![]() |
| Ilustration |
Saya
ingin sekali bersamamu untuk mewujudkan ambisi diri yang menggebu-gebu ini.
Ambisi yang sebenarnya belum saya analogikan kenapa saya begitu berambisi.
Pemahamanku tentang ambisi ini pun selalu memaksaku untuk terus mencari tahu di
balik ambisi ini.
Terkadang
pikiran ini selalu mengarah kepada hal-hal yang mencoreng arti cinta yang
sebenarnya, dikala saya hanya berpatokan pada wajah yang cantik rupawan, atau
mungkin cuma karena dia menjadi artis di kampus yang ketika teman-temankus
sendiri melihatmu membuat mereka stress... masih banyak mungkin hal-hal yang
sampai saat ini sulit saya analogikan.
Saya
sebenarnya khawatir dengan perasaan sayang dan cinta ini yang kemudian tiba
saatnya menjadi ambisi untuk mewujudkan rasa cinta dan sayang ini kepada objek
cinta itu, siapa lagi kalau bukan dia (mis x).
Bagaimana
kita akan bersama dalam buaian kasih sayang? Cinta? Wajahmu sangat indah dikala
engkau tersenyum. Saya bahkan secara sembunyi melihat foto-fotomu di facebook.
maafkan aku jika aku tidak sebelumnya tidak meminta izin.
Dikala
saya membuka facebook, tanpa sadar saya membaca statusmu ketika itu saya
membuka beranda untuk melihat semua info terapdate teman-teman facebook, dan
disitulah saya melihat statusmu yang mengatakan bahwa aku takut jatuh cinta.
Entah
apa yang ada dipikiranmu saat itu? Saya tidak tahu sama sekali. Saya sebelumnya
pernah menyapamu ketika engkau hendak menanyakan formulir bidak (bina dasar
kepemimpinan), saya kemudian mengarahkan dirimu untuk duduk bersilang di depan
komputer gedung fakultas teknik gowa untuk membagikan formulir tersebut yang
pada akhirnya kamu langsung mengisi biodata tersebut dengan nyaman. Dengan
gerak yang gemulai pada saat itu saya memandangi wajahmu tanpa
sepemberitahuanmu, bahkan saya melihat matamu yang indah.
Itulah
awal dari sebuah drama cinta dan kasih sayang yang melanda diriku. Kedua
kalinya saya melihat engkau lewat di depanku ketika aku sedang bermain facebook
di lantai dua fakultas teknik UH. Saat itu dua kali engkau lewat di depanku,
firasatku pada saat itu engkau hendak ke WC. Karena arahmu menuju wc lantai
dua.
Dan
kemudian seiring berjalannya waktu, aku pernah meleponmu dengan harapan engkau
mau ngobrol denganku. Tetapi apa daya engkau terdengar seperti sedang malas
bicara denganku. Hal itu terbukti ketika engkau mengatakan sudah dulu. Dan
smsmu pun mengatakan bahwa engkau sedang tidak ingin bicara.
Saya
sulit membayangkan sakit hati pada saat itu. Tapi saya tidak menyerah ketika
itu. Saya selalu mengirimmu sms untuk menyapamu dengan penuh perhatian yang
tidak lain dan tidak bukan untuk mengambil perhatianmu. Tetapi apa daya saya
seperti dalam keadaan dalam kondisi ditahu arah gerak ini. Apa yang sebenarnya
engkau pikirkan, dan kenapa engkau begitu jutek jadi wanita. Pertanyaan itu
yang sering berputar-putar dalam otakku.
Seperti
apa tipe cowok idamanmu? Apa engkau sudah memilik seorang kekasih? Atau saya
yang menggunakan cara yang kurang memperlihatkan kesungguhan ? atau mungkin
saya terlalu kuper? Hahhahaha…
Saya
selalu mengklaim diri ini agar terhindar dari sifat yang memperlihatkan diri
yang sombong atau diri yang selalu mementingkan diri sendiri. Dan yang paling
saya takutkan yaitu cinta yang terjebak dalam nafsu buta yang tidak sedikitpun
terpancar aura positif..
Saya
dalam hal ini, kondisi seperti ini mengakui bahwa saya belum terlalu memahami
hakikat dari cinta yang sebenarnya? Hakikat cinta yang memang sesuai dengan
cinta Tuhan. Cinta tuhan kepada hambanya yang tidak terbatas. Bahkan saya
menyadari bahwa cinta ini seperti cinta yang bermodalkan kagum dengan raut
wajah yang cantik rupawan. Haah..tapi apalah bedanya jika wajahnya cantik
dibarengi dengan hatinya yang cantik serta kepribadiannya yang cantik. Bukankah
itu harapan semua para lelaki untu mewujudkan rasa atau ambisinya untuk menggait wanita idamannya yang tak
jarang seperti tipe-tipe diatas?
Ahh..
rasanya ganjal sekali jika diri ini mengklaim bahwa apalah arti cantik rupawan
wajahnya jika hatinya tidak cantik, tetapi yang terpenting adalah cantik
hatinya. Dilihat dari perilaku sendiri saya selalu memfokuskan perhatian
terhadap wanita yang terbilang cantik. Saya juga selalu menganggap atau
menjadikan orang yang wajahnya bisa dibilang tidak cantik tapi standar sebagai
teman biasa dan tidak lebih, apalagi menjadikan dia sebagai pacar. Entah cantik
itu yang menjadi fokus utama dalam perjalananku untuk mencari wanita-wanita
yang nantinya akan saya bawa kepada sesuatu yang baru dalam lembaran
kehidupanku selanjutnya seiring waktu berganti.
Tapi
apakah mungkin saya bersamanya. Sebenarnya saya mengetahui dengan seksama bahwa
saya tidak mungkin mendapatkanmu jika orientasi hanya kepada kecantikanmu atau
bahkan saya tidak mampu mengantarkanmu kepada kebahagiaan. Ahh..
Bahkan
saya sendiri paham betul jika sudah jadian nanti apa yang kemudian bisa membuatmu
bahagia? Apakah kesetiaan bisa mengantarkan pada kondisi tetap konsisten jika
diri ini jauh darimu dan tidak pernah mengantarkanmu pada kondisi-kondisi
dimana dirimu merasa tentram atau damai. Haah..
Kerancuan
yang ada dibenaku ketika memikirkanmu, blm saatnya saya akan merangkulmu krn
memang saya akui bahwa kondisi internal dan eksternal diri saya belum siap? Terima
kasih telah ada di pikiranku sehingga saya bisa menulis.

No comments:
Post a Comment