke
dalam tiga panci berbeda, dan mendidihkannya. Setelah mendidih, dimasukkannya
wortel ke dalam panci pertama, telur ke panci kedua, dan biji kopi ke panci
ketiga. Kira-kira 20 menit kemudian, dengan hati-hati, sang ayah menuangkan
wortel di panci pertama ke sebuah mangkok yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
Lalu, telur ditaruh di mangkok lain dan air biji kopi dituangkannya ke dalam
sebuah gelas.
"Nah. Kamu lihat
tadi. Tiga benda, wortel-telur-biji kopi, sama-sama dimasukkan ke dalam air
yang mendidih. Apa yang terjadi? Respons setiap benda ternyata tidak sama. Pertama, wortel; sebelumnya keras
kan? Tetapi setelah dimasukkan ke dalam air mendidih, lama-kelamaan berubah
menjadi lunak. Kedua,
telur; karena ada dalam kondisi air mendidih, cairan dalam telur yang
terlindungi cangkang tipis, akan mengeras. Ketiga, biji kopi; ia perlahan mengubah kualitas air dan
menciptakan sesuatu yang baru dengan cara melebur menjadi satu dengan sifat air
itu. Selain itu, ia menaburkan wangi semerbak ke sekitarnya.
"Wortel, telur
dan biji kopi diibaratkan sebagai tiga macam reaksi manusia terhadap rintangan
dan halangan yang harus dihadapinya. Seperti wortel, saat menemui rintangan,
perlahan tapi pasti ia akan melemah dan akhirnya tak berdaya. Sedangkan telur,
saat menghadapi halangan, akan berubah menjadi pribadi yang keras, kuat, dan
tangguh. Lebih hebatnya lagi, seperti biji kopi, dia mampu melebur dan bahkan
menyebarkan bau wangi berupa kebaikan dan kedermawanan kepada orang-orang di
sekitar pada situasi sesulit apa pun.
"Karena itu,
Nak, dalam menjalani hidup ini, tidak peduli menghadapi rintangan atau halangan
apa pun, jangan pernah mengeluh dan bersedih. Coba pikirkan kembali tiga benda
ini. Kamu bisa menjadi wortel, telur, atau biji kopi. Pilihan ada di
tanganmu."
Netter yang Luar Biasa,
Kita tahu, sebuah
masalah tidak akan selesai dengan bersedih hati dan berkeluh kesah
terus-menerus. Karena sejatinya, hidup adalah akumulasi dari
keputusan-keputusan kecil yang kita buat setiap waktu. Apapun pilihan keputusan
kita, akan menentukan sukses atau gagal di kemudian hari. Karenanya, mari kita
pastikan, terus belajar dan berjuang agar bijak dalam menentukan pilihan yang
kita putuskan serta mampu membawa kebaikan bagi diri sendiri dan sesama. Kalau kita bisa memilih bahwa hidup ini adalah
perjuangan, kita akan optimis menyiapkan segala sesuatunya dalam menghadapi apa
pun, untuk menciptakan sukses di kemudian hari.
Salam sukses luar
biasa!
Baik
atau buruk yang kita pilih adalah sesuatu keaslian dalam watak diri dari yang
namanya manusia. Apabila yang baik kita pilih maka baik pula akibat dari
perbuatannya, namun sebaliknya bila buruk yang kia ambil maka akan menghasilkan
yang buruk pula dalam perbuatannya. Akan tetapi belum tentu baik di mata
manusia baik pula di mata Allah, mungkin sebaliknya buruk di mata manusia namun
adakalanya baik di mata Allah SWT semua itu tergantung niatan kita dalam
menjalaninya. Sebagai contoh seorang yang berbuat baik seperti beramal soleh (
sedekah) tetapi didalamnya ada maksud riya dan riba maka menurut pandangan
Allah itu tidak baik akan tetapi di mata manusia perbuatan itu sangat baik.
terkait juga dalam persoalan memilih pasangan hidup, kita beranggapan bahwa wanita yang saat ini
menjadi kekasih anda adalah sosok yang pas buat pendamping hidup anda kelak.
Dan itu belum tentu karena realitas sekarang banyak pasangangan yang berakhir
dimeja dipengadilan (cerai). Karena tak ter elakan lagi manusia mempunyai batas
ilmu yang di milikinya sehingga ia tidak tahu apa yang ada dalam hati orang
yang berbuat baik tersebut.
Hidup
adalah akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang kita buat setiap waktu.
Apapun pilihan keputusan kita, akan menentukan sukses atau gagal di kemudian
hari. Karenanya, mari kita pastikan, terus belajar dan berjuang agar bijak
dalam menentukan pilihan yang kita putuskan serta mampu membawa kebaikan bagi
diri sendiri dan sesama.
Kalau
kita bisa memilih bahwa hidup ini adalah perjuangan, kita akan optimis
menyiapkan segala sesuatunya dalam menghadapi apa pun, untuk menciptakan sukses
di kemudian hari.
Dalam
menjalani hidup ini, tidak peduli menghadapi rintangan atau halangan apa pun,
jangan pernah mengeluh dan bersedih. Sesungguhnya Allah SWT tidak suka dengan
hambanya yang bersedih jika diterpa rintangan dan halangan bahkan cobaan.
No comments:
Post a Comment