Tuesday, 27 August 2013

OPTIMALISASI EQ MAHASISWA


Ilustration, Tawuran mahasiswa
Dewasa ini konflik antar mahasiswa sering terjadi, baik di secara langsung kita lihat maupun tidak langsung yang kita saksikan di layar kaca. Dan tak jarang konflik yang terjadi berujung pada tawuran antar mahasiswa. Mahasiswa yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan malah terlibat dalam kekerasan yang tak jarang menimbulkan korban. Mahasiwa sebagai pelopor perubahan dengan pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif yang selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa tak jarang tergadaikan dengan aksi tawuran. Suara-suara mahasiswa yang kerap kali  mengangkat realita sosial yang terjadi di masyarakat malah melenceng dari yang semestinya, disibukan hal-hal yang tidak penting. Tak jarang mereka lebih mementingkan hasutan orang-orang yang tidak bertanggung jawab bahkan persoalan kecil yang tidak terlalu penting menjadi persoalan besar yang tak jarang berujung pada konflik antar mahasiswa dalam bentuk kekerasan. Sikap idealisme mahasiswa yang tidak lain memperjuangkan aspirasi rakyat ke penguasa berpaling ke konsepsi tentang menjatuhkan rekan sendiri, cacian pun tak jarang kita dengar dari mulut mahasiswa ketika terlibat konflik.

Mahasiswa adalah panggilan untuk orang yang sedang menjalani pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi dengan tujuan untuk menuntut ilmu untuk kemudian diaplikasikan ilmunya tersebut untuk memenuhi kebutuhannya atau istilah yang lebih popular adalah kuliah yang sering terucap di bibir mahasiswa ketika hendak pergi ke kampus.

Kuliah adalah suatu rutinitas mahasiswa yang dimana ia berproses dalam hal mendewasakan pemahaman yang dulunya tidak atau kurang diketahui untuk menuju kepemahaman baru dalam hal intelektual, emosional, spiritual bahkan kehidupan yang mengarahkan kita untuk mengerti tentang  probematika hidup. Problematika itulah yang kemudian dicari jalan keluar untuk kehidupan yang lebih baik agar bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara, tapi realitas sekarang mahasiswa tak jarang mengacuhkan hal diatas malah bergeser dari tujuan mahasiswa malah lebih mengarah ke konflik-konflik horizontal.

Mahasiswa dengan orientasi mendewasakan pemahaman baik intelektual, emosional, bahkan spiritual tidak jarang mendeskreditkan pemahaman yang lain. dewasa ini mahasiswa selalu menonjolkan ketangkasan intelektualnya dengan bentuk menentang pihak tertentu yang dianggap keliru dengan berbagai cara untuk menjatuhkannya dengan tujuan yang sama tanpa memahami apa yang dirasakan pihak tertentu yang terlibat, Begitu juga pihak lain tak jarang menanggapi pihak pertama dengan menentangnya dengan cara-cara tidak melihat pada sisi kemanusiaan.

Bentuk-bentuk perselisihan lain antara mahasiswa adalah perilaku-perilaku yang kurang memperlihatkan kesopanan yang didasari oleh tujuan tertentu, mahasiswa sering memperlihatkan perilaku yang kurang baik dihadapan mahasiswa lain yang terlibat konflik tanpa memahami apa yang dirasakan pihak tertentu dari perbuatannya.

Konflik merupakan pertentangan untuk berusaha memenuhi tujuan dengan jalan menentang pihak lawan. Konflik antar mahasiswa didasari oleh satu pihak atau beberapa pihak yang terlibat dalam konflik tersebut baik yang sifatnya sederhana maupun yang struktural. Potensi konflik terjadi manakala terjadi kontak antar manusia, sebagai individu yang terorganisasi dalam kelompok, individu ingin mencari jalan untuk memenuhi tujuannya. (Prof. Dr. Alo Liliweri, M.S, 2005)

Kita mengenal beberapa tipe konflik diantaranya; konflik sederhana, konflik dalam organisasi, konflik berdasarkan sifat, konflik berdasarkan jenis peristiwa dan proses, konflik berdasarkan factor pendorong, konflik berdasarkan jenis ancaman, konflik berdasarkan apa, kapan, dimana ia terjadi, konnflik berdasarkan cara memandang peristiwa atau isu, konflik berdasarkan pemerintah. (Prof. Dr. Alo Liliweri, M.S, 2005)

Dari pernyataan tokoh diatas, konflik yang terjadi antar mahsiswa mencakup semua karena di dalam dinamika kampus tidak jauh berbeda dengan kehidupan bermasyarakat. Yang menjadi perbedaan mendasar adalah dunia kampus dinaungi oleh orang-orang yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan kampus juga di huni oleh orang-orang yang berbagai karakter, ras, suku, budaya dan kepercayaan yang berbeda-beda dan tanpa kecerdasan emosional seiring berjalannya waktu konflik antar mahasiswa akan terus bertambah karena kecerdasan emosional merupakan pengontrol diri untuk memahami diri dan orang-orang disekeliling kita agar tercipta suasana yang harmonis tanpa diskriminasi atau konflik-konflik.

No comments:

Post a Comment