Sunday, 24 November 2013

SAYA TIDAK TAHU PEMAHAMANMU WAHAI WANITA



 Dulu diri ini seperti berada di alam yang dipenuhi  dengan keinginan-keinginan yang terwujud terkait keinginan memandapatkan seorang wanita untuk dijadikan teman khusus. Persepsi akan seorang wanita pun seolah gampangan untuk    dipacarin dialam tersebut. Sekilas pemahaman akan wanita terlihat jelas untuk kemudian mengarahkan dia seperti keinginan yang kita inginkan.

Cara-cara untuk meyakinkannya pun eksis dengan pemahaman bahwa dengan cara ini dia pasti akan mengiyakan untuk menjadi teman khususku. Cara-cara itu sekilas sangat kontradiksi dengan pemahaman orang-orang yang saya kenal selama ini. Cara saya dengan cara mereka berbeda jauh, sangat jauh. 
Saya kemudian meyakini bahwa kekuatan retorika yang menjadi modal besar agar persepsi tentang meyakinkan wanita terwujud, dalam hal ini wanita akan dengan mudah tergoyah dengan kekuatan retorika, dlm hal ini juga perpaduan retorika dengan reaiitas yang dihadapi yang rasional tanpa memikirkan keterkaitan antara perasaan (hati), pengalaman wanitanya, karakternya.

Saya menyadari dengan sepenuh hati bahwa sesuatu yang menjadi kecenderungan wanita dalam hubungan asmaranya tidak terlepas dengan sejarah asmaranya, awal karir asmaranya (awal dia mulai pacaran), sampai sekarang sangat berperan penting dalam membentuk karakter dan kedewasaan dalam menyikapi realitas kekinian yang tidak luput dari cinta dalam tingkat universal maupun cinta dalam tingkat untuk saling memahami, mengerti, terbuka dalam hubungannya dengan orang lain maupun terkhusus dengan lawan jenisnya yaitu pria.
Saya juga menyadari bahwa karakter wanita selain dibentuk dari pengalaman empiris si wanita, juga pembawaan dari orang tuanya dan faktor-faktor seperti didikan orang tua, gen, hormon, golongan darah, dan lain-lain yang sampai dewasa untuk selanjutnya mengarahkan dia untuk selalu berpikir dan bertindak sesuai dengan kapasitas pengetahuan, karakter, dan dorongan suara hatinya.
Secara historis perasaan wanita memang sangat sensitif dibanding dengan pikirannya. Tapi bukan berarti dia menafikan akal pikirannya tetapi ketika dihadapkan pada persoalan atau sesuatu yang kontradiksi di alam realitasnya wanita lebih menonjolkan perasaannya untuk membenarkan sesuatu yang diyakininya dalam hal ini dalam memutuskan teman khususnya. Perasaan yang kemudian alternatif terakhir untuk menetapkan bakal calon, calon, serta pemenang untuk mendapatkan hatinya. Pikiran Cuma dijadikan pendukungnya.
dari diri ini melihat konsekuensi dibalik tindakan, sikap, pikiran sering terjadi kontradiksi. Kontradiksi antara pemahama dengan fakta dilapangan. Ketika konsep akan memenangkan hati wanita sudah termuskan sengan cara kekuatan retorika tanpa mengenal backgroud wanita, karakter wanita, sejarah asmara wanita sangat sering gagal merajut impian-impian itu menjadi kenyataan.
Tak jarang pula ada yang berhasil. Tapi hubungan emosional tidak eksis diantara kami. Komunikasi terhambat.penilain-penilaian dia tentang saya kadang tepat seperti yang saya pikirkan, kadang pula kontradiksi dengan tindakan atau sikap saya kedia. Inilah mungkin yang dibilang konsekuensi karena tidak menghiraukan konsekuensi-konsekuensi.
Pemahaman karakter dirinya pun tak kunjung saya sudahi.. saya terus menganalisis agar cara ini ternyata efektif juga. Ata masih kalah dengan cara teman-teman yang sudah membudaya dan sangat umum digunakan orang-orang.
Atau apakah saya belum sampai pada titik finish pemahaman karakter, backgroud, sejarah asmranya serta budayanya. (statmen ini mungkin sangat penting untuk dikaji dan dipahami).
Kegelisahan-kegelisahan akan ketidak capaian hasrat ini menjadikan diri ini bertanya-tanya? Apakah saya harus memakai cara-cara yang sudah membudaya ? yang sudah sangat umum ini?
Pemahaman tentang diri ini juga sedikit dari banyaknya yaitu diri ini tidak ingin berlama-lama, diri ini tidak suka menunggu, diri ini orangnya to the poin langsung kepada wanita., juga diri ini pandai retorika dalam hal meyakinkan wanita tetapi ada beberapa wanita menilai terkadang diri ini lebay, dan kentara playboynya, kentara orientasinya yang tidak lain Cuma sekedar hobi pacaran.
Saya tidak bisa nafikan pemahaman itu saya sadari dan saya rasakan pada diri ini yang cenderung memperlihatkannya yang terwujud dalam bentuk tindakanku yang serba blasblasan.
Saya kemudian memilah mana yang baik untuk saya aplikasikan dan membuang kemungkinan-kemungkinan terbesar terwujudnya kerancuan dalam perspektif wanita ke saya.
Saya pada akhirnya bisa merasakan dan bisa mengklaim bahwa memang wanita harus diawali dengan proses untuk mengarahkan dia seperti yang kita inginkan dan disitu bisa kita mengidentifikasi karakternya melalui step-step tadi. Hal inilah yang saya terapkan dalam kehidupan asmara saya. Mari kita renungkan tindakan kita apakah kita termasuk yang pertama atau yang kedua. hehehe

No comments:

Post a Comment