Pemilihan
umum presiden sudah di depan mata. Bursa kandidat yang berpeluang menjadi
nakhoda bangsa ini untuk lima tahun ke depan masih di isi oleh wajah-wajah
lama. Ada beberapa wajah baru yang muda dan cukup menjanjikan baik dari segi
elektabilitas maupun kualitas kepemimpinan. Hadirnya figur-figur alternatif
ini, harus diakui, menjadikan pemilu 2014 cukup menarik dan istimewa. Di tengah
fenomena golput yang persentasenya cukup signifikan dalam pemilu sebelumnya,
antusiasme pemilih untuk berpartisipasi dalam pilpres kali ini menurut data
yang dilansir oleh beberapa lembaga survey menunjukan peningkatan animo di
kalangan pemilih utamanya para pemilih muda.
Ada
beberapa alasan yang dapat menjelaskan perkembangan ini. Pertama, kaum muda sebagai
bagian dari segmen masyarakat yang kritis sangat merindukan kemimpinan yang
mampu membawa perubahan nyata. Kedua, elit-elit politik yang ada dinilai tidak
mampu menjawab ekspektasi publik yang sudah lelah dengan sandiwara dan dagelan politik
yang dimainkan para elit tersebut. Figur-figur yang mendududuki posisi puncak
dan posisi strategis lainnya dianggap tidak memiliki kualitas kepemimpinan
untuk mengatasi krisis yang membayangi bangsa saat ini. Kekecewaan ini dianggap
cukup berdasar karena para elit politik dinilai lebih mementingkan deal-deal yang sifatnya transaksional
ketimbang memikirkan kepentingan rakyat secara luas.
Pemimpin
adalah figur yang diserahi amanah dan kepercayaan oleh khalayak yang
dipimpinnya untuk selanjutnya mengemban amanah tersebut dengan sepenuh hati dan
jiwa demi kemaslahatan bersama. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara
dalam bingkai demokrasi, pemimpin berkewajiban memastikan bahwa rakyatlah
sebagai pemegang penuh kedaulatan baik di bidang ekonomi, sosial, politik
maupun budaya. Kehadiran pemimpin yang sadar akan nilai dan tujuan kepemimpinan
serta berkomitmen menjalankan tanggung jawab dan kewajibannya akan mendorong
terciptanya negara yang berkeadilan dan sejahtera sebagimana diidealkan oleh
Aristoteles, filsuf Yunani kuno, ribuan tahun yang lalu. Karakter kepemimpinan
yang diidealkan oleh Aristoteles tersebut merupakan watak kepemimpinan dalam
demokrasi yang mendefinisikan pemerintahan, yang digambarkan dengan sangat
menarik oleh Abraham Lincoln, sebagai dari rakyat, oleh rakyat dan untuk
rakyat. Dalam negara demokrasi, pemimpin ditentukan berdasarkan kehendak rakyat
banyak melalui mekanisme pemilihan yang dilakukan secara berkala.
Dalam
konteks negara republik, sosok pemimpin sebagai kepala negara atau kepala
pemerintahan umumnya mewujud dalam diri seorang presiden. Sosok presiden
harapan adalah yang mencerminkan nilai-nilai keutamaan sebagai teladan,
pengayom dan penggerak perubahan menuju kehidupan yang lebih adil dan sejahtera
baik material maupun spiritual. Dalam kenyataannya, tidak mudah mendapatkan
sosok presiden seperti yang didambakan. Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa
sosok presiden dengan kualitas kepemimpinan yang autentik sepertinya menjadi
barang langka. Setuju atau tidak, Indonesia saat ini masih didera krisis
kepemimpinan yang ditandai dengan absennya sikap kenegarawanan dalam diri figur
para penyelangara negara. Oleh karena itu, suksesi kepemimpinan di 2014 ini
merupakan momentum emas bagi rakyat Indonesia untuk memilih pemimpin yang
benar-benar mengutamakan kepentingan rakyat dan bangsa di atas kepentingan pribadi
dan kelompok.
Seperti
apakah sosok presiden dambaan rakyat yang diharapkan muncul dari perhelatan
demokrasi 2014 ini?. Saya berharap presiden yang akan terpilih dalam perhelatan
demokrasi kali ini adalah sosok pemimpin yang peka dengan kesulitan yang mendera
rakyatnya. Presiden yang mau menyapa dan melihat langsung rakyatnya. Presiden
yang tidak akan tenang tidurnya sebelum rakyat dari Sabang sampai Merauke
tercukupi kebutuhan pangan dan sandangnya. Presiden yang tidak hanya
duduk-duduk dibelakang meja menunggu laporan dari para pembantunya. Kehadiran
pemimpin di tengah warganya penting untuk melihat lebih dekat keluhan dan
permasalahan yang dihadapi warga. Persentuhan langsung dengan realitas menurut
Aristoteles akan menggugah kesadaran jauh lebih kuat bagi para pemimpin
ketimbang hanya mendengar dari laporan, sehingga pada gilirannya akan terlahir
kebijakan yang menjawab kebutuhan rakyat.
Lebih
jauh, Indonesia saat ini sangat membutuhkan sosok negarawan yang mampu
mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan 1945 sebagai jembatan emas bagi
terciptanya masyarakat yang adil dan makmur sebagai mana visi para pendiri
bangsa. Pemimpin yang setia dan taat pada konstitusi dan mampu menjaga
kebhinekaan Indonesia. Presiden yang negarawan adalah mesti sosok yang terbuka
terhadap kritik, tegar menghadapi kesulitan, tahan terhadap segala cemohan,
hinaan dan caci maki serta berdiri paling depan dalam memimpin perang terhadap
korupsi. Presiden maupun pemimpin yang negarawan lahir dari individu-individu
dengan jejak rekam yang cemerlang, memiliki integritas dan visioner.
Bagaimanapun
juga, Indonesia masih belum keluar dari krisis yang mendera. Korupsi di segala
lini, penegakan hukum yang jalan di tempat, kesenjangan sosial, angka
kemiskinan yang masih tinggi menimbulkan pesimisme (atau kekecewaan?) yang
meluas terhadap pemerintahan saat ini. Bagi sebagian besar rakyat, lebih dari
dua dekade reformasi tidak membawa perubahan berarti. Ekonomi, politik,
penegakkan hukum, pendidikan, kesehatan dan ketersediaan lapangan kerja tidak
beranjak jauh dengan situasi sebelum reformasi. Oleh karena itu, rakyat
Indonesia harus mengambil pelajaran dari yang sudah-sudah, dan lebih jeli
memilih pemimpin dalam suksesi kepemimpinan nasional 2014 kali ini. Rakyat
harus memanfaatkan momentum pemilu ini sebaik-baiknya agar lahir pemimpin
nasional yang mampu mengangkat kembali martabat dan wibawa bangsa sehingga
menjadi kekuatan yang disegani didunia.
No comments:
Post a Comment