Tuesday, 16 July 2013

Rambut Gondrong



Siskal Frabi, Pantai Marlboro, Mawasangka
Gondrong dalam artian saya adalah panjang rambut dan umunya adalah sebutan dari laki-laki yang memiliki rambut panjang diatas rata-rata lelaki yang pada umumnya berambut pendek. Lelaki yang memiliki rambut gondrong biasanya seperti wanita yang memiliki rambut panjang. Tetapi dalam hal ini wanita kurang srek atau tidak pantas dipanggil gondrong meskipun rambutnya panjang, hal ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari, orang tidak pernah menyebut wanita dengan sebutan gondrong rambutnya, tetapi lebih melekat kepada laki-laki yang memiliki rambut panjang dengan sebutan gondrong.

Memiliki rambut gondrong bagi pria merupakan keunikan tersendiri, karena yang sudah tertancap dalam pikiran dan benak kita ialah yang berambut panjang alias gondrong itu dimiliki wanita, wanitalah yang seharusnya memiliki rambut gondrong alias panjang bukan pria, dan pria didominasi dengan rambut pendek krn itulah budaya yang sudah mendarah daging di kehidupan kita sehari-hari. entah asal usul budaya ini dari mana.. saya juga belum menelusuri sejarahnya. Tapi dilihat dari konteks sejarah yang penulis tahu, dimasa Rasulullah Saw, teknologi belum secanggih di era modern saat ini, dikala saat itu gunting sangat sulit ditemukan atau bahkan tidak ada, adapun ada alternatif lain untuk mencukur rambut bisa digunakan benda yang tajam yang ada pada saat itu, seperti pisau, pedang atau sejenisnya yang pada akhirnya tidak terlalu menjadi hal yang membudaya untuk seseorang mencukur rambutnya. Dan untuk mencukur rambut merupakan hal yang sangat tidak dipersoalkan. Itulah kenapa orang-orang dulu baik perempuan maupun laki-laki dominan memiliki rambut panjang.

Tidak seperti di era modern saat ini, seirng kemajuan teknologi dan komunikasi, masyarakat sudah dimudahkan dari segi peralatan dan perlengkapan. Seperti gunting yang berfungsi untuk mencukur rambut dan memotong sesuatu yang harus dipotong atau digunting. Orang-orang juga tidak punya alas an untuk mengelak ketika orangnya jauh yang pada akhirnya tidak mengetahui khabarnya sedangkan kita sudah dibekali handphone untuk berkomunikasi jarak jauh, sehingga memudahkan kita mengetahui khabar atau informasi orang yang jaraknya sangat jauh dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lainnya.
Banyak pertanyaan yang kemudian dilontarkan kepada pria yang berinisiatif memelihara rambutnya yang kemudian memiliki rambut gondrong alias panjang. Di Indonesia misalkan dari hasil pengamatan lapangan, pria yang memiliki rambut gondrong biasanya seorang seniman dan mahasiswa, serta ada juga masyarakat terlepas dari seorang seniman atau mahasiswa yang juga berinisiatif memiliki rambut gondrong  dengan alasan berfariasi. 
Terlepas dari hasil wawancara penulis dengan tokoh seniman, dalam hal ini hanya berdasarkan data empiris, seorang seniman yang memiliki rambut gondrong adalah mereka-mereka yang memang mencintai seni, mereka yang meluapkan hasrat untuk mengadakan keindahan, gondrong bagi seorang seniman merupakan luapan emosi, atau bahkan gondrong juga merupakan keindahan, keindahan yang bukan pada gondrong semata juga ditambah dengan pakaian atau busana, dan peralatan atau perlengkaapan yang lain yang mungkin bertentangan dengan penilaian masyarakat pada umumnya.  Tapi begitulah realitasnya mereka lebih senang berambut gondrong.
Begitu juga seorang mahasiswa yang sering kita lihat di televisi atau di kampus-kampus, ada yang memiliki rambut gondrong dan bahkan ada dari kelompok tertentu yang kompak dengan rambut mereka yang gondrong. Yang menjadi pertanyaan apa yang mendasari mereka berambut panjang? Dari hasil wawancara penulis kepada salah seorang Mahasiswa pecinta Alam yang bernama Elan, Mahasiswa UIN Alauidn Makassar, beliau mengatakan alasan tentang dirinya yang memiliki rambut gondrong, beliau mengatakan bagi saya rambut gondrong tidak ada masalah karena saya memaknai rambut gondrong itu merupakan lupakan emosi saya, saya risih melihat Indonesia yang carut marut sekarang, banyak yang berpenampilan menarik, sopan dengan baju dimasukan di celana, rambut di sisir dan memakai dasi yang bagus toh mereka mengambil uang yang bukan haknya. Mereka yang baik tutur katanya di depan layar toh ternyata mereka bermain dibelakang layar untuk memanfaatkan jabatan dengan mengisap uang rakyat. Dengan rambut gondrong saya melihat diri saya yang sebenarnya, karakter yang tercermin dari penampilan saya. Saya orangnya keras, dan saya suka rambut gondrong. Saya memiliki persepsi bahwa kebanyakan orang tertipu dengan apa yang Nampak, kebenaran yang hakiki sebenarya terletak dibalik apa yang Nampak, jadi jangan tertipu dengan penampilan atau cashingnya tetapi lihat di dalamnya.
Tak jarang juga kita lihat di elemen masyarakat yang memiliki rambut gondrong, mereka yang kemudian lebih suka dengan penampilan gondrong dari pada berambut pendek, kebanyakan dari mereka yang berambut gondrong adalah mereka yang kurang memahami alasan substansial kenapa mereka berambut gondrong, dan rata-rata dari mereka hanya beranggapan rambut gondrong itu kren, dan dengan dengan rambut gondrong saya terlihat lebih ganteng dari pada berambut pendek. Ada juga yang kemudian beranggapan rambut gondrong itu unik dan terlihat sangar dimata orang-orang, bahkan ada juga yang beranggapan bahwa rambut gondrong itu dimata wanita terlihat lebih memiliki daya tarik.
Memiliki rambut gondrong bagi tiap-tiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda. Dilihat dari beberapa alasan dari pengamatan penulis, penulis menganalogikan bahwa memiliki rambut gondrong itu adalah hal yang tidak perlu di persoalkan. Memiliki rambut panjang bagi setiap individu memiliki alasan tersendiri yang menurut mereka baik, selagi tidak membuat resah orang banyak. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah orang-orang merasah resah ketika melihat seorang pria berambut gondrong? Tentu ada yang mengatakan,  mereka resah dengan pria yang berambut gondrong karena terlihat sadis atau penurut persepsi mereka yang berambut panjang terlihat menakutkan yang pada akhirnya membuat suasana tidak nyaman. Yang kemudian menjadi pertanyaan juga adalah apakah semua yang berambut gondrong itu menakutkan dan apakah penampilan dengan rambut gondrongnya  atau penampilan yang lainnya sinergis dengan isi dalamnya? 
Ketika kita meliahat seorang pria yang berambut panjang tentu kita tidak boleh langsung meklaim bahwa berambut panjang itu kurang baik karena apa yang kita katakan itu belum tentu dibenarkan olehnya. Jangan kemudian menggeneralkan semua yang berambut gondrong dengan persepsi negatif. Ketika kita menggenaralkan si A yang berambut gondrong belum tentu si B sama pemaknaannya tentang alasan dia berambut gondrong. Sama halnya seorang seniman yang memiliki alasan tertentu sehingga dia berambut panjang. Dan beda juga masyarakat pada umumnya terlepas dari identitas dirinya sebagai seorang seniman dan mahasiswa tentang alasannya berambut gondrong. Ketika kita menggeneralkan pemaknaan tentang berambut gondrong dengan persepsi negatif berarti secara tidak langsung kita mengklaim bahwa seniman itu jelek atau mahasiswa itu tidak sopan dan lain sebagainya yang pada akhirnya kembali ke subjektifitas seseorang dalam memahami pemaknaan tentang berambut gondrong.

1 comment: