sadar maupun tidak sadar kita di hidup di dunia ini tak
luput dari apa yang nampak, apa yang dialami, atau apa yang kita dapati, segala
hal yang membuat kita mengalami efek atau akibat dari semua hal itu. kita
mungkin mengingat dewasa ini akan masa-masa dimana kita tergolong masih sangat
kecil. Pemikiran masih sangat primitif, masih sangat tidak peka. Itulah masa-masa
dimana kita masih sangat belia. Sangat kanak-kanak. Belum terlalu memikirkan
hal-hal yang mendasar yang kemudian berdampak pada sesuatu yang lain, yang
saling berhubungan, saling terkait. Kita tidak memikirkan hal-hal itu.
keterhubungan itu kita enggan untuk memikirkan.
Kita dewasa ini mengakui bahwa semasa kecil, apapun yang
kita lakukan pasti berdampak. Entah itu malas mengerjakan tugas rumah yang
kemudian berefek pada nilai kita yang kurang bagus sewaktu SD. Pikiran akan hal
itu sewaktu SD memang sudah eksis, tetapi terkadang kita terfokus pada hal itu,
kita tidak memikirkan hal lain yang saling berhubungan yang kemudian dampaknya ternyata
bukan Cuma tidak mendapat nilai bagus, tetapi ada hal lain yang menjadi
akibatnya. kita kemudian tidak terlalu mempersoalkan. Kita sewaktu belia itu thanya
memikirkan akan nilai tidak bagus, atau malah sewaktu belia ada juga anak yang
tidak memahami akan dampak dari tidak mengerjakan tugas itu.
Seirin berjalannya waktu ada kemudian anak tidak mau
nilainya kurang bagus yang mengarahkan dia harus mengerjakan tugas. Ditambah
dengan arahan orang tua yang selalu mengingatkan anaknya manakala mau menjelang
tidur supaya mengerjakan tugas dahulu sebelum tidur. Tak jarang pesan orang tua atau saudara
kandung atau juga orang-orang terdekatnya yang kemudian memberikan pemahaman
akan dampak dari tidak mengerjakan tugas itu yang kemudian menambah pemahaman
akan pentingnya mengerjakan tugas. Dan anak pun akhirnya memahami bahwa
ternyata itulah konsekuensi dari mengerjakan dan tidak mengerjakan tugas.
Sesuatu yang ril akibat tidak mengerjakan tugas sewaktu SD terkait
pemahaman anak itu adalah tidak mendapatkan nilai yang bagus. Tetapi apakah Cuma
tidak mendapatkan nilai yang bagus? Toh ternyata tidak. Ada hal lain dibalik
efek dari konsekuensi tidak mengerjakan tugas itu yang saling terkait dan hal ini
sudah diketahui oleh gurunya atau pun malah tidak diketahui gurunya. Ada guru
yang kemudian memberi tahu karena pemahaman akan hal itu sudah eksis. Ada pula
guru akibat ketidaktahuannya menjadi sebab tidak memberi tahu murid SD nya.
Dampak dari tidak mengerjakan tugas itu bukan Cuma tidak
mendapatkan nilai bagus. Tetapi dampaknya yaitu tidak mendapatkan ilmu akibat
tidak tidak mengerjakan tugas rumah diwaktu malam atau kapanpun pasca diberi
tugas. Dampaknya juga tidak disiplin untuk belajar pada waktu-waktu tidak
sekolah untuk mengerjakan tugas. Dan biasa sewaktu SD memang efektifnya malam
untuk mengerjakan tugas rumah. Dan kebiasaan itu konsekuensi dari tugas rumah
tadi. Dan mungkin masih banyak lagi konsekuensi dari PR atau pekerjaan rumah
tadi. Dan kemudian sebaliknya, dengan mengerjakan tugas rumah kita kemudian
mendapatkan ilmu, merefresh kembali pelajaran yang diterima sewaktu siang
berputar putar pada penjelasan guru dan pertanyaan teman yang terus
dilayangkan, mendapatkan rumus baru (pemahaman baru), dll.
Itulah satu ilustrasi dari banyaknya ilustrasi yang pernah
kita alami sewaktu masih belia yang tidak bisa kita nafikan ada konsekuensi
dari apapun yang kita lakukan. Sama halnya dari tindakan kita terlepas dari
aktivitas sekolah. Seperti bermain dengan teman-teman, yang tanpa kita sadari
efek dari tindakan kita membuat teman tersinggung atau malah mengarah kepada
kebaikan diri dan teman tsb. Adalah tidak bisa dinafikan hal-hal yang
menyangkut emosional akan konsekuensi dibalik apa yang kita lakukan. dsb.
Dewasa ini tak jarang kita menyesal pola pemahaman kita atau
tindakan kita sewaktu kecil. Ada yang kemudian menyesal setelah mengingat
masa-masa yang telah dilaluinya yang tak luput dari tindakan dan pemahamannya. Si
fulan mengatakan ah.. saya sangat menyesal kenapa sewaktu SD saya tidak
membiasakan diri membaca buku. Saya baru memulai membiasakan membaca semenjak
kuliah ini.
Ada juga yang mengatakan; kenapa saya tidak fokus pada pelajaran
matematika, padahal saya sewaktu sd sangat menyukai pelajaran matematika, akibat
perkataan teman-teman ttg bagusnya teknik perkapalan akhirnya pikiran saya
berhasil dihegemoni dan pada akhirnya saya menyesal sekarang. Saya sekarang tidak
memaknai mata kuliah perkapalan. Saya selalu teringat akan mata pelajaran
sewaktu kecil saya SD.
Disamping hal itu ada juga si budi yang mengatakan, ah
kenapa saya tidak berbuat baik kepadanya sewaktu saya menjadi kekasihnya,
akhirnya sekarang saya menyesal dari tindakanku dulu yang tidak memperlihatkan
rasa sayang dan setia. Wanita tersebut akhirnya meninggalkan kekecewaan yang
mendalam akibat perilaku saya.
Bukan Cuma hal itu, ada hal lain yang lebih fundamental
terkait perilaku atau tindakan kita yang dari tindakan tersebut berdampak pada
hal yang membuat hati kita kotor dan mengarahkan pada kesombongan diri baik
kita sadari maupun tidak kita sadari.
Misalkan kita mengatakan kehebatan kita kepada orang lain. Itulah
kesombongan. Yang membuat hati kita kotor. Memamerkan kemewahan seperti
barang-barang baru dan mahal yang kita miliki adalah sesuatu hal yang sangat
tidak terpuji dan Cuma mengarah ke kesombongan diri. Dari kesombongan diri
itulah yang membuat hati kotor.
Itulah dalam kesempatan ini yang kemudian akan diangkat ke
permukaan tentang pembahasan saya adalah memahami tindakan kita. Tindakan yang
terkadang kita tidak sadari yang berakibat buat diri kita sendiri dan orang
lain yang menjadi pelaku atau objek dari tindakan atau perilaku kita. Apakah akibat
itu mengarah ke materi maupun emosional dan spiritual kita dan apa urusan kita
seharusnya dan urusan orang lain terhadap perilaku kita.
Kita harus akui bahwa apapun yang kita lakukan
(tindakan/perilaku) berlandaskan pada pemahaman (konsep), ideologi, pandangan
kita. Entah itu pemahaman kita keliru atau benar. Kita tidak ketahui. Masing-masing
orang mungkin memiliki pandangan (konsep) yang berbeda-beda. Dan dari tindakan
kita pasti ada akibatnya. Mungkin akan berakibat pada diri sendiri maupun
kepada orang lain.
Dari tindakan kita tersebut akan saling terkiat juga dengan
apa yang kita rasakan(perasaan dan hati). Apakah kita membenarkan; tindakan apapun yang
kita lakukan demi kenyamanan kita. Entah tindakan itu merugikan diri sendiri
tanpa kita sadari atau merugikan orang lain. Terkadang demi kenyamanan kita
kemudian kita enggan mengkritik diri kita sendiri. kita kemudian telah terbiasa
dengan tindakan itu.
Tindakan yang membuat hati kita kotor. Orang akhirnya
membenci kita. Masyarakat yang kemudian mengatakan kita sombong, pamer, riya,
dan tidak menutup kemungkinan tinggi hati. Seperti apa tindakan kita? Kita harus
evaluasi. Apakah tindakan kita mengarah ke persepsi orang yang pada akhirnya
mengatakan kita “sombong”? Bagaimana tindakan kita yang tidak menutup
kemungkinan membuat hati kita kotor. Tindakan seperti apa yang tidak membuat
kita seperti perkataan orang terhadap kita “sombong”? tindakan yang bagaimana
agar hati kita tidak kotor?
Apakah ilustrasi dibawah ini mewakili dari banyaknya
perilaku/tindakan/bicara kita yang membuat hati kita kotor. Yang membentuk
persepsi orang tidak baik terhadap kita. Yang pada akhirnya orang lain
mengatakan dengan lantang bahwa kita sombong.
Mendengar perkataan jorok, menghina orang lain, memamerkan
mobil baru, menjelek-jelekan orang lain, melihat film-film porno, melakukan
sesuatu yang tanpa analisis apakah tindakanku ini merugikan atau bermanfaat. Membuat
orang lain jengkel. Dan lain sebagainya.
Salam Mahasiswa INDONESIA.
No comments:
Post a Comment