Wednesday, 17 July 2013

TEKI-TEKI PERGAULAN


Ilustration
Saya baru menyadari ada banyak hal-hal yang membuat saya begitu berada pada dimensi kerancuan. Kerancuan yang memaksa saya untuk tidak melihat diri saya, arah gerak tubuh ini dibatasi oleh dinding yang sangat tebal yang memaksa saya untuk tidak berhenti bertanya-tanya, kenapa seperti ini. 
Kenapa saya seperti ini, diri ini kakuh, sepatah kata pun tidak terlontar dari mulut ini, pikiran ini selalu mencari alternatif untuk membebaskan diri ini dari kemelut yang membingungkan. Saya ingin sekali keluar dari persoalan ini.

Penyebab itu semua terlihat ketika saya dihadapkan pada kondisi dimana saya berada disekeliling orang yang saya tidak kenal. Saya tidak percaya diri ketika saya dihadapkan pada orang-orang tertentu yang saya tidak kenal sebelumnya. Saya bisa menyadari perbedaan fundamental terjadi ketika saya dihadapkan pada kondisi saya dengan teman-teman yang sebelumnya saya sudah kenal dan orang-orang yang sebelumnya tidak saya kenal. Perbedaan itu jelas adanya dan saya sangat alami ketika saya bersama teman akrab saya ke kost teman-temannya. Ada banyak orang disana, ada banyak karakter disana, ada banyak bentuk penampilan-penampilan luar dari mereka yang memaksa saya untuk tetap kaku, tetap pada kondisi yang membingunkan. Ketika itu saya Cuma mengamali perkataan kakak senior saya yang pada saat dimana dia memberi tahu saya untuk sering-sering baca buku. Dan saya pada kondisi itu baca buku yang seakan-akan diri ini mempunyai kesibukan tersendiri sehingga jiwa komunikatif saya tidak terlihat, saya tidak mengajak mereka berbicara seperti yang dikatakan teman saya hendri, beliau mengatakan sama saya, bro kenapa kamu tidak bicara ketika di kostnya temanku tadi?? Persetan gumanku dalam hati. 
Rasa grogi, mungkin bisa dikatakan seperti itu. Saya sulit mengawali percakapan. Begitu juga halnya teman-teman saya. Tapi ada juga dari salah seorang dari teman hendri itu yang menegur saya dengan sapaan hangat untuk memperkenalkan dirinya. Saya kemudian menanggapi dengan hangat pula. Dia menyapa saya dengan harapan agar saya welcome, tetapi saya menjawab dengan perkataan seadanya seperti halnya orang yang bingung dan cuek. Dia kemudian Cuma memberi senyum ketika selesai menyapa saya, saya kemudian beralih pada kondisi semula. Satu hal yang membuat saya bingung juga dikala itu adalah kenapa Cuma satu orang yang menyapa saya, kenapa Cuma dia, padahal ada banyak orang disitu, saya ingin sekali mengawali perkataan tapi terasa berat dan sangat sulit untuk diawali pada saat suasana atau dalam kondisi yang bagaimana teman-teman disitu. 
Saya mengiyakan diri saya kalau saya belum terlalu terbiasa ketika dihadapkan pada kondisi dimana disekeliling saya ada orang-orang yang saya tidak kenal. Orang-orang yang saya tidak kenal itu kemudian membuat saya merasa kaku, grogi. Ada apa dengan saya.
Beda halnya ketika saya dihadapkan pada kondisi disekeliling saya ada orang-orang yang saya kenal. Pasti saya tidak merasakan diri saya dalam kondisi grogi, atau kaku.  Tapi pada kondisi itu saya juga merasakan hal yang beda, meskipun diri ini sudah dalam kondisi dimana ada orang-orang yang saya sudah kenal tetapi saya juga kadang merasa tidak percaya diri. Apa sebenarnya yang menjadikan diri ini percaya diri.
Dari semua ilustrasi diatas saya rangkum menjadi polemik dari diri saya. Teka-teki pergaulan yang memaksa saya terus mengkaji supaya saya tidak menjadi orang yang super cuek meskipun sebenarnya saya tidak inginkan diri ini cuek, cuek dalam hal ini persepsi orang lain ketika melihat saya. Saya terus mengkaji ketika diri ini menjadi bahan pergunjingan ketika orang-orang menilai diri ini seperti orang yang tidak komunikatif kepada sesama padahal sejatinya setiap manusia memiliki jiwa sosial yang sudah menjadi fitrah seluruh makhluk di dunia.
Apa yang membentuk diri ini sehingga terjebak dalam kondisi yang membingunkan. Apa saya harus keluar dari  diri saya yang pada akhirnya terlihat sangat sulit dilakukan. Mungkin saya bisa keluar dari diri saya untuk mewujudkan persepsi yang berbeda dari orang-orang supaya saya tidak terlihat seperti orang yang super duper cuek, saya membayangkan akan perilaku saya itu. Tapi toh nyatanya saya sulit lakukan, apa karakter saya sudah tidak bisa lagi dirubah. Tapi dalam benak saya dan pikiran saya tetap optimis tentang perubahan dari kondisi awal saya menuju kepercayaan diri dan tidak grogi atau kaku lagi terhadap orang-orang yang sebelumnya saya tidak kenal dan orang-orang yang saya sudah kenal tetapi saya merasa sulit untuk membuktikan eksisttensi diri saya kepada mereka semua. Saya pasti bisa melewati problematika atau teka-teki pergaulan seperti kondisi yang saya alami ini. Pasti bisa yang selalu didenungkan dalam diri saya. Rasa optimispun selalu tertancap dan sulit tercabut. Cuma itu mungkin menjadi landasan saya untuk bisa mengungkap teka-teki pergaulan. 
Saya mendeskripsikan ketika saya berada pada kondisi diri berada pada orang-orang yang sebelumnya sudah saya kenal dan saya dengan percaya diri dan tidak merasa ada beban untuk memperlihatkan eksistensi saya, kemudian pada saat saya dihadapkan pada kondisi diri ini sudah mengenal orang-orang disekeliling saya dan saya kemudian tidak berani memperlihatkan eksistensi saya alias tidak ngobrol sama mereka lebih tepatnya mungkin faktor kepercayaan diri serta pada kondisi ketika saya sulit mendeskripsikan diri ini ketika saya dihadapkan pada orang-orang yang memang saya tidak kenal. Haah…
Cara yang selalu memotivasi saya yaitu kamu harus melawan diri kamu ketika ada banyak sesuatu yang tidak membuatmu berkembang. Saya harus melawan.. melawan.. kamu harus banyak belajar dan belajar.. amin…

No comments:

Post a Comment