Tuesday, 15 April 2014

MENANTI PRESIDEN HARAPAN RAKYAT



Pemilihan umum presiden sudah di depan mata. Bursa kandidat yang berpeluang menjadi nakhoda bangsa ini untuk lima tahun ke depan masih di isi oleh wajah-wajah lama. Ada beberapa wajah baru yang muda dan cukup menjanjikan baik dari segi elektabilitas maupun kualitas kepemimpinan. Hadirnya figur-figur alternatif ini, harus diakui, menjadikan pemilu 2014 cukup menarik dan istimewa. Di tengah fenomena golput yang persentasenya cukup signifikan dalam pemilu sebelumnya, antusiasme pemilih untuk berpartisipasi dalam pilpres kali ini menurut data yang dilansir oleh beberapa lembaga survey menunjukan peningkatan animo di kalangan pemilih utamanya para pemilih muda.

Ada beberapa alasan yang dapat menjelaskan perkembangan ini. Pertama, kaum muda sebagai bagian dari segmen masyarakat yang kritis sangat merindukan kemimpinan yang mampu membawa perubahan nyata. Kedua, elit-elit politik yang ada dinilai tidak mampu menjawab ekspektasi publik yang sudah lelah dengan sandiwara dan dagelan politik yang dimainkan para elit tersebut. Figur-figur yang mendududuki posisi puncak dan posisi strategis lainnya dianggap tidak memiliki kualitas kepemimpinan untuk mengatasi krisis yang membayangi bangsa saat ini. Kekecewaan ini dianggap cukup berdasar karena para elit politik dinilai lebih mementingkan deal-deal yang sifatnya transaksional ketimbang memikirkan kepentingan rakyat secara luas.
Timbulnya krisis kepemimpinan ini tidak terlepas dari kegagalan kita memaknai fungsi dan tanggung jawab pemimpin dan kepemimpinan. Pemimpin dan kepemimpinan dalam konteks kebangsaan kita dalam dirinya melekat kepentingan rakyat dan bangsa yang harus diutamakan dan didahulukan dari kepentingan apapun. Krisis kepemimpinan yang terjadi saat ini bagaimanapun juga timbul sebagai akibat kesalahan kolektif kita yang mudah terpikat dengan pencitraan dan tampilan fisik figur ketimbang melihat secara jernih kualitas individu, kemampuan memimpin, integritas dan rekam jejaknya. Agar tidak mengulang kesalahan kolektif ketika memilih pemimpin, maka yang mendesak untuk dilakukan adalah meng-edukasi masyarakat agar lebih njelimet dan cerdas dalam menggunakan hak politiknya. Cerdas yang dimaksud adalah memilih pemimpin berdasarkan kapasitas, integritas dan rekam jejak yang cemerlang. Kemampuan menggunakan hak politik secara cerdas hanya mungkin bila masyarakat pemilih khususnya kaum muda memahami dengan baik hakikat pemimpin dan kepemimpinan serta kriteria pemimpin yang mampu mengatasi persoalan bangsa saat ini. Apakah sebenarnya pemimpin itu dan seperti apakah pemimpin yang kita dambakan itu?

Pemimpin adalah figur yang diserahi amanah dan kepercayaan oleh khalayak yang dipimpinnya untuk selanjutnya mengemban amanah tersebut dengan sepenuh hati dan jiwa demi kemaslahatan bersama. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara dalam bingkai demokrasi, pemimpin berkewajiban memastikan bahwa rakyatlah sebagai pemegang penuh kedaulatan baik di bidang ekonomi, sosial, politik maupun budaya. Kehadiran pemimpin yang sadar akan nilai dan tujuan kepemimpinan serta berkomitmen menjalankan tanggung jawab dan kewajibannya akan mendorong terciptanya negara yang berkeadilan dan sejahtera sebagimana diidealkan oleh Aristoteles, filsuf Yunani kuno, ribuan tahun yang lalu. Karakter kepemimpinan yang diidealkan oleh Aristoteles tersebut merupakan watak kepemimpinan dalam demokrasi yang mendefinisikan pemerintahan, yang digambarkan dengan sangat menarik oleh Abraham Lincoln, sebagai dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam negara demokrasi, pemimpin ditentukan berdasarkan kehendak rakyat banyak melalui mekanisme pemilihan yang dilakukan secara berkala.

Dalam konteks negara republik, sosok pemimpin sebagai kepala negara atau kepala pemerintahan umumnya mewujud dalam diri seorang presiden. Sosok presiden harapan adalah yang mencerminkan nilai-nilai keutamaan sebagai teladan, pengayom dan penggerak perubahan menuju kehidupan yang lebih adil dan sejahtera baik material maupun spiritual. Dalam kenyataannya, tidak mudah mendapatkan sosok presiden seperti yang didambakan. Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa sosok presiden dengan kualitas kepemimpinan yang autentik sepertinya menjadi barang langka. Setuju atau tidak, Indonesia saat ini masih didera krisis kepemimpinan yang ditandai dengan absennya sikap kenegarawanan dalam diri figur para penyelangara negara. Oleh karena itu, suksesi kepemimpinan di 2014 ini merupakan momentum emas bagi rakyat Indonesia untuk memilih pemimpin yang benar-benar mengutamakan kepentingan rakyat dan bangsa di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

Seperti apakah sosok presiden dambaan rakyat yang diharapkan muncul dari perhelatan demokrasi 2014 ini?. Saya berharap presiden yang akan terpilih dalam perhelatan demokrasi kali ini adalah sosok pemimpin yang peka dengan kesulitan yang mendera rakyatnya. Presiden yang mau menyapa dan melihat langsung rakyatnya. Presiden yang tidak akan tenang tidurnya sebelum rakyat dari Sabang sampai Merauke tercukupi kebutuhan pangan dan sandangnya. Presiden yang tidak hanya duduk-duduk dibelakang meja menunggu laporan dari para pembantunya. Kehadiran pemimpin di tengah warganya penting untuk melihat lebih dekat keluhan dan permasalahan yang dihadapi warga. Persentuhan langsung dengan realitas menurut Aristoteles akan menggugah kesadaran jauh lebih kuat bagi para pemimpin ketimbang hanya mendengar dari laporan, sehingga pada gilirannya akan terlahir kebijakan yang menjawab kebutuhan rakyat. 

Lebih jauh, Indonesia saat ini sangat membutuhkan sosok negarawan yang mampu mewujudkan cita-cita proklamasi kemerdekaan 1945 sebagai jembatan emas bagi terciptanya masyarakat yang adil dan makmur sebagai mana visi para pendiri bangsa. Pemimpin yang setia dan taat pada konstitusi dan mampu menjaga kebhinekaan Indonesia. Presiden yang negarawan adalah mesti sosok yang terbuka terhadap kritik, tegar menghadapi kesulitan, tahan terhadap segala cemohan, hinaan dan caci maki serta berdiri paling depan dalam memimpin perang terhadap korupsi. Presiden maupun pemimpin yang negarawan lahir dari individu-individu dengan jejak rekam yang cemerlang, memiliki integritas dan visioner.

Bagaimanapun juga, Indonesia masih belum keluar dari krisis yang mendera. Korupsi di segala lini, penegakan hukum yang jalan di tempat, kesenjangan sosial, angka kemiskinan yang masih tinggi menimbulkan pesimisme (atau kekecewaan?) yang meluas terhadap pemerintahan saat ini. Bagi sebagian besar rakyat, lebih dari dua dekade reformasi tidak membawa perubahan berarti. Ekonomi, politik, penegakkan hukum, pendidikan, kesehatan dan ketersediaan lapangan kerja tidak beranjak jauh dengan situasi sebelum reformasi. Oleh karena itu, rakyat Indonesia harus mengambil pelajaran dari yang sudah-sudah, dan lebih jeli memilih pemimpin dalam suksesi kepemimpinan nasional 2014 kali ini. Rakyat harus memanfaatkan momentum pemilu ini sebaik-baiknya agar lahir pemimpin nasional yang mampu mengangkat kembali martabat dan wibawa bangsa sehingga menjadi kekuatan yang disegani didunia.

No comments:

Post a Comment