Thursday, 20 February 2014

KETIKA TEMAN-TEMAN SIBUK URUS SKRIPSI



Saya selalu berpikir tentang kepesimisan. Saya juga selalu merenung tentang penyesalan. Bahkan saya selalu berpikir tentang masa depan yang seperti apa yang suatu saat saya jumpai. Terkadang saya pesimistis dengan masa depan saya. Rasa pesimistis yang melanda saya diakibatkan dari banyak faktor. Diantaranya diri saya yang tidak memperlihatkan kemajuan sedikitpun. Hal itu terlihat jelas dari diri saya. Teman-teman yang sudah melambung jauh dari saya sudah mulai merasakan sedikit lagi menuju final dari bangku kuliah menuju dunia baru yang sama sekali baru. Dunia dimana mereka akan menantang masa depan. Dunia yang dimana mereka tidak akan menjumpai lagi pekerjaan rumah yang diberikan dosen sewaktu kuliah. Dunia yang dimana mereka akan menyusun rencana yang lebih terarah untuk kehidupan yang lebih kompleks.

Penyesalan memang  eksisnya dibelakang bagi setiap orang. Tidak ada penyesalan yang muncul didepan setiap orang. Saya kemudian mengkaji diri saya, apakah saya menemui penyesalan pada diri saya? Apakah saya dalam konteks ini mengakui bahwa diri saya menyesal karena teman-teman saya sudah mengurus skripsi sebagai simbol langkah terakhir mereka untuk mengakhiri perkuliahan mereka dan mendapatkan gelar sarjana? Apakah saya begitu tidak memikirkan jauh-jauh hari tentang simbol tersebut untuk kemudian saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan saat ini?


Saya kalau mau dibilang jujur bagaimanapun tidak ingin dikatakan menyesal. Meskipun faktor eksternal selalu menghegemoni diri ini untuk memperlihatkan penyesalan. Saya sebelumnya selalu mendengar dari orang-orang bahwa percuma selesai kuliah kalau kemudian mereka tidak mendapatkan pekerjaan, apalah artinya mendapatkan gelar sarjana ketika mereka tidak menguasai disiplin ilmu mereka sewaktu kuliah, percuma kuliah kalau tidak sukses kedepan, percuma kuliah kalau hanya menghamburkan uang kedua orang tua dan pada akhirnya nganggur, tidak mendapatkan pekerjaan, saya tidak mau terburu-buru kuliah kalau pada akhirnya tidak merasakan lagi kenikmatan sewaktu kuliah yang dimana tidak lagi ngumpul-ngumpul dengan teman-teman, tidak lagi ngopi bareng, tidak lagi diskusi-diskusi bareng. Ada juga yang mengatakan sebaliknya, memangnya jika selesai kuliah tidak bisa ngumpul-ngumpul lagi dengan teman-teman? Memangnya ada batasan jika selesai kuliah pada akhirnya banyak hal yang tidak kita rasakan lagi sewaktu kuliah?, selesai kuliah kan merupakan kebanggaan orang tua yang menginginkan anaknya cepat selesai dan mendapatkan gelar sarjana. Tinggal bagaimana kemudian dia bisa mendapatkan pekerjaan dalam waktu secepatnya kalau bisa, dan kalau belum mendapatkan pekerjaan dalam waktu dekat kenapa tidak kalau selalu berusaha, yang terpenting jangan duduk-duduk di rumah sambil menanti jodoh atau pekerjaan datang. Yang paling penting berusaha untuk mendapatkan pekerjaan dan apabila tidak dapat juga mungkin belum rezeki. saya terkadang bingung dengan situasi seperti diatas. Dilain sisi saya menginginkan cepat selesai, tetapi disisi lain keadaan saya sangat belum memperlihatkan kepesimisan. Saya mungkin bisa selesai dalam kurun waktu 2 sampai 3 tahun lagi. Masih banyak kuliah yang belum saya selesaikan. Dan jujur saja saya terancam di DO di bangku kuliah saya kalau saya tidak mencapai target SKS yang telah ditentukan birokrasi untuk semester ini.

Lagi-lagi saya belum bisa katakan bahwa saya menyesal. Saya meyakini bahwa dengan menyesal Cuma membuat diri tertekan yang pada akhirnya membuat diri selalu dibayang-bayangi hal-hal negatif. Saya sekali lagi tidak ingin dikatakan menyesal. Saya tidak mau orang menanyakan lagi ke saya tentang ; kenapa kamu menyianyikan kuliahmu, menyianyiakan beasiswa yang pernah kamu dapat, yang pada akhirnya tidak ada lagi kesempatanmu untuk mendapatkan beaisiswa itu? Kenapa kamu menyianyiakan kampus negeri yang sudah kamu lulusi? Sedangkan orang yang kuliah di kampus swasta sangat rajin dibanding kamu. Kenapa kamu tidak rajin kuliah, tidak sungguh-sungguh kuliah? Kenapa kamu lebih mementingkan organisasi dibanding kuliah? Kenapa keadaanmu ini mempertegas bahwa kamu membohongi kedua orang tuamu dengan kemasalanmu yang terbukti sangat banyak sekali alpamu? Kenapa kamu selalu tidak menganggap penting kuliah yang pada akhirnya kamu lebih mementingkan tidurmu? 

Saya tipe orang yang ketika orang lain mengajukan pertanyaan saya tanpa berpikir panjang menjawab sesuai dengan pemahamanku yang tidak lain memberi kepuasan kesiapa saja yang ingin bertanya dengan jawaban terbaik yang saya pahami. Tetapi ketika ditanya dengan pertanyaan diatas saya tidak sanggup menjawab, adapun mungkin saya menjawab saya malah tidak menjawab dengan bahasa hati. Saya bingung harus jawab apa. Dilain sisi saya ingin menjawab dengan jawaban terbaik untuk memastikan penanya dengan wajah yang baik, tetapi dilain sisi juga saya tidak ingin menjawab ketika jawaban itu belum saya yakini kebenarannya dan tidak realistis dengan apa yang saya lakukan sebelumnya. Saya selalu berpikir apakah tindakanku ini benar dengan pertanyaan yang memang sangat pas dengan keadaan saya. Saya Cuma tidak sanggup menjawab karena jawaban itu sangat sensitif bagi saya. Pertanyaan itu sangat mewakili kegelisahanku selama ini. Bahkan bisa dikatan “iya” jawabannya sangat menentukan masa depan saya kelak.

Apalah arti diriku jika selalu dalam keadaan tidak pasti. Saya tidak ingin dikatakan menyesal, saya juga sangat tidak ingin saya terperangkap dalam keadaan yang serba negatif. Saya tidak tau dimana sumbernya apa yang saya rasakan ini, entah sumbernya dari akal atau bahasa hati. Yang pasti saya sangat yakin dengan masa depan saya. Dan hal itu yang membuat saya sangat benci apabila ada bayang-bayang penyesalan pada diri saya. Melihat orang yang sukses terkadang iri tetapi sebisa mungkin saya selalu memaknai sebagai motivasi buat saya. Saya juga selalu mempertegas makna kesuksesan sejati. Apakah selesai kuliah dikatakan sukses sejati? Saya selalu teringat kutipan dari film beautiful mind dan kutipan tokoh utama dalam film itu yaitu jhon nash, beliau mengatakan “ada banyak solusi untuk satu persoalan”. Terkait dengan persoalanku saat ini adalah bayang-bayang tentang masa depan yang suram.  Masa depan yang suram selalu menghantui saya setiap melihat diri yang tidak memperlihatkan kemajuan. Ditambah faktor eksternal dengan melihat teman-teman sibuk mengurus skripsi sebagai syarat mendapatkan gelar sarjana yang kemudian mempertegas keadaan diri yang tidak memperlihatkan kemajuan kerena diri ini belum mencapai kesibukan mereka. 

Saya kemudian mencari solusi untuk persoalan yang saya hadapi itu. Dengan berpedoman dengan kutipan diatas. Saya juga meyakini arti dari sebuah kesuksesan bahwa kesuksesan sejati bukan Cuma bisa lulus dari banguku universitas dengan mendapatkan gelar sarjana tetapi kemudian bisa mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan, kesuksesan sejati juga bukan mendapatkan pekerjaan tetapi bagaimana kita bisa berguna bagi diri sendiri dengan memperlihatkan keadaan diri yang baik, jauh dari pola pikir yang dangkal tetapi pola pikir yang universal dalam melihat kehidupan yang kompleks dan bagaimana kita bisa berperan penting untuk suatu perubahan yang baik ditengah-tengah berbagai persoalan diri, lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal, bahkan ditengah-tengah persoalan bangsa dan negara kita. Arti kesuksesan sejati bukan Cuma mendapatkan nilai cumlaude tetapi ada juga yang belum selesai kuliah tetapi sudah mendapatkan pekerjaan yang baik buat dia, bahkan sangat sering melihat mahasiswa semasa kuliah tetapi sudah bisa berwirausaha, ditambah kesuksesan sejati bukan Cuma mendapatkan pekerjaan yang layak tetapi bagaimana dengan pekerjaan itu bisa menghidupi diri sendiri dan menghidupi kedua orang tua dan orang-orang yang disayangi. 

Saya lagi-lagi harus berpikir positif dengan keadaan saya saat ini. Saya bersyukur kepada Allah swt, saya masih diberi nikmat berupa kesehatan dan waktu agar saya selalu melakukan yang terbaik dan meninggalkan hal-hal yang saya sudah pahami bahwa itu harus diubah. Apalah arti kedewasaan jika kita selalu melakukan hal-hal yang kita telah ketahui itu tidak baik dan kemudian kita melakukannya lagi. Apalah arti kebijaksanaan jika kita tidak mengambil pelajaran dan hikmah dari kekhilafan dan kesalahan diri dan orang lain. Bersyukur merupakan punjak dari kesuksesan itulah yang saya pahami saat ini bahwa tidak ada sesuatu yang bisa membuat kita maju dan berkembang apabila kita tidak bisa bersyukur akan apa saja yang melanda kita. 

Menyesal hanya membuat diri tertekan. Takut melangkah hanya membuat kita larut dalam kepesimisan. Dan ketakutan juga hanya akan membuat kita menjadi pengecut. Saya selalu mengingat kutipan “keberanian adalah melakukan apa yang kamu takutkan”.  Dan kutipan dari salah satu tokoh inspirasi saya aristoteles, beliau mengatakan bahwa ada tujuan dibalik segala sesuatu di alam ini dan tidak ada sesuatupun di dalam kesadaran yang belum pernah dialami oleh indra. Segala sesuatu yang melanda kita pasti ada tujuannya untuk pemahaman kita lebih baik lagi dan selanjutnya bertindak sesuai dengan apa yang kita yakini benar. Olehnya itu marilah kita mencari cara demi kesuksesan sejati, kita harus memfungsikan indra kita demi untuk membentuk kesadaran kita akan sesuatu yang kita jumpai agar menambah daftar pemahaman kita agar lebih baik dari sebelumnya dan terus berusaha menemukan arti dari kesuksesan sejati. Akhir kata setiap apapun yang kita lakukan tidak serta merta tanpa restu dari Allah swt. dengan memohon petunjuk dan ridhoNya. Amin.

No comments:

Post a Comment