![]() |
| Ilustration |
Kenapa saya seperti ini, diri ini kakuh, sepatah kata pun
tidak terlontar dari mulut ini, pikiran ini selalu mencari alternatif untuk
membebaskan diri ini dari kemelut yang membingungkan. Saya ingin sekali keluar
dari persoalan ini.
Penyebab itu semua terlihat ketika saya dihadapkan pada
kondisi dimana saya berada disekeliling orang yang saya tidak kenal. Saya tidak
percaya diri ketika saya dihadapkan pada orang-orang tertentu yang saya tidak
kenal sebelumnya. Saya bisa menyadari perbedaan fundamental terjadi ketika saya
dihadapkan pada kondisi saya dengan teman-teman yang sebelumnya saya sudah
kenal dan orang-orang yang sebelumnya tidak saya kenal. Perbedaan itu jelas
adanya dan saya sangat alami ketika saya bersama teman akrab saya ke kost
teman-temannya. Ada banyak orang disana, ada banyak karakter disana, ada banyak
bentuk penampilan-penampilan luar dari mereka yang memaksa saya untuk tetap
kaku, tetap pada kondisi yang membingunkan. Ketika itu saya Cuma mengamali
perkataan kakak senior saya yang pada saat dimana dia memberi tahu saya untuk
sering-sering baca buku. Dan saya pada kondisi itu baca buku yang seakan-akan
diri ini mempunyai kesibukan tersendiri sehingga jiwa komunikatif saya tidak
terlihat, saya tidak mengajak mereka berbicara seperti yang dikatakan teman
saya hendri, beliau mengatakan sama saya, bro kenapa kamu tidak bicara ketika
di kostnya temanku tadi?? Persetan gumanku dalam hati.
Rasa grogi, mungkin bisa dikatakan seperti itu. Saya
sulit mengawali percakapan. Begitu juga halnya teman-teman saya. Tapi ada juga
dari salah seorang dari teman hendri itu yang menegur saya dengan sapaan hangat
untuk memperkenalkan dirinya. Saya kemudian menanggapi dengan hangat pula. Dia
menyapa saya dengan harapan agar saya welcome, tetapi saya menjawab dengan
perkataan seadanya seperti halnya orang yang bingung dan cuek. Dia kemudian
Cuma memberi senyum ketika selesai menyapa saya, saya kemudian beralih pada
kondisi semula. Satu hal yang membuat saya bingung juga dikala itu adalah
kenapa Cuma satu orang yang menyapa saya, kenapa Cuma dia, padahal ada banyak
orang disitu, saya ingin sekali mengawali perkataan tapi terasa berat dan
sangat sulit untuk diawali pada saat suasana atau dalam kondisi yang bagaimana
teman-teman disitu.
Saya mengiyakan diri saya kalau saya belum terlalu
terbiasa ketika dihadapkan pada kondisi dimana disekeliling saya ada
orang-orang yang saya tidak kenal. Orang-orang yang saya tidak kenal itu kemudian
membuat saya merasa kaku, grogi. Ada apa dengan saya.
Beda halnya ketika saya dihadapkan pada kondisi
disekeliling saya ada orang-orang yang saya kenal. Pasti saya tidak merasakan
diri saya dalam kondisi grogi, atau kaku. Tapi pada kondisi itu saya juga merasakan hal
yang beda, meskipun diri ini sudah dalam kondisi dimana ada orang-orang yang
saya sudah kenal tetapi saya juga kadang merasa tidak percaya diri. Apa
sebenarnya yang menjadikan diri ini percaya diri.
Dari semua ilustrasi diatas saya rangkum menjadi polemik
dari diri saya. Teka-teki pergaulan yang memaksa saya terus mengkaji supaya
saya tidak menjadi orang yang super cuek meskipun sebenarnya saya tidak
inginkan diri ini cuek, cuek dalam hal ini persepsi orang lain ketika melihat
saya. Saya terus mengkaji ketika diri ini menjadi bahan pergunjingan ketika
orang-orang menilai diri ini seperti orang yang tidak komunikatif kepada sesama
padahal sejatinya setiap manusia memiliki jiwa sosial yang sudah menjadi fitrah
seluruh makhluk di dunia.
Apa yang membentuk diri ini sehingga terjebak dalam
kondisi yang membingunkan. Apa saya harus keluar dari diri saya yang pada akhirnya terlihat sangat
sulit dilakukan. Mungkin saya bisa keluar dari diri saya untuk mewujudkan
persepsi yang berbeda dari orang-orang supaya saya tidak terlihat seperti orang
yang super duper cuek, saya membayangkan akan perilaku saya itu. Tapi toh
nyatanya saya sulit lakukan, apa karakter saya sudah tidak bisa lagi dirubah.
Tapi dalam benak saya dan pikiran saya tetap optimis tentang perubahan dari
kondisi awal saya menuju kepercayaan diri dan tidak grogi atau kaku lagi
terhadap orang-orang yang sebelumnya saya tidak kenal dan orang-orang yang saya
sudah kenal tetapi saya merasa sulit untuk membuktikan eksisttensi diri saya
kepada mereka semua. Saya pasti bisa melewati problematika atau teka-teki
pergaulan seperti kondisi yang saya alami ini. Pasti bisa yang selalu
didenungkan dalam diri saya. Rasa optimispun selalu tertancap dan sulit
tercabut. Cuma itu mungkin menjadi landasan saya untuk bisa mengungkap
teka-teki pergaulan.
Saya mendeskripsikan ketika saya berada pada kondisi diri
berada pada orang-orang yang sebelumnya sudah saya kenal dan saya dengan
percaya diri dan tidak merasa ada beban untuk memperlihatkan eksistensi saya,
kemudian pada saat saya dihadapkan pada kondisi diri ini sudah mengenal
orang-orang disekeliling saya dan saya kemudian tidak berani memperlihatkan
eksistensi saya alias tidak ngobrol sama mereka lebih tepatnya mungkin faktor
kepercayaan diri serta pada kondisi ketika saya sulit mendeskripsikan diri ini
ketika saya dihadapkan pada orang-orang yang memang saya tidak kenal. Haah…
Cara yang selalu memotivasi saya yaitu kamu harus melawan
diri kamu ketika ada banyak sesuatu yang tidak membuatmu berkembang. Saya harus
melawan.. melawan.. kamu harus banyak belajar dan belajar.. amin…

No comments:
Post a Comment