Tidak bisa lagi dinafikan untuk menjadi pribadi yang baik terkadang sangat rumit bagi pemula. Pemula dalam hal ini adalah dia yang merasa sudah termotivasi oleh banyak hal yang kemudian mengarah pada kehidupannya yang lebih baik. kehidupan yang diakuinya bahwa sebelumnya kehidupannya terbilang sangat tidak terarah, tidak konsisten, tidak memiliki budaya pola hidup yang sehat dan masih banyak lagi. Pemula dalam hal ini juga adalah dia yang merasa ada sesuatu yang kurang dalam aspek pemahaman dan kemudian ingin menambah pemahaman lagi tentang dunia, pemula yang ingin lagi merekonstruksi tindakan-tindakan yang tidak baik sebelumnya untuk kemudian dia berhasil mencapai target berimplikasi pada keberhasilannya melewati makna pemula.
bagi pemula, kerumitan tersebut terlihat ketika dia sulit untuk mengikuti tahap-tahap untuk merubah kebiasaan lamanya, banyak arahan-arahan yang kemudian sangat menghegemoni pemahamannya, banyak buku yang kemudian merubah mindsetnya, dan bahkan pengalaman indrawinya tidak menutup kemungkinan mengklaim dirinya bahwa ada perbandingan yang sangat jauh dari apa yang dilihat dengan keadaan dirinya dari sisi tindakan dan pemahaman.
ketika dalam kondisi tertentu ketika seseorang memperlihatkan capaian yang baik dari sisi pemahaman, pengalaman indra, disaat itulah mereka terkadang sulit untuk mengaplikasikan apa yang dipahami, pengalaman indra tersebut. mereka cenderung memenjarakan pemahaman, atau apa yang dilihat tersebut di dalam diri dan kemudian sulit untuk diaplikasikan dalam wujud perilaku, tindakan (akhlaq).
pemahaman, pengalaman indra adalah suatu hal yang sangat fundamental dalam proses perkembangan intelektual, spiritual, bahkan perilaku (EQ). Pemahaman yaitu apa yang dialami oleh indra yang telah melewati rasio dan bersifat apriori menurut setiap orang,, tetapi tidak saya katakan bahwa itulah KEBENARAN pemahamannya, karena tidak menutup kemungkinan masing-masing individu memiliki pemahaman yang berbeda dan tentu hanya ada DUA, yaitu BENAR dan SALAH pemahamannya tersebut. pemahaman dalam hal ini adalah konsep pada diri seseorang yang sudah diakui validitasnya atau keobjektifannya menurut mereka. pemahaman yang kemudian menjadi landasan bagi setiap orang berimplikasi pada tindakan berdasarkan pemahaman tersebut. terlepas, apakah itu berarti sinergis dengan konsep dan tindakannya, tetapi yang paling penting adalah bagaimana PENGAPLIKASIANNYA. saya hanya bisa mengatakan bahwa "LAKUKANLAH APA YANG MENURUTMU BENAR,,, " terlepas dari benar dan salahnya pemahaman dan tindakanmu itu.
dari tema/imej (pesan) sangat sangat jelas yaitu sadarkah ternyata banyak penghambat. dari ilustrasi diatas bisa kitas simpulkan bahwa untuk menjadi pribadi yang baik, untuk menjadikan diri memiliki konsep yang benar, memiliki tindakan yang sinergis dengan pemahaman atau konsep yang ternyata kita tidak sadari sangat banyak penghambat. dan penghambat itu tidak kita sadari, ataupun (mungkin) kita sadari tetapi pura-pura tidak tau, pura-pura tidak menyadarinya, atau mungkin karena faktor tertentu yang lebih penting dari apa yang dilakukannya sekarang.
saya akan sebutkan beberapa penyebab kenapa itu bisa terjadi dan apa penyebab yang telah kita ketahui bersama bahwa apabila penyebab tersebut bisa terus eksis pada diri kita akan sangat berperan besar untuk menjadikan diri yang tidak maju dan berkembang. tetapi mungkin bagi mereka yang sudah paham akan langkah taktis untuk menghindari penyebab itu kemudian mereka akan katakan itu bukan lagi penghalang bagi kami. bahkan mereka kemudian menjadikan penyebab itu sebagai aspek penting dalam menjalani kehidupan. saya mau bilang bahwa orang seperti itu adalah orang yang sudah paham akan kehidupan (orang yang bijaksana, yang sudah menjalani lika liku kehidupan, memahami hukum sebab-akibat dengan cermat dan terukur) contohnya seperti para filsuf yang berpengaruh saat ini. tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita bisa seperti para filsuf itu???? kita mungkin bisa, bisa menjalani tahap demi tahap menjadi seperti mereka dan kemudian persis seperti mereka dengan lika-liku kehidupan (terus bertanya-tanya apa solusi untuk masalah yang dihadapi) yang tidak bgtu jauh berbeda dengan mereka dan pada akhirnya kita akan bijaksana. Wallahualam bissawab. tetapi bukan itu yang ingin saya katakan dalam kesempatan ini.
yang ingin saya katakan adalah PENGHAMBAT APA YANG TIDAK KITA SADARI? dan Bagaimana menyadarinya dan kemudian terus menyadari sehingga terumuskan langkah atau cara meminimalisir penghambat tadi.
kita harus sepakat bahwa penghambat adalah akibat. motivasi atau apapun bentuknya yang menghegemoni pikiran kita juga merupakan akibat. dan pemahaman kita saat ini entah itu pemahamann yang benar ataupun mutlak salah itu juga akibat. dan tidak kita sadari kemudian akibat tadi menjadi penyebab sering berjalannya waktu dikeseharian kita ketika menemukan kontradiksi.
artinya bahwa tidak ada akibat tanpa adanya sebab dari apa yang kita paham dan tindakan apapun yang kita lakukan.
terkadang ketika kita sudah memahami bahwa kuliah itu baik demi menunjang kesuksesan kita dimasa depan. tetapi kita malas kuliah. atau ketika kita sudah tau bahwa buku itu adalah jendela dunia, apabila orang membaca berarti dia telah membuka jendela dunia, bisa melihat dunia yang luas, yang kemudian berdampak pada pemahaman/memiliki ilmu pengetahuan tentang dunia terlepas dari pengarang yang keliru menafsirkan tentang dunia itu,, yang paling penting adalah kita sudah melihat sedikit dari banyaknya ilmu tentang dunia. dari ilustrasi tentang kuliah adalah sesuatu yang menunjang kesuksesan yang pada akhirnya kita malas kuliah berarti ada sebab yang menghegemoni pemahaman kita yang berdampak pada tindakan kita (malas kuliah). apa sebabnya? apakah ada penghambat malas kuliah yang tidak kita sadari? sama halnya dengan malas membaca buku. apa penyebab kita malas membaca buku? sedangkan pemahaman kita tentang buku adalah jendela dunia. apakah ada penyebab yang membuat kita malas membaca buku? atau ada penghambat yang tidak kita sadari akhirnya kita malas membaca buku? tidak menutup kemungkinan kita menyadarinya tetapi kita tidak memiliki visi yang jelas tentang tujuan kita. atau bisa juga kita masih dibayangi kebiasaan lama yang mampu menghegemoni motivasi sebelumnya, pemahaman tentang buku, kuliah. itulah kebiasaan yang memang tidak kita sadari atau juga kita sadari tetapi masih menganggap penting kebiasaan lama itu.
alasan kenapa kita tidak kuliah yaitu malas, alasan kenapa kita tidak membaca buku karena lebih penting bermain game, bergaul, minum kopi tanpa pendamping buku (terbiasa), kedua ilustrasi itu tidak bisa kita generalkan. ketika orang tidak kuliah bukan berarti penyebabnya malas. dan tidak menutup kemungkinan juga bahwa oriantasi kuliah menurut pemahamannya juga bukan pada aspek kesuksesan di masa depan. karena masing-masing individu memiliki pemahaman yang berbeda-beda dan berimplikasi pada tindakannya (seperti malas kuliah, malas membaca).
ada individu-individu tertentu yang malas kuliah karena sudah terbiasa malas sewaktu Sekolah SD, SMP, sampai SMA. ada juga malas kuliah karena faktor akses kampus jauh, keuangan tidak memungkinkan,, lebih memilih untuk mencukupi dahulu kebutuhan primer (makan, minum, dll), lebih mementingkan organisasi, komunitas, kelompok tertentu, atau pemahaman kuliah adalah cuma menghabiskan uang orang tua, menyadari bahwa kuliah ternyata cuma dididik menjadi pekerja bukan pemimpin, orang ke kampus hanya sebagai ajang tampil arogansi, ketampanan, kecantikan, ajang tampil intelektual, spiritual, arogansi individu, arogansi kelompok (berujung konflik horizontal mahasiswa), dan masih banyak lagi. yang kemudian berdampak pada tindakannya malas kuliah,,, dan bisa jadi berdampak pada pemahamannya akan ada yang lebih baik dari itu,, dan melakukan yang menurut dia lebih baik dan menghindari kemungkinan terjadi dari ilustrasi-ilustrasi diatas.. meskipun kemungkinan kecil terjadi ilustrasi diatas,, dan berdampak juga pada yang malas kuliah seperti tidak mendapatkan ilmu pengetahuan, seni dan ilmu teknologi, spiritual, emosional dll.. tidak bisa menyalurkan hobi ilmu sosial, teknik, sastra, dll.. tidak mendapatkan pendukung untuk mendapatkan pekerjaan yang baik sesuai bidang ilmu yang ditekuni, pada akhirnya sulit mendapatkan pekerjaan, sulit mengangkat status kelas sosial, karna mungkin salah satu alasan menjadi pejabat/dosen, guru, hanya yang menyandang gelar sarjana atau sejenisnya,,, bahkan ada juga yang mengatakan akibat malas kulaih tidak cepat dapat sarjana, tidak mendapat IPK yang baik, yang pada akhirnya tidak memenuhi syarat dapat beasiswa di luar negeri... dsb. Wallahu'alam bissawab.
sedikit dari banyaknya ilustrasi diatas mungkin tidak mewakili apa yang dipahami teman-teman semua.. tetapi setidaknya itulah gambaran apa yang ada dikepala orang-orang terdekat yang sempat terfikirkan penulis. DAN secara umum itulah faktor penghambat bagi individu-individu tertentu yang mengalaminya entah itu disadari maupun tidak disadari. tetapi satu hal .. kembali ke ungkapan yang mengatakan bahwa LAKUKANLAH APA YANG MENURUTMU BAIK.
kita harus pahami bahwa apapun yang dilakukan seseorang adalah manifestasi dari kadar intelektual, spiritual, emosional, yang berkolaborasi pada diri individu tersebut entah itu dalam wujud yang seimbang/tidak seimbang dan outputnya akan berdampa pada tindakan apapun yang dilakukan.. cuma dua yang ada yaitu bisa jadi apa yang dilakaukannya BAIK dan SALAH. tetapi kita tidak boleh mengatakan bahwa apa yang dilakukannya sangat tidak baik/salah. karena apabila kita mengklaim itu salah dari tindakan/kelakuannya berarti kita telah menggeneralkan pemahaman kita dan individu terseebut. mungkin bisa kita katakan salah apabila telah berdiskusi sebelumnya/curhat dengannya,, tetapi apabila yang bagi kita telah memahaminya dari wujud tindakannya berarti kita telah salah kaprah dalam menilai.. karena tidak memiliki dasar dari pemahaman kita tentang dia (objek pengamatan kita). karena bisa jadi pemahaman kita dan dia berbeda 180 derajat. begitu juga sebaliknya. dan langkah taktis untuk menghindari ketidakpahaman yang kemudian berefek pada anggapan kita adalah dengan berdiskusi dengan orang tersebut. seperti apa pemahamannya yang berwujud pada kemalasannya. seperti apa tindakannya yang bersumber dari konsep berpikirnya. atau apalah...
dan terkadang dari mereka sangat mengajarkan kita arti dari berbagi dan menerima tanpa mendeskreditkan individu tertentu,, karena satu hal yang perlu dipahami bahwasanya setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan. dan yakin dan percaya bahwa apapun yang kita lakukan pasti ada konsekuensi entah itu kita sadari maupun kita tidak sadari. karena bagi orang yang paham akan banyaknya arti dibalik apa yang nampak pasti akan terus berusaha menjadikan pengalaman, pemahamannya menjadi tolak ukur keberhasilannya kelak. keberhasilan menjadi pribadi yang bijaksana, terpuji dan terukur,, konsekuensi dari semua adalah kecukupan diri yaitu materi, nonmateri (spiritual, emosional) dan kecakapan sosial dan kepekaan terhadap semua hal.
LAKUKANN APA YANG MENURUTMU BAIK Cesss... salam Mahasiswa di seluruh Indonesia..
No comments:
Post a Comment