seiring berjalannya waktu kita pasti dihadapkan pada pilihan-pilihan untuk kemudian kita akan memilih pilihan diantara berbagai pilihan itu. diawali dengan masa kanak-kanak, jalan hidup kanak-kanak sangat seru dan tidak pernah kita lupakan. masa kanak-kanak adalah masa dimana kita tidak menyadari akan pilihan yang kita ambil. pilihan yang kemudian mengarahkan konsep dan kebiasaan serta berdampak pada karakter kita seiring berjalannya waktu.
masa kanak-kanak bagi yang masih mengingatnya akan mengatakan seru sekali masa kanak-kanak ku ketika saya bermain-main dengan teman-teman yang sangat baik, kami bermain tamiya, kami bermain bola dilapangan, bahkan kami sering ke laut untuk berenang serta memancing. ada juga yang mengatakan masa kanak-kanakku sangat indah manakala saya mengenal sosok wanita yang kemudian saat ini dia tidak ada disampingku. ada juga yang mengatakan masa kanak-kanakku sangat dipenuhi dengan hal-hal tragis yang memaksa saya berlinang air mata manakala saya mengingatnya, ada juga yang mengatakan masa kanak-kanakku sangat berperan penting yang menjadikan saya sampai saat ini dengan berjuta prestasi dan lain-lain.
itulah masa kanak-kanak yang memang setiap orang mungkin akan mengalami pengalaman yang berbeda-beda. ada yang merasakan kegembiraan pada masa kanak-kanaknya, ada yang merasakan galau karena pernah mengenal sosok teman cewek pada masa kanak-kanaknya dan kemudian cewek itu pindah tempat tinggal entah dimana sekarang dia berada, dan ingin sekali bertemu dengan teman ceweknya itu suatu saat, ada juga masa kanak-kanak yang dipenuh dengan hal-hal yang menguras emosional, bahkan ada juga yang mengalami masa kanak-kanak dengan menguras pikiran untuk belajar dan pada akhirnya berprestasi, serta ada juga yang menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan hal-hal yang tidak berarti seperti mencuri, berkalahi dan kegiatan-kegiatan yang (mungkin) sangat tidak bermanfaat dsb.
kita menyadari bahwa yang menjadikan diri kita sekarang ini tak telepas dengan sejarah kita. sejarah yang kita pasti mengingatnya biarpun sedikit dari banyaknya pengalaman masa kanak-kanak kita. tapi kita tidak akan nafikan bahwa apa yang kita rasakan dulu merupakan salah satu faktor yang membentuk kepribadian kita sekarang, membentuk pola pikir kita sekarang meskpun ada juga orang pada saat kecil dan kemudian tumbuh besar mengalami perubahan 180 derajat. masa kecil sangat dikenal jail, nakal, suka mencuri, berantem, dan kemudian dewasa dia menjadi pribadi yang sangat baik dan sholeh. yang menjadi pertanyaan, apa yang mendasari dia berubah seperti itu? bahkan ada juga yang semenjak kecil dikenal sangat baik, tetapi ketika sudah tumbuh besar mengalami perubahan sebaliknya, sangat jahat, terkenal dengan kebrutalannya. pertanyaannya sama dengan pertanyaan diatas, apa yang membuat dia sehingga mengalami perubahan yang sangat jauh berbeda dengan karakternya waktu masih kecil?
kita harus akui bahwa setiap individu pasti mengalami jalan hidup yang berbeda-beda, siapapun itu. jalan hidup yang berbeda-beda itulah salah satu faktor yang mengarahkan individu menjadi seperti apa dia berdasarkan pengalaman yang menurut dia nyaman. perjalanan hidup atau kisah hidup itulah tidak terlepas dengan lingkungan dimana dia bergaul, dimana dia mencari kenyamanan yang sesuai dengan karakternya, atau sesuai dengan didikan orang tua, tanpa dia sadari kebiasaan orang tua juga yang mengarahkan dia mengikuti orang tuanya, pergaulan orang tuanya, atau karena orang tuanya yang kemudian mengarahkan dia seperti sekarang.
masa kanak-kanak yang diawali masuk SD, yang kemudian mendapatkan pelajaran disekolah, selesai sekolah bergaul dengan orang tua di rumah, bergaul dengan teman-teman dilingkungan rumah, ada juga yang bergaul dengan teman-teman sekolah, ada juga bergaul dengan guru privat, atau langsung diajar oleh orang tua dirumah, atau ada juga yang kemudian tidak memilih untuk privat, dia lebih memilih untuk bermain dengan teman-temannnya untuk mencari kenyamanan dan kesenangan. seperti itulah putusan-putusan atau sesuatu yang kita pilih pada masa kanak-kanak, entah itu pilihan untuk bermain, belajar dengan kehadiran guru privat.
terkait dengan pengalaman masa kanak-kanak kita, yang menjadi pertanyaan adalah apakah pada saat itu kita sudah bisa melihat mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk kemudian kita lebih memilih yang baik? atau mungkin kita tidak mengetahui yang baik dan buruk.
disitulah peran orang tua yang selalu mengarahkan kita untuk menjadi anak yang diharapkan baik oleh kedua orang tua kita. orang tua yang kemudian terus menasehati kita dikala awal kita melihat ibu, dan kita mengatakan kepada beliau "ibu?". disitulah harapan besar orang tua yang ingin sekali melihat anaknya besar menjadi anak yang baik dan sukses. tapi apakah kita menyadari pada saat kanak-kanak kita memilih jalan yang baik? atau kita cenderung tidak mendengarkan arahan atau nasihat orang tua kita? bagaimana kemudian anak yang sejak kecil sudah mengalami distorsi pemahaman akan dunia, manakala semenjak kecil dia tidak dihadapkan pada kasih sayang seorang ayah yang menasihati dia, seorang ibu yang memasakan dia. apakah dia punya semangat hidup atau seperti apa?
kita tidak bisa nafikan bahwa orang tua pasti ingin melihat anaknya menjadi anak yang baik, ingin melihat anaknya bergaul dengan teman-teman yang baik, ingin melihat anaknya cerdas, mendapat peringkat satu disekolah. dan bisa membanggaan kedua orang tuanya serta yang paling penting anak itu sholeh dan paham agama, tau membaca Al-Qur'an dan pintar sholat. itulah dambaan kedua orang tua.
yang menjadi pertanyaan kemudian adalah apakah kedua orang tua di dunia memiliki persepsi seperti itu? di barat mungkin beda, di timur tengah juga mungkin beda. di barat mungkin lebih mengarahkan anaknya untuk terus belajar intens dan dihadirkan guru privat di rumah untuk memastikan anaknya mendapat suplay ilmu pengetahuan lebih banyak dibanding di sekolah formal. atau di timur mungkin orang tuanya lebih menekankan anaknya untuk dididik tentang pemahaman Akhlak yang lebih intens dan pemahaman akan agama yang baik pada masa kanak-kanak. dan kita di Indonesia seperti apa peran orang tua kita dalam mengarahkan kita menjadi gambaran yang dia inginkan untuk menjadikan kita seiring beerjalannya waktu kita dihadapkan pada pertumbuhan-pertumbuhan yang semakin besar.
ada juga orang tua akibat pemahaman dan basic pengalaman sewaktu kecil terkait dengan pemahaman tentang kehidupan yang kompleks ini pada akhirnya tidak terlalu paham bagaimana strategi untuk mendidik anak menjadi anak yang baik. tetapi bukan berati kita nafikan peran orang tua kita. tetapi kita harus tetap mencintai kedua orang tua kita. karena yang paling fundamental dari harapan kedua orang tua kita adalah menjadi anak yang baik dan cerdas serta bermanfaat serta sukses dimasa yang akan datang. tetapi ada anak yang kemudian akibat faktor eksternal atau lingkungan yang kurang mendidik menjadikan anak menjadi pribadi yang tidak diharapkan kedua orang tua.
lingkunganlah yang terus mengarahkan kita seperti sekarang. kita sudah dihadapkan pada banyak pilihan semenjak kita kecil. apakah kita tinggal dilingkungan yang dipenuhi dengan preman, dipenuhi dengan orang-orang yang tekun belajar untuk mengejar prestasi atau malah terjebak pada kebiasaan dengan lingkungan yang mengarahkan kita menjadi pribadi yang tidak mendengarkan kedua orang tua kita.
kita yang kemudian memilih menjadi seperti apa. dan seiring berjalannya waktu kita memasuki awal-awal remaja dengan mengenyam pendidikan SMP, yang mungkin sedikit dari banyaknya kita terhegemoni oleh pemahaman tentang realitas baru yang kita dapatkan sering perekembangan intelektual yang dulunya kita hanya mempelajari bilangan cacah, dan sejeninya kini pelajaran kita sudah mengalami fase dimana sudah mengalami perubahan kadar analisis yang lebih menantang. dilain sisi kita dihadapkan pada pelajaran tentang agama, kita juga mengalami pergaulan yang sudah berfariasi. ada banyak karakter anak-anak. karakter yang didik oleh orang tuanya di rumah, lingkungannya diseputaran rumah atau malah lebih memilih bergaul di pasar yang jauh dari rumahnya.
berbagai macam jalan hidup orang-orang yang kita temui dengan kelebihan yang berbeda-beda. ada yang mempunyai bakat sepakbola, ada yang lebih memilih fokus untuk olimpiade matematika, fisika, ada juga orang yang sering berkumpul dengan kelompok yang hobi bermain musik dengan peralatan gitar klasik dan tak jarang menyewa studio untuk menguji kemampuannya dengan kelompoknya apakah mereka layak untuk disejajarkan dengan band-band papan atas seperti ungu.
seiring berjalannya waktu mereka sudah memiliki pemahaman akan dunia, tindakan seperti apa yang ingin mereka lakukan untuk menjadikan mereka merasa nyaman. terkait dengan itu juga mereka sudah memiliki keyakinan akan sesuatu yang dilihatnya. entah itu pemahaman tentang agama, sosial kemasyarakatan, apa saja yang sangat fundamental harus mereka kedepankan. entah itu mereka kedepankan pelajaran matematika karena tidak lama lagi akan diselenggarakan olimpiade amatematika, atau lebih mengedepankan peringkat satu dikelas, atau juga mungkin ingin mendapatkan kekasih yang mereka puja selama ini. pemahaman mereka pun terus berekembang. seiring berjalannya waktu tak jarang pemahaman yang dulunya mereka yakini akan terdistorsi oleh pemahaman baru selanjutnya tercermin dari tindakan untuk memastikan distorsinya pemahaman itu. entah apa yang kemudian mendistorsi pemahaman (konsep) itu, apakah mereka mendengar ceramah di masjid, atau orang tua mereka sudah jijik melihat anaknya berlaku secara tidak berlandas, cuma mementingkan bermain dari pada belajar atau sembahyang atau apa. dari pembahasan ini, ada yang menjadi faktor yang sangat mempengaruhi psikologi anak itu yang kemudian mendistorsi pemahaman lama dan beralih ke pemahaman baru..
mereka kemudian terus menjalani kehidupan dengan tanpa mereka sadari mereka ingin sekali mencari kenyamanan yang lebih dibanding kenyamanan awal yang kadang membosankan. mereka ingin mencari hal baru yang mungkin tanpa terfikirkan dengan hal baru bisa memperjelas potensinya yang selama ini mereka tidak ketahui demi suatu capaian akan kenyamanan itu. dan tak jarang ada anak yang betul-betul menemukan pemahaman baru tekait dengan potensinya, ada juga yang masih merasa bingung, apa sebenarnya yang menjadikan diri ini galau, atau ada juga yang sudah terbiasa dalam lingkungan yang mengarahkan dia terjebak dalam lingkungan yang tidak sama sekali membuat dia mengetahui potensinya sehingga dia tidak pernah melihat potensinya. mereka kemudian cuma belajar dengan tekanan, belajar disekolah dengan penuh harapan agar secepatnya lulus, belajar disekolah dan mengharapkan cepat pulang, dan tidur, setelahnya bermain, malamnya berkumpul dengan teman-teman untuk bermain gitar, apel ke rumah kekasih, atau mungkin bermain domino.
tetapi ada juga anak yang kemudian menikmati pelajarannya dengan merasakan sekali kesenangan dan merasa puas jika sudah selesai menerjakan tugas sekolah pada akhirnya pelit untuk memberi tahu cara untuk mengerjakan tugas kepada teman-temannya, karena persepsinya kenapa kalian tidak mau belajar, kalian cuma menerima hasil yang sangat memprihatinkan, kalian rugi ketika ujian berlangsung dan cara kalian hanya ingin nyontek atau sejenisnya. tetapi kemudian ada juga anak yang entah faktor apa yang membuat dia begitu dermawan memberi dengan ikhlas hasil pekerjaan rumahnya, bukan cuma itu , dia juga memberi tahu cari bagaimana proses untuk menyelesaikan tugas matematika itu.
diantara banyak ilustasi-ilustrasi diatas yang menjadi perilaku anak-anak sering berjalannya waktu mereka terus berbenturan dengan realitas yang bagi mereka mungkin baru tetapi ada saat ketika hal itu tidak baru lagi yaitu hal itu sudah menjadi kebiasaan yang sering disaksikannya. entah itu kebiasaan yang baik atau yang tidak baik. mau tidak mau mereka harus berhdapan dengan realitas itu dengan caranya masing-masing, apakah dia menjadi bagian dari kebiasaan itu demi keterlibatan ke arah yang baik atau sebaliknya. bukan cuma itu pengalaman secara tidak langsung membentuk pemahamannya tentang dunia. mereka terus bertanya-tanya dalam hati, mana keadaan yang akan mempertemukanku kepada kenyamanan. yang saya temui ini adalah ketidaknyamanan ketika saya dihadapkan pada teman-teman yang ingin melihat hasil pekerjaan rumahku dengan pemahaman bahwa mereka sama sekali tidak ingin berusaha untuk mengerjakannya padahal waktu yang diberikan oleh guru sama yaitu ketika berada dirumah. atau apakah mereka cuma bermain dan tidak menganggap penting tugas ini. yang secara tidak langsung untuk mencapai kenyamanan itu mereka mencari teman yang se ideologi, sama-sama belajar untuk mengerjakan tugas sekolah di rumah, dan berusaha menghindar dari teman-teman yang tidak menganggap penting tugas sekolah.
entah apa ya yang ada di pikiran anak yang malas mengerjakan tugas itu.saya tidak ingin mengatakan mereka tidak memiliki kesadaran untuk belajar, selagi mereka tetap masih hidup tidak menutup kemungkinan dari momen tertentu akibat pemahaman yang mungkin bagi mereka sangat syarat akan emosional dan dibenturkan dengan realitas yang menguras pikiran dan hati, tidak menutup kemungkinan mereka akan memiliki kesadaran tentang pentingnya belajar, dan bisa jadi seiring berjalannya waktu kesadaran itu akan selalu eksis pada dirinya yang kemudian berubah 180 derajat dari kebiasaan sebelumnya.
Bersambung....
masa kanak-kanak bagi yang masih mengingatnya akan mengatakan seru sekali masa kanak-kanak ku ketika saya bermain-main dengan teman-teman yang sangat baik, kami bermain tamiya, kami bermain bola dilapangan, bahkan kami sering ke laut untuk berenang serta memancing. ada juga yang mengatakan masa kanak-kanakku sangat indah manakala saya mengenal sosok wanita yang kemudian saat ini dia tidak ada disampingku. ada juga yang mengatakan masa kanak-kanakku sangat dipenuhi dengan hal-hal tragis yang memaksa saya berlinang air mata manakala saya mengingatnya, ada juga yang mengatakan masa kanak-kanakku sangat berperan penting yang menjadikan saya sampai saat ini dengan berjuta prestasi dan lain-lain.
itulah masa kanak-kanak yang memang setiap orang mungkin akan mengalami pengalaman yang berbeda-beda. ada yang merasakan kegembiraan pada masa kanak-kanaknya, ada yang merasakan galau karena pernah mengenal sosok teman cewek pada masa kanak-kanaknya dan kemudian cewek itu pindah tempat tinggal entah dimana sekarang dia berada, dan ingin sekali bertemu dengan teman ceweknya itu suatu saat, ada juga masa kanak-kanak yang dipenuh dengan hal-hal yang menguras emosional, bahkan ada juga yang mengalami masa kanak-kanak dengan menguras pikiran untuk belajar dan pada akhirnya berprestasi, serta ada juga yang menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan hal-hal yang tidak berarti seperti mencuri, berkalahi dan kegiatan-kegiatan yang (mungkin) sangat tidak bermanfaat dsb.
kita menyadari bahwa yang menjadikan diri kita sekarang ini tak telepas dengan sejarah kita. sejarah yang kita pasti mengingatnya biarpun sedikit dari banyaknya pengalaman masa kanak-kanak kita. tapi kita tidak akan nafikan bahwa apa yang kita rasakan dulu merupakan salah satu faktor yang membentuk kepribadian kita sekarang, membentuk pola pikir kita sekarang meskpun ada juga orang pada saat kecil dan kemudian tumbuh besar mengalami perubahan 180 derajat. masa kecil sangat dikenal jail, nakal, suka mencuri, berantem, dan kemudian dewasa dia menjadi pribadi yang sangat baik dan sholeh. yang menjadi pertanyaan, apa yang mendasari dia berubah seperti itu? bahkan ada juga yang semenjak kecil dikenal sangat baik, tetapi ketika sudah tumbuh besar mengalami perubahan sebaliknya, sangat jahat, terkenal dengan kebrutalannya. pertanyaannya sama dengan pertanyaan diatas, apa yang membuat dia sehingga mengalami perubahan yang sangat jauh berbeda dengan karakternya waktu masih kecil?
kita harus akui bahwa setiap individu pasti mengalami jalan hidup yang berbeda-beda, siapapun itu. jalan hidup yang berbeda-beda itulah salah satu faktor yang mengarahkan individu menjadi seperti apa dia berdasarkan pengalaman yang menurut dia nyaman. perjalanan hidup atau kisah hidup itulah tidak terlepas dengan lingkungan dimana dia bergaul, dimana dia mencari kenyamanan yang sesuai dengan karakternya, atau sesuai dengan didikan orang tua, tanpa dia sadari kebiasaan orang tua juga yang mengarahkan dia mengikuti orang tuanya, pergaulan orang tuanya, atau karena orang tuanya yang kemudian mengarahkan dia seperti sekarang.
masa kanak-kanak yang diawali masuk SD, yang kemudian mendapatkan pelajaran disekolah, selesai sekolah bergaul dengan orang tua di rumah, bergaul dengan teman-teman dilingkungan rumah, ada juga yang bergaul dengan teman-teman sekolah, ada juga bergaul dengan guru privat, atau langsung diajar oleh orang tua dirumah, atau ada juga yang kemudian tidak memilih untuk privat, dia lebih memilih untuk bermain dengan teman-temannnya untuk mencari kenyamanan dan kesenangan. seperti itulah putusan-putusan atau sesuatu yang kita pilih pada masa kanak-kanak, entah itu pilihan untuk bermain, belajar dengan kehadiran guru privat.
terkait dengan pengalaman masa kanak-kanak kita, yang menjadi pertanyaan adalah apakah pada saat itu kita sudah bisa melihat mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk kemudian kita lebih memilih yang baik? atau mungkin kita tidak mengetahui yang baik dan buruk.
disitulah peran orang tua yang selalu mengarahkan kita untuk menjadi anak yang diharapkan baik oleh kedua orang tua kita. orang tua yang kemudian terus menasehati kita dikala awal kita melihat ibu, dan kita mengatakan kepada beliau "ibu?". disitulah harapan besar orang tua yang ingin sekali melihat anaknya besar menjadi anak yang baik dan sukses. tapi apakah kita menyadari pada saat kanak-kanak kita memilih jalan yang baik? atau kita cenderung tidak mendengarkan arahan atau nasihat orang tua kita? bagaimana kemudian anak yang sejak kecil sudah mengalami distorsi pemahaman akan dunia, manakala semenjak kecil dia tidak dihadapkan pada kasih sayang seorang ayah yang menasihati dia, seorang ibu yang memasakan dia. apakah dia punya semangat hidup atau seperti apa?
kita tidak bisa nafikan bahwa orang tua pasti ingin melihat anaknya menjadi anak yang baik, ingin melihat anaknya bergaul dengan teman-teman yang baik, ingin melihat anaknya cerdas, mendapat peringkat satu disekolah. dan bisa membanggaan kedua orang tuanya serta yang paling penting anak itu sholeh dan paham agama, tau membaca Al-Qur'an dan pintar sholat. itulah dambaan kedua orang tua.
yang menjadi pertanyaan kemudian adalah apakah kedua orang tua di dunia memiliki persepsi seperti itu? di barat mungkin beda, di timur tengah juga mungkin beda. di barat mungkin lebih mengarahkan anaknya untuk terus belajar intens dan dihadirkan guru privat di rumah untuk memastikan anaknya mendapat suplay ilmu pengetahuan lebih banyak dibanding di sekolah formal. atau di timur mungkin orang tuanya lebih menekankan anaknya untuk dididik tentang pemahaman Akhlak yang lebih intens dan pemahaman akan agama yang baik pada masa kanak-kanak. dan kita di Indonesia seperti apa peran orang tua kita dalam mengarahkan kita menjadi gambaran yang dia inginkan untuk menjadikan kita seiring beerjalannya waktu kita dihadapkan pada pertumbuhan-pertumbuhan yang semakin besar.
ada juga orang tua akibat pemahaman dan basic pengalaman sewaktu kecil terkait dengan pemahaman tentang kehidupan yang kompleks ini pada akhirnya tidak terlalu paham bagaimana strategi untuk mendidik anak menjadi anak yang baik. tetapi bukan berati kita nafikan peran orang tua kita. tetapi kita harus tetap mencintai kedua orang tua kita. karena yang paling fundamental dari harapan kedua orang tua kita adalah menjadi anak yang baik dan cerdas serta bermanfaat serta sukses dimasa yang akan datang. tetapi ada anak yang kemudian akibat faktor eksternal atau lingkungan yang kurang mendidik menjadikan anak menjadi pribadi yang tidak diharapkan kedua orang tua.
lingkunganlah yang terus mengarahkan kita seperti sekarang. kita sudah dihadapkan pada banyak pilihan semenjak kita kecil. apakah kita tinggal dilingkungan yang dipenuhi dengan preman, dipenuhi dengan orang-orang yang tekun belajar untuk mengejar prestasi atau malah terjebak pada kebiasaan dengan lingkungan yang mengarahkan kita menjadi pribadi yang tidak mendengarkan kedua orang tua kita.
kita yang kemudian memilih menjadi seperti apa. dan seiring berjalannya waktu kita memasuki awal-awal remaja dengan mengenyam pendidikan SMP, yang mungkin sedikit dari banyaknya kita terhegemoni oleh pemahaman tentang realitas baru yang kita dapatkan sering perekembangan intelektual yang dulunya kita hanya mempelajari bilangan cacah, dan sejeninya kini pelajaran kita sudah mengalami fase dimana sudah mengalami perubahan kadar analisis yang lebih menantang. dilain sisi kita dihadapkan pada pelajaran tentang agama, kita juga mengalami pergaulan yang sudah berfariasi. ada banyak karakter anak-anak. karakter yang didik oleh orang tuanya di rumah, lingkungannya diseputaran rumah atau malah lebih memilih bergaul di pasar yang jauh dari rumahnya.
berbagai macam jalan hidup orang-orang yang kita temui dengan kelebihan yang berbeda-beda. ada yang mempunyai bakat sepakbola, ada yang lebih memilih fokus untuk olimpiade matematika, fisika, ada juga orang yang sering berkumpul dengan kelompok yang hobi bermain musik dengan peralatan gitar klasik dan tak jarang menyewa studio untuk menguji kemampuannya dengan kelompoknya apakah mereka layak untuk disejajarkan dengan band-band papan atas seperti ungu.
seiring berjalannya waktu mereka sudah memiliki pemahaman akan dunia, tindakan seperti apa yang ingin mereka lakukan untuk menjadikan mereka merasa nyaman. terkait dengan itu juga mereka sudah memiliki keyakinan akan sesuatu yang dilihatnya. entah itu pemahaman tentang agama, sosial kemasyarakatan, apa saja yang sangat fundamental harus mereka kedepankan. entah itu mereka kedepankan pelajaran matematika karena tidak lama lagi akan diselenggarakan olimpiade amatematika, atau lebih mengedepankan peringkat satu dikelas, atau juga mungkin ingin mendapatkan kekasih yang mereka puja selama ini. pemahaman mereka pun terus berekembang. seiring berjalannya waktu tak jarang pemahaman yang dulunya mereka yakini akan terdistorsi oleh pemahaman baru selanjutnya tercermin dari tindakan untuk memastikan distorsinya pemahaman itu. entah apa yang kemudian mendistorsi pemahaman (konsep) itu, apakah mereka mendengar ceramah di masjid, atau orang tua mereka sudah jijik melihat anaknya berlaku secara tidak berlandas, cuma mementingkan bermain dari pada belajar atau sembahyang atau apa. dari pembahasan ini, ada yang menjadi faktor yang sangat mempengaruhi psikologi anak itu yang kemudian mendistorsi pemahaman lama dan beralih ke pemahaman baru..
mereka kemudian terus menjalani kehidupan dengan tanpa mereka sadari mereka ingin sekali mencari kenyamanan yang lebih dibanding kenyamanan awal yang kadang membosankan. mereka ingin mencari hal baru yang mungkin tanpa terfikirkan dengan hal baru bisa memperjelas potensinya yang selama ini mereka tidak ketahui demi suatu capaian akan kenyamanan itu. dan tak jarang ada anak yang betul-betul menemukan pemahaman baru tekait dengan potensinya, ada juga yang masih merasa bingung, apa sebenarnya yang menjadikan diri ini galau, atau ada juga yang sudah terbiasa dalam lingkungan yang mengarahkan dia terjebak dalam lingkungan yang tidak sama sekali membuat dia mengetahui potensinya sehingga dia tidak pernah melihat potensinya. mereka kemudian cuma belajar dengan tekanan, belajar disekolah dengan penuh harapan agar secepatnya lulus, belajar disekolah dan mengharapkan cepat pulang, dan tidur, setelahnya bermain, malamnya berkumpul dengan teman-teman untuk bermain gitar, apel ke rumah kekasih, atau mungkin bermain domino.
tetapi ada juga anak yang kemudian menikmati pelajarannya dengan merasakan sekali kesenangan dan merasa puas jika sudah selesai menerjakan tugas sekolah pada akhirnya pelit untuk memberi tahu cara untuk mengerjakan tugas kepada teman-temannya, karena persepsinya kenapa kalian tidak mau belajar, kalian cuma menerima hasil yang sangat memprihatinkan, kalian rugi ketika ujian berlangsung dan cara kalian hanya ingin nyontek atau sejenisnya. tetapi kemudian ada juga anak yang entah faktor apa yang membuat dia begitu dermawan memberi dengan ikhlas hasil pekerjaan rumahnya, bukan cuma itu , dia juga memberi tahu cari bagaimana proses untuk menyelesaikan tugas matematika itu.
diantara banyak ilustasi-ilustrasi diatas yang menjadi perilaku anak-anak sering berjalannya waktu mereka terus berbenturan dengan realitas yang bagi mereka mungkin baru tetapi ada saat ketika hal itu tidak baru lagi yaitu hal itu sudah menjadi kebiasaan yang sering disaksikannya. entah itu kebiasaan yang baik atau yang tidak baik. mau tidak mau mereka harus berhdapan dengan realitas itu dengan caranya masing-masing, apakah dia menjadi bagian dari kebiasaan itu demi keterlibatan ke arah yang baik atau sebaliknya. bukan cuma itu pengalaman secara tidak langsung membentuk pemahamannya tentang dunia. mereka terus bertanya-tanya dalam hati, mana keadaan yang akan mempertemukanku kepada kenyamanan. yang saya temui ini adalah ketidaknyamanan ketika saya dihadapkan pada teman-teman yang ingin melihat hasil pekerjaan rumahku dengan pemahaman bahwa mereka sama sekali tidak ingin berusaha untuk mengerjakannya padahal waktu yang diberikan oleh guru sama yaitu ketika berada dirumah. atau apakah mereka cuma bermain dan tidak menganggap penting tugas ini. yang secara tidak langsung untuk mencapai kenyamanan itu mereka mencari teman yang se ideologi, sama-sama belajar untuk mengerjakan tugas sekolah di rumah, dan berusaha menghindar dari teman-teman yang tidak menganggap penting tugas sekolah.
entah apa ya yang ada di pikiran anak yang malas mengerjakan tugas itu.saya tidak ingin mengatakan mereka tidak memiliki kesadaran untuk belajar, selagi mereka tetap masih hidup tidak menutup kemungkinan dari momen tertentu akibat pemahaman yang mungkin bagi mereka sangat syarat akan emosional dan dibenturkan dengan realitas yang menguras pikiran dan hati, tidak menutup kemungkinan mereka akan memiliki kesadaran tentang pentingnya belajar, dan bisa jadi seiring berjalannya waktu kesadaran itu akan selalu eksis pada dirinya yang kemudian berubah 180 derajat dari kebiasaan sebelumnya.
Bersambung....
No comments:
Post a Comment