PROBLEMATIKA INTERNAL DIRI
Saya melihat diri ini tak luput
dari problematika internal diri saya ketika dihadapkan pada keadaan
disekeliling saya. Keinginan dan hasrat ingin diterima sangat eksis di benak
saya. Tak jarang saya ingin itu, ingin ini dan dengan penuh harapan agar apa yang
saya ingini itu terealisasi atau terpenuhi sehingga memuaskan diri saya.
Rasa optimis pun untuk
terealisasi atau terpenuhi tak jarang bermunculan di benak saya. Saya kemudian
mengiyakan apa yang saya ingini dalam bentuk tindakan. Rasa ingin memiliki sesuatu
seperti itulah apa yang ada dipikiran saya dan dihati saya. Tapi kadang
berbenturan antara hati dan pikiran saya ketika dihadapkan pada objek untuk
dimiliki. Tapi hati kadang lebih unggul untuk menunjukan tajinya dan kadang
juga pikiran lebih dominan dalam hal ini. Kondisi internal diri saya itu
terlihat ketika pikiran tidak mampu merasionalkan hati saya yang cenderung
ingin memiliki. Tapi tak jarang pula saya sanggup terlepas dari ikatan hati
yang kadang membungkus saya rapat-rapat.
Saya memahami betul faktor
tertentu yang mengarahkan saya kemudian saya seperti ini dalam kondisi seperti
ini. Jika di deskripsikan misalkan saya ingin memacari seseorang. Faktor
merasakan kesenangan atau merasakan kebabahagiaan atau mungkin merasakan
sesuatu yang belum pernah dirasakan yang menjadi faktor kesungguhan diri ini
yang tak luput dari hati dan pikiran untuk mewujudkan keinginannya dalam bentuk
tindakan. Atau mungkin gambaran lain sepeti pengharapan akan sesuatu yang kita
inginkan dari siapa saja dapat kita wujudkan dalam bentuk tindakan, seperti
halnya saya bisa mengarahkan dia seperti yang saya inginkan apapun itu tanpa
terkecuali.
Yang menjadi persoalan adalah
apakah dia bersedia menjadi gambaran yang kita inginkan atau tidak?
Atau mungkin kita dipermainkan
oleh imajinasi kita sendiri ketika melihat seseorang untuk mewujudkan apa yang
kita inginkan dalam bentuk tindakannya bukan hanya sekedar teori??
Dalam hal ini kita berasumsi
bahwa dia seperti ini orangnya, karakternya, tindakannya dan ternyata kita
salah besar. Dia tidak seperti itu orangnya. 180 derajat bergeser dari persepsi
kita. Bahkan secara tidak langsung dia yang mempermainkan kita dengan
berlandaskan pemahamannya tentang kita dilihat dari tindakan kita yang
seolah-olah jelas dimata dia apa yang kita inginkan… hmm.. sangat ironis
bukan..!!
Marilah kita kaji diri kita
sebaik mungkin untuk mamahami lebih dulu karakter kita sebelum memahami
karakter , pikiran dan tindakan orang lain yang menjadi objek pengamatan kita
atau bahkan objek pengaruh kita.
No comments:
Post a Comment