Saya selalu berpikir tentang
kepesimisan. Saya juga selalu merenung tentang penyesalan. Bahkan saya selalu
berpikir tentang masa depan yang seperti apa yang suatu saat saya jumpai. Terkadang
saya pesimistis dengan masa depan saya. Rasa pesimistis yang melanda saya
diakibatkan dari banyak faktor. Diantaranya diri saya yang tidak memperlihatkan
kemajuan sedikitpun. Hal itu terlihat jelas dari diri saya. Teman-teman yang
sudah melambung jauh dari saya sudah mulai merasakan sedikit lagi menuju final
dari bangku kuliah menuju dunia baru yang sama sekali baru. Dunia dimana mereka
akan menantang masa depan. Dunia yang dimana mereka tidak akan menjumpai lagi
pekerjaan rumah yang diberikan dosen sewaktu kuliah. Dunia yang dimana mereka akan
menyusun rencana yang lebih terarah untuk kehidupan yang lebih kompleks.
Penyesalan memang eksisnya dibelakang bagi setiap orang. Tidak ada
penyesalan yang muncul didepan setiap orang. Saya kemudian mengkaji diri saya,
apakah saya menemui penyesalan pada diri saya? Apakah saya dalam konteks ini
mengakui bahwa diri saya menyesal karena teman-teman saya sudah mengurus
skripsi sebagai simbol langkah terakhir mereka untuk mengakhiri perkuliahan
mereka dan mendapatkan gelar sarjana? Apakah saya begitu tidak memikirkan
jauh-jauh hari tentang simbol tersebut untuk kemudian saya bisa merasakan apa
yang mereka rasakan saat ini?
Saya kalau mau dibilang jujur bagaimanapun
tidak ingin dikatakan menyesal. Meskipun faktor eksternal selalu menghegemoni
diri ini untuk memperlihatkan penyesalan. Saya sebelumnya selalu mendengar dari
orang-orang bahwa percuma selesai kuliah kalau kemudian mereka tidak
mendapatkan pekerjaan, apalah artinya mendapatkan gelar sarjana ketika mereka
tidak menguasai disiplin ilmu mereka sewaktu kuliah, percuma kuliah kalau tidak
sukses kedepan, percuma kuliah kalau hanya menghamburkan uang kedua orang tua
dan pada akhirnya nganggur, tidak mendapatkan pekerjaan, saya tidak mau
terburu-buru kuliah kalau pada akhirnya tidak merasakan lagi kenikmatan sewaktu
kuliah yang dimana tidak lagi ngumpul-ngumpul dengan teman-teman, tidak lagi
ngopi bareng, tidak lagi diskusi-diskusi bareng. Ada juga yang mengatakan
sebaliknya, memangnya jika selesai kuliah tidak bisa ngumpul-ngumpul lagi
dengan teman-teman? Memangnya ada batasan jika selesai kuliah pada akhirnya banyak
hal yang tidak kita rasakan lagi sewaktu kuliah?, selesai kuliah kan merupakan
kebanggaan orang tua yang menginginkan anaknya cepat selesai dan mendapatkan
gelar sarjana. Tinggal bagaimana kemudian dia bisa mendapatkan pekerjaan dalam
waktu secepatnya kalau bisa, dan kalau belum mendapatkan pekerjaan dalam waktu
dekat kenapa tidak kalau selalu berusaha, yang terpenting jangan duduk-duduk di
rumah sambil menanti jodoh atau pekerjaan datang. Yang paling penting berusaha
untuk mendapatkan pekerjaan dan apabila tidak dapat juga mungkin belum rezeki. saya
terkadang bingung dengan situasi seperti diatas. Dilain sisi saya menginginkan
cepat selesai, tetapi disisi lain keadaan saya sangat belum memperlihatkan kepesimisan.
Saya mungkin bisa selesai dalam kurun waktu 2 sampai 3 tahun lagi. Masih banyak
kuliah yang belum saya selesaikan. Dan jujur saja saya terancam di DO di bangku
kuliah saya kalau saya tidak mencapai target SKS yang telah ditentukan
birokrasi untuk semester ini.
Lagi-lagi saya belum bisa katakan
bahwa saya menyesal. Saya meyakini bahwa dengan menyesal Cuma membuat diri
tertekan yang pada akhirnya membuat diri selalu dibayang-bayangi hal-hal
negatif. Saya sekali lagi tidak ingin dikatakan menyesal. Saya tidak mau orang
menanyakan lagi ke saya tentang ; kenapa kamu menyianyikan kuliahmu,
menyianyiakan beasiswa yang pernah kamu dapat, yang pada akhirnya tidak ada
lagi kesempatanmu untuk mendapatkan beaisiswa itu? Kenapa kamu menyianyiakan
kampus negeri yang sudah kamu lulusi? Sedangkan orang yang kuliah di kampus
swasta sangat rajin dibanding kamu. Kenapa kamu tidak rajin kuliah, tidak
sungguh-sungguh kuliah? Kenapa kamu lebih mementingkan organisasi dibanding
kuliah? Kenapa keadaanmu ini mempertegas bahwa kamu membohongi kedua orang
tuamu dengan kemasalanmu yang terbukti sangat banyak sekali alpamu? Kenapa kamu
selalu tidak menganggap penting kuliah yang pada akhirnya kamu lebih
mementingkan tidurmu?
Saya tipe orang yang ketika orang
lain mengajukan pertanyaan saya tanpa berpikir panjang menjawab sesuai dengan
pemahamanku yang tidak lain memberi kepuasan kesiapa saja yang ingin bertanya
dengan jawaban terbaik yang saya pahami. Tetapi ketika ditanya dengan
pertanyaan diatas saya tidak sanggup menjawab, adapun mungkin saya menjawab
saya malah tidak menjawab dengan bahasa hati. Saya bingung harus jawab apa. Dilain
sisi saya ingin menjawab dengan jawaban terbaik untuk memastikan penanya dengan
wajah yang baik, tetapi dilain sisi juga saya tidak ingin menjawab ketika
jawaban itu belum saya yakini kebenarannya dan tidak realistis dengan apa yang
saya lakukan sebelumnya. Saya selalu berpikir apakah tindakanku ini benar
dengan pertanyaan yang memang sangat pas dengan keadaan saya. Saya Cuma tidak
sanggup menjawab karena jawaban itu sangat sensitif bagi saya. Pertanyaan itu
sangat mewakili kegelisahanku selama ini. Bahkan bisa dikatan “iya” jawabannya
sangat menentukan masa depan saya kelak.
Apalah arti diriku jika selalu
dalam keadaan tidak pasti. Saya tidak ingin dikatakan menyesal, saya juga
sangat tidak ingin saya terperangkap dalam keadaan yang serba negatif. Saya tidak
tau dimana sumbernya apa yang saya rasakan ini, entah sumbernya dari akal atau
bahasa hati. Yang pasti saya sangat yakin dengan masa depan saya. Dan hal itu
yang membuat saya sangat benci apabila ada bayang-bayang penyesalan pada diri
saya. Melihat orang yang sukses terkadang iri tetapi sebisa mungkin saya selalu
memaknai sebagai motivasi buat saya. Saya juga selalu mempertegas makna
kesuksesan sejati. Apakah selesai kuliah dikatakan sukses sejati? Saya selalu
teringat kutipan dari film beautiful mind
dan kutipan tokoh utama dalam film itu yaitu jhon nash, beliau mengatakan “ada
banyak solusi untuk satu persoalan”. Terkait dengan persoalanku saat ini adalah
bayang-bayang tentang masa depan yang suram. Masa depan yang suram selalu menghantui saya
setiap melihat diri yang tidak memperlihatkan kemajuan. Ditambah faktor
eksternal dengan melihat teman-teman sibuk mengurus skripsi sebagai syarat
mendapatkan gelar sarjana yang kemudian mempertegas keadaan diri yang tidak
memperlihatkan kemajuan kerena diri ini belum mencapai kesibukan mereka.
Saya kemudian mencari solusi untuk
persoalan yang saya hadapi itu. Dengan berpedoman dengan kutipan diatas. Saya juga
meyakini arti dari sebuah kesuksesan bahwa kesuksesan sejati bukan Cuma bisa
lulus dari banguku universitas dengan mendapatkan gelar sarjana tetapi kemudian
bisa mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan, kesuksesan sejati juga bukan mendapatkan
pekerjaan tetapi bagaimana kita bisa berguna bagi diri sendiri dengan
memperlihatkan keadaan diri yang baik, jauh dari pola pikir yang dangkal tetapi
pola pikir yang universal dalam melihat kehidupan yang kompleks dan bagaimana
kita bisa berperan penting untuk suatu perubahan yang baik ditengah-tengah
berbagai persoalan diri, lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal, bahkan
ditengah-tengah persoalan bangsa dan negara kita. Arti kesuksesan sejati bukan Cuma
mendapatkan nilai cumlaude tetapi ada juga yang belum selesai kuliah tetapi
sudah mendapatkan pekerjaan yang baik buat dia, bahkan sangat sering melihat
mahasiswa semasa kuliah tetapi sudah bisa berwirausaha, ditambah kesuksesan
sejati bukan Cuma mendapatkan pekerjaan yang layak tetapi bagaimana dengan
pekerjaan itu bisa menghidupi diri sendiri dan menghidupi kedua orang tua dan
orang-orang yang disayangi.
Saya lagi-lagi harus berpikir
positif dengan keadaan saya saat ini. Saya bersyukur kepada Allah swt, saya
masih diberi nikmat berupa kesehatan dan waktu agar saya selalu melakukan yang
terbaik dan meninggalkan hal-hal yang saya sudah pahami bahwa itu harus diubah.
Apalah arti kedewasaan jika kita selalu melakukan hal-hal yang kita telah
ketahui itu tidak baik dan kemudian kita melakukannya lagi. Apalah arti
kebijaksanaan jika kita tidak mengambil pelajaran dan hikmah dari kekhilafan
dan kesalahan diri dan orang lain. Bersyukur merupakan punjak dari kesuksesan itulah
yang saya pahami saat ini bahwa tidak ada sesuatu yang bisa membuat kita maju
dan berkembang apabila kita tidak bisa bersyukur akan apa saja yang melanda
kita.
Menyesal hanya membuat diri
tertekan. Takut melangkah hanya membuat kita larut dalam kepesimisan. Dan ketakutan
juga hanya akan membuat kita menjadi pengecut. Saya selalu mengingat kutipan “keberanian
adalah melakukan apa yang kamu takutkan”.
Dan kutipan dari salah satu tokoh inspirasi saya aristoteles, beliau
mengatakan bahwa ada tujuan dibalik segala sesuatu di alam ini dan tidak ada
sesuatupun di dalam kesadaran yang belum pernah dialami oleh indra. Segala sesuatu
yang melanda kita pasti ada tujuannya untuk pemahaman kita lebih baik lagi dan
selanjutnya bertindak sesuai dengan apa yang kita yakini benar. Olehnya itu
marilah kita mencari cara demi kesuksesan sejati, kita harus memfungsikan indra
kita demi untuk membentuk kesadaran kita akan sesuatu yang kita jumpai agar
menambah daftar pemahaman kita agar lebih baik dari sebelumnya dan terus
berusaha menemukan arti dari kesuksesan sejati. Akhir kata setiap apapun yang
kita lakukan tidak serta merta tanpa restu dari Allah swt. dengan memohon
petunjuk dan ridhoNya. Amin.
No comments:
Post a Comment