Monday, 19 August 2013

PROBLEMATIKA INTERNAL DIRI

PROBLEMATIKA INTERNAL DIRI

Saya melihat diri ini tak luput dari problematika internal diri saya ketika dihadapkan pada keadaan disekeliling saya. Keinginan dan hasrat ingin diterima sangat eksis di benak saya. Tak jarang saya ingin itu, ingin ini dan dengan penuh harapan agar apa yang saya ingini itu terealisasi atau terpenuhi sehingga memuaskan diri saya. 

Rasa optimis pun untuk terealisasi atau terpenuhi tak jarang bermunculan di benak saya. Saya kemudian mengiyakan apa yang saya ingini dalam bentuk tindakan. Rasa ingin memiliki sesuatu seperti itulah apa yang ada dipikiran saya dan dihati saya. Tapi kadang berbenturan antara hati dan pikiran saya ketika dihadapkan pada objek untuk dimiliki. Tapi hati kadang lebih unggul untuk menunjukan tajinya dan kadang juga pikiran lebih dominan dalam hal ini. Kondisi internal diri saya itu terlihat ketika pikiran tidak mampu merasionalkan hati saya yang cenderung ingin memiliki. Tapi tak jarang pula saya sanggup terlepas dari ikatan hati yang kadang membungkus saya rapat-rapat.

Saya memahami betul faktor tertentu yang mengarahkan saya kemudian saya seperti ini dalam kondisi seperti ini. Jika di deskripsikan misalkan saya ingin memacari seseorang. Faktor merasakan kesenangan atau merasakan kebabahagiaan atau mungkin merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan yang menjadi faktor kesungguhan diri ini yang tak luput dari hati dan pikiran untuk mewujudkan keinginannya dalam bentuk tindakan. Atau mungkin gambaran lain sepeti pengharapan akan sesuatu yang kita inginkan dari siapa saja dapat kita wujudkan dalam bentuk tindakan, seperti halnya saya bisa mengarahkan dia seperti yang saya inginkan apapun itu tanpa terkecuali.
Yang menjadi persoalan adalah apakah dia bersedia menjadi gambaran yang kita inginkan atau tidak?
Atau mungkin kita dipermainkan oleh imajinasi kita sendiri ketika melihat seseorang untuk mewujudkan apa yang kita inginkan dalam bentuk tindakannya bukan hanya sekedar teori??
Dalam hal ini kita berasumsi bahwa dia seperti ini orangnya, karakternya, tindakannya dan ternyata kita salah besar. Dia tidak seperti itu orangnya. 180 derajat bergeser dari persepsi kita. Bahkan secara tidak langsung dia yang mempermainkan kita dengan berlandaskan pemahamannya tentang kita dilihat dari tindakan kita yang seolah-olah jelas dimata dia apa yang kita inginkan… hmm.. sangat ironis bukan..!!
Marilah kita kaji diri kita sebaik mungkin untuk mamahami lebih dulu karakter kita sebelum memahami karakter , pikiran dan tindakan orang lain yang menjadi objek pengamatan kita atau bahkan objek pengaruh kita.


No comments:

Post a Comment