![]() |
| Siskal Frabi, Pantai Marlboro, Mawasangka |
Memiliki
rambut gondrong bagi pria merupakan keunikan tersendiri, karena yang sudah
tertancap dalam pikiran dan benak kita ialah yang berambut panjang alias
gondrong itu dimiliki wanita, wanitalah yang seharusnya memiliki rambut
gondrong alias panjang bukan pria, dan pria didominasi dengan rambut pendek krn
itulah budaya yang sudah mendarah daging di kehidupan kita sehari-hari. entah
asal usul budaya ini dari mana.. saya juga belum menelusuri sejarahnya. Tapi
dilihat dari konteks sejarah yang penulis tahu, dimasa Rasulullah Saw,
teknologi belum secanggih di era modern saat ini, dikala saat itu gunting
sangat sulit ditemukan atau bahkan tidak ada, adapun ada alternatif lain untuk
mencukur rambut bisa digunakan benda yang tajam yang ada pada saat itu, seperti
pisau, pedang atau sejenisnya yang pada akhirnya tidak terlalu menjadi hal yang
membudaya untuk seseorang mencukur rambutnya. Dan untuk mencukur rambut
merupakan hal yang sangat tidak dipersoalkan. Itulah kenapa orang-orang dulu
baik perempuan maupun laki-laki dominan memiliki rambut panjang.
Tidak
seperti di era modern saat ini, seirng kemajuan teknologi dan komunikasi,
masyarakat sudah dimudahkan dari segi peralatan dan perlengkapan. Seperti
gunting yang berfungsi untuk mencukur rambut dan memotong sesuatu yang harus
dipotong atau digunting. Orang-orang juga tidak punya alas an untuk mengelak
ketika orangnya jauh yang pada akhirnya tidak mengetahui khabarnya sedangkan
kita sudah dibekali handphone untuk berkomunikasi jarak jauh, sehingga
memudahkan kita mengetahui khabar atau informasi orang yang jaraknya sangat
jauh dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya.
Banyak
pertanyaan yang kemudian dilontarkan kepada pria yang berinisiatif memelihara
rambutnya yang kemudian memiliki rambut gondrong alias panjang. Di Indonesia
misalkan dari hasil pengamatan lapangan, pria yang memiliki rambut gondrong
biasanya seorang seniman dan mahasiswa, serta ada juga masyarakat terlepas dari
seorang seniman atau mahasiswa yang juga berinisiatif memiliki rambut
gondrong dengan alasan berfariasi.
Terlepas
dari hasil wawancara penulis dengan tokoh seniman, dalam hal ini hanya
berdasarkan data empiris, seorang seniman yang memiliki rambut gondrong adalah
mereka-mereka yang memang mencintai seni, mereka yang meluapkan hasrat untuk
mengadakan keindahan, gondrong bagi seorang seniman merupakan luapan emosi,
atau bahkan gondrong juga merupakan keindahan, keindahan yang bukan pada
gondrong semata juga ditambah dengan pakaian atau busana, dan peralatan atau
perlengkaapan yang lain yang mungkin bertentangan dengan penilaian masyarakat
pada umumnya. Tapi begitulah realitasnya
mereka lebih senang berambut gondrong.
Begitu
juga seorang mahasiswa yang sering kita lihat di televisi atau di
kampus-kampus, ada yang memiliki rambut gondrong dan bahkan ada dari kelompok
tertentu yang kompak dengan rambut mereka yang gondrong. Yang menjadi
pertanyaan apa yang mendasari mereka berambut panjang? Dari hasil wawancara
penulis kepada salah seorang Mahasiswa pecinta Alam yang bernama Elan,
Mahasiswa UIN Alauidn Makassar, beliau mengatakan alasan tentang dirinya yang
memiliki rambut gondrong, beliau mengatakan bagi saya rambut gondrong tidak ada
masalah karena saya memaknai rambut gondrong itu merupakan lupakan emosi saya,
saya risih melihat Indonesia yang carut marut sekarang, banyak yang
berpenampilan menarik, sopan dengan baju dimasukan di celana, rambut di sisir
dan memakai dasi yang bagus toh mereka mengambil uang yang bukan haknya. Mereka
yang baik tutur katanya di depan layar toh ternyata mereka bermain dibelakang
layar untuk memanfaatkan jabatan dengan mengisap uang rakyat. Dengan rambut
gondrong saya melihat diri saya yang sebenarnya, karakter yang tercermin dari
penampilan saya. Saya orangnya keras, dan saya suka rambut gondrong. Saya
memiliki persepsi bahwa kebanyakan orang tertipu dengan apa yang Nampak,
kebenaran yang hakiki sebenarya terletak dibalik apa yang Nampak, jadi jangan
tertipu dengan penampilan atau cashingnya tetapi lihat di dalamnya.
Tak
jarang juga kita lihat di elemen masyarakat yang memiliki rambut gondrong,
mereka yang kemudian lebih suka dengan penampilan gondrong dari pada berambut
pendek, kebanyakan dari mereka yang berambut gondrong adalah mereka yang kurang
memahami alasan substansial kenapa mereka berambut gondrong, dan rata-rata dari
mereka hanya beranggapan rambut gondrong itu kren, dan dengan dengan rambut
gondrong saya terlihat lebih ganteng dari pada berambut pendek. Ada juga yang
kemudian beranggapan rambut gondrong itu unik dan terlihat sangar dimata
orang-orang, bahkan ada juga yang beranggapan bahwa rambut gondrong itu dimata
wanita terlihat lebih memiliki daya tarik.
Memiliki
rambut gondrong bagi tiap-tiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda.
Dilihat dari beberapa alasan dari pengamatan penulis, penulis menganalogikan
bahwa memiliki rambut gondrong itu adalah hal yang tidak perlu di persoalkan. Memiliki
rambut panjang bagi setiap individu memiliki alasan tersendiri yang menurut
mereka baik, selagi tidak membuat resah orang banyak. Yang menjadi pertanyaan
adalah apakah orang-orang merasah resah ketika melihat seorang pria berambut
gondrong? Tentu ada yang mengatakan,
mereka resah dengan pria yang berambut gondrong karena terlihat sadis
atau penurut persepsi mereka yang berambut panjang terlihat menakutkan yang
pada akhirnya membuat suasana tidak nyaman. Yang kemudian menjadi pertanyaan
juga adalah apakah semua yang berambut gondrong itu menakutkan dan apakah
penampilan dengan rambut gondrongnya
atau penampilan yang lainnya sinergis dengan isi dalamnya?
Ketika
kita meliahat seorang pria yang berambut panjang tentu kita tidak boleh
langsung meklaim bahwa berambut panjang itu kurang baik karena apa yang kita
katakan itu belum tentu dibenarkan olehnya. Jangan kemudian menggeneralkan
semua yang berambut gondrong dengan persepsi negatif. Ketika kita
menggenaralkan si A yang berambut gondrong belum tentu si B sama pemaknaannya
tentang alasan dia berambut gondrong. Sama halnya seorang seniman yang memiliki
alasan tertentu sehingga dia berambut panjang. Dan beda juga masyarakat pada
umumnya terlepas dari identitas dirinya sebagai seorang seniman dan mahasiswa
tentang alasannya berambut gondrong. Ketika kita menggeneralkan pemaknaan
tentang berambut gondrong dengan persepsi negatif berarti secara tidak langsung
kita mengklaim bahwa seniman itu jelek atau mahasiswa itu tidak sopan dan lain
sebagainya yang pada akhirnya kembali ke subjektifitas seseorang dalam memahami
pemaknaan tentang berambut gondrong.

Bismillah..
ReplyDelete