Melihatnya
merupakan keanehan pd diri ini yg belum terumuskan. Melihatnya bagaikan
kecenderungan hasrat yang begitu berkecamuk di dalam diri yang belum di tau
sumbernya, apakah ini dari suara hati untuk mengarahkan badan atau pikiran yang
masih berorientasi pd kecantikannya sehingga mata enggan berpaling. Sejenak pemahamanku
akan diri ini mulai eksis untuk menganalisis apa yang sebenarnya saya alami.
Di pondokan
teman yang begitu memperlihatkan ke optimisan untuk meraih ide-ide cemerlang
untuk mengawali langkah ini dari kegagalan sebelumnya untuk kembali menerjang
ketidakpastian visi. Dipondokan yang di lalui angin sepoi-sepoi dari beberapa
baju yg di jemur dan dengan lembaian baju mengarahkan diri ini teringat akan
sosok kehadirannya yang belum beberapa lama menjemur pakaiannya yang beda dari pakaian
yang sering saya lihat.
Dirinya
sederhana, karena kesederhanaannyalah membuat saya optimis untuk berani
mengawali langkah dengan terus memikirkan apa yang seharusnya saya lakukan agar
tidak terlihat bodoh.
Berbekal
keanehan pada diri ini, sesuatu yang belum terumuskan, kecenderungan indra yang
selalu sensitif ketika dekat dengan dia. Sadarkan kehadirannya berefek pd
ketidakharmonisan tubuh dan jiwa ini?? Dia membawa kesan keanehan,
mudah-mudahan persepsi akan dirinya tidak bergeser dari nilai-nilai kebaikan. Kendati
tubuh ini tidak mendukung hasrat jiwa yang begitu menginginkannya.
Siapa
namamu wahai wanita?
2
kali melihatmu membuat saya terlihat bodoh . apakah Cuma pemahamanku ttg
diriku. Mudah-mudahan tidak seperti pemahamanmu tentangku. Tapi tidak masalah
jika engkau melihat saya terlihat bodoh yang penting bukan orang lain,
teman-temanmu.
Arti
dari kehadiranmu yang sesungguhnya membuat niatku ingin terus berkunjung
disini. Membuat saya menyelesaikan visi kehadiranku disini. Arti dari
kehadiranmu membuat saya begitu jelek. Tapi saya tidak mempersoalkannya. bagi saya dia berpengaruh yang sanggup mengantarkan diri ini pada kebingungan.
No comments:
Post a Comment