Dulu
diri ini seperti berada di alam yang dipenuhi
dengan keinginan-keinginan yang terwujud terkait keinginan memandapatkan
seorang wanita untuk dijadikan teman khusus. Persepsi akan seorang wanita pun
seolah gampangan untuk dipacarin dialam
tersebut. Sekilas pemahaman akan wanita terlihat jelas untuk kemudian mengarahkan
dia seperti keinginan yang kita inginkan.
Cara-cara
untuk meyakinkannya pun eksis dengan pemahaman bahwa dengan cara ini dia pasti
akan mengiyakan untuk menjadi teman khususku. Cara-cara itu sekilas sangat
kontradiksi dengan pemahaman orang-orang yang saya kenal selama ini. Cara saya
dengan cara mereka berbeda jauh, sangat jauh.
Saya
kemudian meyakini bahwa kekuatan retorika yang menjadi modal besar agar
persepsi tentang meyakinkan wanita terwujud, dalam hal ini wanita akan dengan
mudah tergoyah dengan kekuatan retorika, dlm hal ini juga perpaduan retorika
dengan reaiitas yang dihadapi yang rasional tanpa memikirkan keterkaitan antara
perasaan (hati), pengalaman wanitanya, karakternya.
Saya
menyadari dengan sepenuh hati bahwa sesuatu yang menjadi kecenderungan wanita
dalam hubungan asmaranya tidak terlepas dengan sejarah asmaranya, awal karir
asmaranya (awal dia mulai pacaran), sampai sekarang sangat berperan penting
dalam membentuk karakter dan kedewasaan dalam menyikapi realitas kekinian yang
tidak luput dari cinta dalam tingkat universal maupun cinta dalam tingkat untuk
saling memahami, mengerti, terbuka dalam hubungannya dengan orang lain maupun
terkhusus dengan lawan jenisnya yaitu pria.
Saya
juga menyadari bahwa karakter wanita selain dibentuk dari pengalaman empiris si
wanita, juga pembawaan dari orang tuanya dan faktor-faktor seperti didikan
orang tua, gen, hormon, golongan darah, dan lain-lain yang sampai dewasa untuk
selanjutnya mengarahkan dia untuk selalu berpikir dan bertindak sesuai dengan
kapasitas pengetahuan, karakter, dan dorongan suara hatinya.
Secara
historis perasaan wanita memang sangat sensitif dibanding dengan pikirannya. Tapi
bukan berarti dia menafikan akal pikirannya tetapi ketika dihadapkan pada
persoalan atau sesuatu yang kontradiksi di alam realitasnya wanita lebih
menonjolkan perasaannya untuk membenarkan sesuatu yang diyakininya dalam hal
ini dalam memutuskan teman khususnya. Perasaan yang kemudian alternatif
terakhir untuk menetapkan bakal calon, calon, serta pemenang untuk mendapatkan
hatinya. Pikiran Cuma dijadikan pendukungnya.
dari
diri ini melihat konsekuensi dibalik tindakan, sikap, pikiran sering terjadi
kontradiksi. Kontradiksi antara pemahama dengan fakta dilapangan. Ketika konsep
akan memenangkan hati wanita sudah termuskan sengan cara kekuatan retorika
tanpa mengenal backgroud wanita, karakter wanita, sejarah asmara wanita sangat
sering gagal merajut impian-impian itu menjadi kenyataan.
Tak jarang
pula ada yang berhasil. Tapi hubungan emosional tidak eksis diantara kami. Komunikasi
terhambat.penilain-penilaian dia tentang saya kadang tepat seperti yang saya
pikirkan, kadang pula kontradiksi dengan tindakan atau sikap saya kedia. Inilah
mungkin yang dibilang konsekuensi karena tidak menghiraukan konsekuensi-konsekuensi.
Pemahaman
karakter dirinya pun tak kunjung saya sudahi.. saya terus menganalisis agar
cara ini ternyata efektif juga. Ata masih kalah dengan cara teman-teman yang
sudah membudaya dan sangat umum digunakan orang-orang.
Atau
apakah saya belum sampai pada titik finish pemahaman karakter, backgroud,
sejarah asmranya serta budayanya. (statmen ini mungkin sangat penting untuk
dikaji dan dipahami).
Kegelisahan-kegelisahan
akan ketidak capaian hasrat ini menjadikan diri ini bertanya-tanya? Apakah saya
harus memakai cara-cara yang sudah membudaya ? yang sudah sangat umum ini?
Pemahaman
tentang diri ini juga sedikit dari banyaknya yaitu diri ini tidak ingin
berlama-lama, diri ini tidak suka menunggu, diri ini orangnya to the poin langsung kepada wanita.,
juga diri ini pandai retorika dalam hal meyakinkan wanita tetapi ada beberapa
wanita menilai terkadang diri ini lebay, dan kentara playboynya, kentara
orientasinya yang tidak lain Cuma sekedar hobi pacaran.
Saya
tidak bisa nafikan pemahaman itu saya sadari dan saya rasakan pada diri ini
yang cenderung memperlihatkannya yang terwujud dalam bentuk tindakanku yang
serba blasblasan.
Saya
kemudian memilah mana yang baik untuk saya aplikasikan dan membuang
kemungkinan-kemungkinan terbesar terwujudnya kerancuan dalam perspektif wanita
ke saya.
Saya
pada akhirnya bisa merasakan dan bisa mengklaim bahwa memang wanita harus
diawali dengan proses untuk mengarahkan dia seperti yang kita inginkan dan
disitu bisa kita mengidentifikasi karakternya melalui step-step tadi. Hal inilah
yang saya terapkan dalam kehidupan asmara saya. Mari kita renungkan tindakan kita
apakah kita termasuk yang pertama atau yang kedua. hehehe
No comments:
Post a Comment